Fiction
Mimpi Retak [7]

17 May 2012


Suatu kali kutemukan diriku terbangun pada sebuah dini hari, dan dia menatapku dengan mata yang begitu dalam. Serupa labirin mata itu, menyimpan banyak hal tak terduga. Ketika menyusuri tatapan itu, serasa tersesat aku di dalamnya.


”Apa yang kau lakukan?” tanyaku, saat dia tak melepaskan tatapannya.

”Aku ingin menjagamu sepanjang malam,” katanya, masih dengan tatap mata yang menyesatkan.

”Mengapa? Adakah sesuatu yang membahayakanku?”

”Tidak ada.”

”Lalu, mengapa harus menjagaku?”

”Bukan bahaya yang kukhawatirkan, lebih dari itu.”

”Apakah itu?”

”Bahwa kau akan menghilang dariku.”

”Aku tidak akan pergi ke mana pun,” kataku meyakinkan. ”Barangkali, justru kau yang akan menghilang dariku.”
Lalu, ada keheningan sesaat. Aku terkejut oleh kalimatku sendiri. Ah, mengapa harus kuucapkan kalimat itu? Kalimat yang mengingatkan pada sesuatu. 

Ya, akan tiba sebuah hari saat sesuatu terjadi. Aku yang akan pergi, atau dia yang menghilang. Atau, dia pergi dan aku menghilang. Ah, apalah bedanya? Maknanya sama saja. Bahwa semua akan berakhir. Sebuah hari akan berhenti. Sesuatu akan selesai.

”Akan tiba hari itu...,” desisku kemudian, menghentikan kehe­ningan. Hening yang terasa sangat pekat, seakan menggumpalkan sesuatu yang tak tercairkan.

”Apa yang harus kulakukan untuk meniadakan hari itu?” tanyanya, seakan ingin mengenyahkan sesuatu yang tidak kami harapkan.

”Entah.” Aku menggeleng tak berdaya.

Lalu hening lagi, dengan kepekatan yang makin menggumpal. Kesenyapan mengapung di segala sudut ruang. Seakan mengam­bang­kan juga harapan-harapan samar yang membayang tipis dalam angan kami. Harapan yang selayaknya tidak kumiliki. Ah, sesungguhnya itu bukanlah harapan, lebih tepatnya adalah angan tipis yang menaburkan imaji-imaji tanpa batas. 

”Bagaimana seandainya aku menginginkanmu?” katanya kemudian, tetap tanpa melepaskan aku dari tatapannya. Mata labirinnya menjebakku, makin menyesatkanku, seakan membuatku kehilang­an arah, mengacaukan kompas penunjuk langkahku.

”Begitukah?” aku berusaha berkelit, sembari mempertahankan kompas penunjuk arahku tetap berfungsi dengan normal.

”Ya.”

”Kau ingin aku menyerah padamu?”

”Sangat ingin. Kau bersedia?”

”Kau tahu apa artinya bila kita lakukan itu?”

”Apa?”

”Artinya, kita akan membayar terlalu mahal untuk perselingkuh­an ini. Aku membayar dengan kesucianku, dan kau mengorbankan kesetiaan keluargamu. Sebuah harga yang tidak sepadan.”

”Apakah itu artinya kau tidak menginginkan aku?” tanyanya. Ada nada gelisah dalam suaranya. Kegelisahan yang tergurat jelas, serupa urat darah di balik kulit ari yang tipis.

Aku terdiam sejurus. Begitupun dirinya. Terbentang keheningan di antara kami. Hening yang dingin, senyap, serupa larut malam yang pekat tanpa cahaya.

”Aku menginginkanmu, tapi takut,” kataku, nyaris tak terdengar.

”Apa yang kau takutkan?”

”Karena, aku pasti tidak akan bisa melepaskanmu dari ingatanku.”

”Sungguhkah?”

”Tidak ada seorang wanita pun di dunia ini yang sanggup melupakan pria pertama baginya,” kataku dengan getar suara yang tak tersembunyikan.

”Kalau begitu izinkan kulakukan itu. Aku ingin berada dalam ingatanmu. Selamanya.”

Tatap matamu lurus menangkapku, tidak menyisakan celah segaris pun untuk menghindar. Kau menenggelamkan aku dalam lorong labirin kerjap matamu. Langkahku makin jauh menyusup dalam labirin itu. Bukan karena tersesat, bukan karena tak berdaya meloloskan diri dari liku labirin, melainkan karena aku ingin menyesatkan diri di dalamnya. Aku telah memilih bahwa aku bersedia tenggelam bersamanya. 

”Genggamlah tanganku, jangan pernah lepaskan aku,” kataku ke­mudian, menyerahkan diri dengan kesadaran penuh. Kesadaran pe­nuh yang membawa segebung keinginan serta hasrat tak terkendali.

Kemudian jemarimu merengkuh­ku, menggenggamku erat de­ngan jalinan yang seakan tak terlepaskan. Tersesatlah kami pada sebuah labi­rin tanpa pintu pelepasan. Tenggelamlah kami pada samudra tanpa dasar. Terperangkap pada larut malam tanpa cahaya.

Hari yang pudar

”Ibu, ada yang harus kukatakan,” kata Orien, menghimpun kekuatan sepenuh daya.

”Mari, duduk dekat Ibu.” Ibu meng­geser duduknya, memberi ruang bagi Orien. ”Lama kita tidak berbincang. Kau sibuk sekali akhir-akhir ini, selalu pulang larut malam.”

Orien ragu menempatkan diri. Sung­guh ingin didekatkannya di­ri pa­da ibunya, mencari pelukan hangat. Tapi, keraguan itu menghadangnya. Ada sesuatu pada dirinya yang tak ter­ungkapkan, yang membentangkan jarak.

”Ada apa, Nak? Apakah kau sakit?” Ibu menatapnya lembut. ”Wajahmu pucat.”

”Aku sehat, Ibu,” Orien menepis kekhawatiran ibunya. ”Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”
Ibu menunggunya.

Orien menarik napas panjang, menata kalimatnya hati-hati. ”Aku akan... menikah.”

Ibu terenyak, segala gerakannya terhenti. Ditatapnya Orien.

”Sungguhkah? Telah kau temukan seseorang itu?”

”Ya.”

”Siapa?”

”Baron,” jawab Orien dengan suara nyaris tak terdengar.

”Ibu belum mengenalnya,” gumam Ibu, menyiratkan keraguan yang tak tersamarkan.

”Dia memang belum pernah datang pada Ibu.”

”Tapi, kau telah memilihnya. Yakin bahwa dia seorang yang tepat?”

Orien mengangguk ”Ya.”

”Baiklah,” kata Ibu tegas, tanpa meninggalkan kelembutan. ” Biarkan dia datang pada Ibu, layaknya seorang pria yang akan meminang anak gadis menjadi istrinya.”

Orien tercekat. Sesaat dicarinya kalimat terbaik untuk meng­ungkapkan sesuatu.

”Tapi, Ibu, dia sudah beristri.”

Serapi apa pun kalimat itu tersusun, seindah apa pun kalimat itu terbungkus, tetaplah mengungkapkan fakta yang pahit. Bahkan getir yang sangat mengejutkan. Lebih dari itu, serupa pisau tajam yang menggoreskan luka.
Ibu terpana, nyaris serupa pohon terhantam badai yang tak terduga. Badai yang tak pernah disangka akan datang.

”Ini tidak layak kau lakukan!” seru Ibu, tajam. Kemarahan meluap jelas di matanya. Bahkan, lebih dari sekadar kemarahan. Murka adalah padanan yang lebih tepat.

Di sudut ruang Orien bersimpuh tak berdaya. Kalimatnya sesungguhnya belum selesai. Dia baru menyampaikan satu hal, ada hal lain yang masih tersimpan. Tapi, seperti sudah diduga, yang satu hal ini sudah cukup untuk meluapkan kemurkaan seorang ibu. Kemurkaan yang selama ini sama sekali tidak pernah dimiliki ibunya. Lalu, apa yang akan terjadi kalau disampaikannya hal kedua? Orien tidak ingin tahu jawabannya. Sama sekali tidak sanggup.

”Ini bukan dirimu!” desis Ibu, berusaha mengendalikan diri.

Kalau bukan diriku, lalu siapa? Orien bertanya tanpa suara. Sesungguhnya itulah aku, Ibu, janin yang kau simpan dalam rongga rahimmu selama sembilan bulan. Kalau di kemudian hari aku menjelma menjadi sosok seperti yang tak kau kenal selama ini, itu hanyalah karena keterbatasanmu sebagai manusia, yang tidak selalu mampu membendung celah yang mungkin terjadi. Selalu akan ada yang lolos dari jangkauan tatap matamu, Ibu. 

Aku bukan lagi janin yang bisa kau lindungi sepenuhnya dalam rahimmu. Tak akan terhindarkan, ketika aku terjangkau tangan-tangan lain yang merenggutku, dan membawaku ke dalam labirin yang kuinginkan.
Tatap mata Ibu bernyala api, tepat menyambar manik mata.

”Tidak ada satu orang pun dalam silsilah keluarga kita yang menjalani poligami. Sekadar niat pun tidak! Tapi, kau, bahkan minta izin untuk menjadi wanita kedua? Apa yang kau ajarkan pada dirimu sendiri hingga kau punya nyali untuk meminta izinku?” 

Orien mematung. Diam serupa batu pualam yang tak mampu menolak untuk ditatah.

”Kau merendahkan keluargamu,” suara Ibu tersendat, kemarah­an yang menguasainya, membawa beban luka penuh darah. ”Lebih dari itu. Sesungguhnya, kau tidak hanya menjatuhkan harga diri seluruh keluarga besar ini, tapi terutama kau menjatuhkan aku. Kemarin, aku adalah ibu yang melahirkan dan mendidikmu, tapi sekarang, dunia akan melihatku sebagai wanita yang tak mampu membangun karakter yang layak untuk keturunannya. Kau membuatku menyesal telah mengalirkan darah untuk melahirkanmu!”

Orien tergugu. Segala semangat yang pernah dimilikinya luruh tak tersisa. Ia telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemarahan Ibunya. Mengira bahwa semangat yang dimilikinya akan cukup mengeliminasi segala akibat kemurkaan yang mungkin timbul. Tapi, Orien melupakan satu hal. Ia tidak pernah siap menampung tetesan darah luka Ibunya. Pendarahan yang dia bawa untuk ibunya kini, ternyata jauh lebih parah dari luka pendarahan yang dialami ibunya ketika melahirkan dulu.

Luka berdarah ibunya membawa Orien pada suatu hal, yaitu bahwa hari telah berhenti baginya. Inilah hari ketika semua pintu tertutup baginya. Tiada kunci meski telah dicari di segala arah. Dia telah kehilangan segala sesuatu. 
Hanya ada satu jalan tersisa, jalan menuju pada sebuah cahaya yang pudar. 


                                                       cerita selanjutnya >>


Penulis: Sanie B. Kuncoro


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?