<< cerita sebelumnya“Tapi, setelah kucoba masuk ke dalam kehidupannya, hanya untuk mengintip sedikit, aku sadar itu bukan kehidupanku lagi. Aku tidak menginginkan kehidupan seperti itu lagi. Aku merasa asing dan merasa selalu berada di luar dunia Jonathan. Dan, apa pun yang dia pikirkan, semuanya tidak dewasa sama sekali, segalanya bersifat temporer. Aku baru sadar betapa polosnya mereka. Betapa bodohnya aku dan kamu dulu.
Lagi-lagi, Sisi hanya mengangguk. Fina juga hanya diam.
“Pada saat itu juga, aku pikir, hubungan yang hanya didasari rasa cinta saja adalah sebuah hubungan yang dangkal dan rapuh. Aku malah merindukan kehidupan yang penuh kepastian, merindukan kerumitan hidup, dan merindukan teman-teman yang ketika bicara membuat telingaku terasa panas. Mungkin, karena pada akhirnya aku merasa, hidup dengan segala keindahan dan kesulitannya, membuat aku merasa lengkap.”
Sisi dan Fina mengangguk, tanda setuju. Aku memang tak pernah puas bicara dengan mereka. Aku menginginkan sebuah kritik, bahkan kalau perlu sebuah perdebatan sengit.
Aku kembali terdiam, memikirkan ucapanku tadi.
Mendadak, pandangan kami tertuju pada seorang pria berwajah tampan, yang terlihat sangat kelelahan setelah bekerja seharian. Ia duduk di bangku peron dekat kami.
“Kamu melihat apa yang aku lihat?” tanyaku, berbisik.
Sisi dan Fina tertawa lebar, sambil melirik ke arahku.
Hari-hariku kini tanpa Jonathan. Paling tidak, nyaris tanpa dia. Aku lebih sering mengobrol dengan Sisi dan Fina, seperti dulu. Dalam perjalanan di kereta, kami membicarakan tingkah lucu yang dilakukan para penghuni gerbong kereta. Kami juga mencaci pria-pria dalam kehidupan kami termasuk cerita fiksi tentang ‘Jon’ yang jadi kenyataan.
Aku baru mendengar cerita baru dari teman-teman kantorku. Ade, yang menjadi inspirasi tokoh ‘Jon’ itu, memang pernah secara langsung, tanpa meminta izin padaku, mengaku pada Mas Adit, rekan kami sekantor, bahwa aku adalah kekasihnya. Entah apa maksudnya. Mungkin, ia suka padaku. Tentu saja, karena berita dari bibirnya sendiri, semua orang pada akhirnya melihat kami sebagai sepasang kekasih.
Aku merasa kesal, sekaligus senang. Membuatku percaya bahwa Ade, yang telah memiliki kekasih, benar-benar menyukaiku. Itu membuatku sangat rela untuk memberikan pertolongan-pertolongan kecil yang selalu ia butuhkan. Hingga akhirnya ia tahu keadaan sederhana keluargaku. Akhirnya, aku tak sadar, mengapa ia mau ditempatkan di Makassar, yang sebelumnya ia tolak mentah-mentah. Bodohnya aku.
Ia tinggal di rumah kosong milik kekasihnya di sana. Lalu, ia pindah rumah dan menyewa kamar kos dengan biaya sendiri. Mungkin, ia malu karena terlalu terlihat mendompleng. Tak lama, ia menikahi kekasih kayanya itu, mengundurkan diri dari perusahaan kami, menghilang dari kehidupanku, tanpa memberi kabar berita. Lalu, tiba-tiba ia muncul lagi dengan memperdengarkan suara dan kata-kata gombal ala salesman melalui telepon, untuk minta tolong menagih surat referensi pada departemen personalia. Dia telah memanfaatkan aku. Bodohnya aku.
Jadi, sebenarnya, ceritaku dulu tidak terlalu fiksi. Mungkin, hanya memberikan pelajaran berharga padaku untuk tidak banyak membual, yang pada akhirnya menjadi kenyataan pahit, yang sama persis dengan cerita fiksiku. Tuhan benar-benar mendengarkan ucapanku saat itu rupanya. Padahal, itu bukan doa. Tapi, mungkin, Tuhan terlalu tahu betapa aku menginginkan sebuah cerita cinta dalam hidup, termasuk pelangi dan kerikil tajam di dalamnya.
“Young, kamu tidak sadar bahwa sebenarnya sudah berpacaran dengan Jon?” tanya Mira.
“Tidak seratus persen. Tapi, kadang-kadang aku merasa begitu,” jawabku, yang sedikit terkejut mendengar ucapan Mira.
“Tapi, hubungan kamu dengan anak itu sudah selesai, ’kan? Jangan terlalu lama menempatkan diri dalam posisi nyaman dan semu seperti itu. Hadapi saja yang sekarang ada di depan kamu. Jangan lari terus!” kata Mira, sok tahu.
“Aku selalu menghadapi masalah-masalahku,” jawabku dengan sedikit nada ragu.
“Ya. Tapi, mungkin kamu sedikit egois karena menjadikan dirimu itu sebagai pusat dari segala masalahmu yang lebih berat. Sesekali, kamu harus lihat ke sekeliling.”
“Aku egois?”
“Aku tidak pernah mengerti masalahmu. Tapi, apa pun itu, jangan berlama-lama memikirkan hal yang bukan prioritaslah. Karena, inti menjadi dewasa adalah menempatkan diri sebagai orang yang tahu benar tentang hal-hal yang ingin dituju dan menjadikannya sebagai prioritas utama,” sambung Mira, sok bijaksana.
“Masalahnya adalah apakah aku pernah ingin dan memilih jadi dewasa?” tanyaku, santai.
Tapi, rupanya, jawabanku mengejutkan Mira.
“Ya, itu hidup kamu. Hanya kamu yang tahu. Kamu pula yang menjalankannya. Sekarang ini, kita tidak lagi hidup untuk orang lain. Berpacaran dengan pria paling pintar, hanya agar terlihat keren. Bergaul dengan komunitas religius agar terlihat sebagai perempuan baik-baik. Rasanya, itu sama sekali bukan diriku.”
“Apakah kamu pikir selama ini aku hidup untuk orang lain?” tanyaku, sedikit kesal.
Mira bingung mendengar jawabanku yang mengandung banyak emosi, seolah aku marah padanya. Mungkin ya, mungkin juga tidak. Yang jelas, aku hanya marah pada orang sok tahu, yang sering meragukan aku. Keraguan itu begitu kuatnya hingga secara perlahan mendorongku untuk ikut meragukan diri sendiri. Begitu marah pada nasib yang sering kurasakan sangat mempermainkan aku dalam masalah percintaan. Marah karena pria-pria berengsek masuk dalam kehidupanku begitu saja, tanpa kuundang, dan akhirnya meninggalkanku, seperti seonggok sampah. Mungkin, aku juga marah karena tak juga mendapat cinta yang kuinginkan.
Jadi, mungkin, sederhana saja alasan mengapa aku bisa merasa nyaman bersama Jonathan. Karena, ia membuatku merasa disukai, dan merasa yakin bahwa aku cukup pantas mendapatkan kasih sayang dari seorang pria.
“Mungkin, ini cuma masalah kesabaran. Meski kamu tidak meminta, kenyataannya, sekarang kamu hidup dengan banyak masalah, seperti aku juga. Dan, mau tidak mau, kita membutuhkan sikap dewasa untuk menghadapi itu semua, Young,” sambung Mira.
Aku kembali dalam situasi tenang ketika mendengar ucapan terakhir Mira itu. Akhirnya, aku hanya melemparkan senyum, seolah aku tadi sedang bercanda, tak serius sama sekali. Mira pun merasa lega melihat senyumku.
Namun, hei, mungkin, situasi panas dan sedikit serius seperti yang baru saja terjadi, adalah situasi yang kini kuinginkan. Rasanya senang bisa memberikan perlawanan, sekaligus menjawab tantangan dalam pertikaian kecil setiap kali bertemu. Seperti sebuah proses untuk mengenal masalah dan mencari cara untuk menyelesaikannya.
Mungkin, aku terbiasa dengan itu semua. Mungkin, ini memang dunia nyamanku yang sekarang. Mungkin, aku memang suka setiap kali Mira mengingatkan bahwa aku dan dirinya hanya manusia tak sempurna.
Entahlah. Tapi, pada akhirnya aku memang berterima kasih akan semua protes, kritik, dan kesoktahuan Mira akan diriku, yang membuatku selalu merasa kesal dan jadi ingin membuktikan diri. Ia, dan mungkin terutama Jonathan, memberikan sumbangan besar dalam membantuku menyelesaikan masalah penasaran, yang terpendam selama bertahun-tahun. Rasa penasaran akan sebuah masa, yang benar-benar hanya akan mengisi lembaran lama. Lembaran yang kelak hanya akan kubuka sesekali saja, hanya untuk dikenang, tanpa mau lagi terlibat di dalamnya.
Dalam waktu beberapa menit aku beradu argumen, sebentar kemudian bergosip, lalu meratapi nasib hidup, berdebat mengenai banyak perundangan-undangan ‘ajaib’ di negeri ini, dan akhirnya membahas karier berbeda yang kami pilih dalam hidup. Mira lebih suka menjadi peneliti yang mampu menampung pikiran kritis dan idealisnya, sedangkan aku lebih suka bekerja kantoran secara rutin.
Kehidupan seperti itu mungkin membosankan dan sedikit memiliki variasi warna. Tapi, memang itulah kehidupan di usiaku yang sesungguhnya dan secara jujur aku menginginkannya. Seharusnya, aku merasa lega memiliki teman paling pintar, jujur, dan selalu bicara apa adanya, seperti Mira. Seharusnya, aku sudah merasa lengkap dengan keberadaan Sisi sebagai teman yang sangat ceria, ramah, berpikiran sederhana tanpa pendidikan yang terlalu tinggi, dan menjalankan kehidupan apa adanya. Seharusnya, aku merasa bersyukur bahwa secara fisik aku tak kurang suatu apa pun. Cukup bisa menarik beberapa pria, walau hanya untuk menoleh beberapa saat ke arahku. Termasuk, pria muda seusia Jonathan.
Akan ujian. Jadinya, sibuk belajar. Begitu isi SMS Jonathan.
Belajar yang benar, ya. Semoga sukses. Itu adalah jawaban terakhirku untuk Jonathan. Tak ingin lagi kudengar kabar darinya. Dan, selama 6 bulan terakhir ini, aku berhasil menahan diri untuk tidak menghubunginya.
Ya, aku kembali menjadi diriku, menjalani segala rutinitas harian, tanpa berpikir neko-neko. Aku juga bersyukur karena Jonathan sempat hadir dalam hidupku, menjadi cermin dan tempat menumpahkan kegundahanku di masa lalu, yang belum pernah kuselesaikan.
Aku sudah selesai mengatasi kegelisahan yang timbul karena perasaan jenuh akan rutinitas hidup, yang berbulan-bulan menyerangku secara bertubi-tubi. Aku juga tak lagi merasa resah karena belum menemukan pangeranku yang menunggang kuda putih. Aku yakin, suatu hari, pangeranku pasti akan datang. Pasti. Meski tak tahu kapan.
(Tamat)
Penulis: Marisa Agustina


