Fiction
Kekasih Jiwa [8]

19 Mar 2012

<< Cerita Sebelumnya

Indra mendapati apartemennya bersih sekali. Dia membuka kulkas dan isinya penuh dengan buah-buahan. Indra me-ngambil sebuah jeruk, menimbangnya dan meletakkannya kembali. Bagaimana kalau ada racunnya?

Tiba-tiba dia merasa lapar sekali. Indra mengangkat telepon untuk memesan makanan, tapi diurungkannya. Indra keluar apartemen dan menuju kantin di lantai atas apartemennya. Hari itu kantin cukup ramai oleh orang yang menikmati makan malam. Indra mengelilingi seluruh ruangan, mengintip menu di balik lemari kaca, memesan, lalu duduk di sebuah meja yang sudah terisi oleh anak muda.

“Kelihatannya enak sekali,” kata Indra, sambil tersenyum.

“Ya. Mamaku tidak masak. Jadi....”

“Kau lapar sekali, ya? Makanmu terburu-buru sekali.”

“Ya, Kak, saya memang lapar sekali.” Pemuda kecil itu tertawa. “Kakak mau makan juga?”

“Itu pesananku datang.”

Indra menerima piring burger spesial dengan kentang goreng dan irisan keju, yang menimbulkan aroma menggoda. Pemuda itu memandang burger-nya, sambil menelan ludah.

“Kau mau?” Indra tersenyum.

“Kelihatannya enak. Tapi, Mama menyuruhku makan nasi goreng.”

“Di sini tidak ada mamamu, ‘kan?” Indra tersenyum sambil berbisik. “Kakak lupa sedang diet keju. Bagaimana kalau kita tukar ma-kanannya?”

“Nasi gorengku kan tinggal separuh, Kak?”

“Tidak apa-apa. Aku minta kentangnya sedikit saja.”

Indra menukar piringnya. Mengangsurkan gelas soft drink-nya dan meneguk teh manis anak itu.

Anak itu melahap burger dengan semangat, Indra melihatnya de-ngan perasaan tak keruan. Mungkin, aku terlalu paranoid dengan racun.

“Enak sekali. Terima kasih. Kakak tidak makan?”

Indra menyendok nasi goreng sisa anak tadi sambil berpikir, hanya dengan begini aku bisa terhindar dari mati konyol. Tapi, mungkin akan mati karena kuman dari orang yang memberikan sisa makanannya padaku.

Indra masuk kantor pagi sekali. Dia meletakkan semua pekerjaan yang sudah diselesaikannya di meja Saskia. Kalau tidak sa-lah, dia pulang siang ini. Indra masuk kembali ke ruangan kantor-nya dan berhenti sejenak di depan ruangan Dewa yang sudah terisi orang lain.

Ia menarik napas panjang dan membuka pintu ruangannya. Dia berusaha bekerja setenang mungkin. Kantor ini sangat ketat dalam menjaga keamanan. Hampir di setiap pintu masuk, ada petugas keamanan. Pram, pemilik perusahaan ini, sangat menjaga privasinya.

Tiba-tiba Indra merasa sepi sekali. “Semua orang yang dekat denganku celaka,” pikirnya sedih. Indra ingin sekali menangis. Tenggorokannya terasa makin sakit, ketika air matanya tidak mau keluar.

“Selamat pagi Bu Indra. Ini surat untuk Ibu dan....” Susi, sekretaris direksi, masuk dengan sopan.

“Terima kasih, Sus.” Indra menerima suratnya. “Kau makan apa?”

“Roti bakar, nih. ” Susi mengangkat roti bakarnya yang tinggal separuh.

“Untuk aku saja, ya. Aku lapar sekali.” Indra menyambar roti bakar dengan cepat.

“Ya, ampun..., biar saya minta Mas Juri membuatkan lagi untuk Ibu.”

“Tidak usah, ini sudah cukup.”

Indra menelan roti dengan cepat. “Terima kasih, ya.”

“Sama-sama.”

“Sus!” Indra menghentikan langkah Susi. “Apa bu Saskia sudah datang?”

“Ibu belum tahu beritanya?” Susi memandang aneh.

“Berita apa?” Indra menatap bingung.

“Bu Saskia kecelakaan di Malaysia kemarin pagi. Sore ini mau dibawa ke Jakarta untuk dirawat di sini saja. Itu pun kalau keadaannya sudah stabil.”

“Astaga.” Indra duduk dengan  lemas.

Jadi siapa yang meneleponku kemarin di hotel?

“Siapa yang ada di sana sekarang?”

“Pak Renouv. Mau saya sambungkan?”

Kenapa Renouv? Bukankah Saskia itu bermusuhan denganya?

“Tidak usah, Sus, nanti saja saya telepon sendiri.”

Indra membiarkan Susi keluar dari ruangannya. Hatinya makin tidak keruan. Kalau saja ada satu orang yang bisa dihubungkan dengan semua kejadian ini.

Tadinya Indra yakin sekali bahwa Saskia terlibat dengan semua kejadian ini. Sejak awal, Saskia, teman kuliahnya, yang menawarkan pindah kerja ke kantornya. askia membuatnya percaya untuk menceritakan kenapa Indra tak mempunyai pacar selama be-kerja bersamanya. Dan, Saskia datang membawa banyak berita tentang kesuksesan Leo setelah Leo menikah. Seluruh kehidupan Leo yang seperti selebriti selalu diantarkan Saskia untuk Indra setiap hari.

Hanya Saskia yang tahu bahwa dia akan makan siang dengan Dewa. Hanya, Indra tidak memberi tahu di mana dia menginap. Tetapi, Saskia tahu betul jam berapa dia bertemu para klien, kare-na Saskia memintanya untuk terus melapor, setiap kali pertemuan de­ngan klien usai. Hanya Saskia yang tahu siapa dirinya di mata Leo.

Bagaimana mungkin Saskia juga menjadi korban? Semua orang yang terhubung dengannya celaka....

Indra panik. Di mana Leo? Indra melihat ponselnya berkedip-kedip, lalu membuka flip-nya. ‘Saya tunggu di minimarket basement, jam sebelas tepat. Hrs.’

Astaga... itu enam menit lagi. Indra mengemasi barangnya dan keluar ruangan dengan tergesa. Suasana kantor, entah mengapa, dirasa sangat mencekam. Mungkin, karena peristiwa Saskia yang masih belum jelas keadaannya. Atau, memang setiap hari sepi se­perti ini. Atau, perasaannya saja.

“Sus, bilang pada bosmu, aku ke studio.”

“Kalau begitu, bisa tolong titip berkas ini untuk Sandra, manajer studio, Bu. Saya harus jaga markas, karena semua orang ‘terbang’.”

“Okay.”

Indra turun cepat dan menuju parkir bawah. Satu lantai ke bawah lagi akan sampai di minimarket.

“Naik ke mobil, cepat!” Haris meneleponnya.

Sebuah mobil dengan kaca cukup gelap menghampirinya perlahan. Indra masuk, duduk dengan gemetar. Haris duduk di sam­pingnya dengan wajah yang terlihat tegang.

“Di mana Leo?” itu pertanyaan pertama yang muncul di kepala Indra.

“Pak Leo aman.” Haris menjawab dengan tenang. “Maaf, keadaan tidak terkendali.”

“Ada apa sebenarnya?” Indra menyandar dengan lesu. “Ceritakan, tolong.”

“Mereka memancing Pak Leo untuk keluar. Karena Bu Anne dan anaknya di luar negeri, mereka memancingnya dengan berusaha mencelakai Bu Indra.”

“Siapa mereka?”

“Itu yang sedang kami selidiki.”

“Kami siapa?”

“Saya dan kru.”

“Kamu dan kru apa?” Indra ingin sekali berteriak.

“Anggap saja kami satuan yang bertugas menyelidiki hal-hal yang mencurigakan. Pak Leo tidak membunuh siapa pun. Orang-orang ini sangat rapi. Bahkan, kami juga tidak tahu siapa yang membunuh orang yang mengeroyok Pak Leo. Motifnya belum jelas.”

“Apa hubungannya dengan saya?”

“Mereka tahu segalanya. Mereka tahu Pak Leo sangat menya­yangi Ibu, sekalipun Ibu tidak pernah bertemu Pak Leo, setelah Pak Leo menikah. Menurut dugaan kami, mungkin ada orang terdekat Pak Leo yang terlibat.”

“Kapan mereka berhenti mengejar saya?” Indra menelan ludahnya. Setiap hari dia harus berjuang sendiri agar masih bisa bernapas.

“Kami akan terus melindungi Ibu,” Haris menjawab dengan tidak meyakinkan.

“Kalau bukan karena ada orang lain yang menyerobot taksiku.”

“Kami sudah mengaturnya, Bu.” Haris menahan napas. “Yang menyerobot taksi Ibu adalah orang kami. Di detik terakhir, kami tahu ada bom di dalam taksi dan tak cukup waktu untuk meng­hentikannya, sehingga harus ada orang yang menggantikan Ibu.”

“Ya, ampun....” Indra merasa tulang-tulangnya remuk. “Kita mau ke mana?”

“Mencarikan tempat aman untuk Ibu. Malam ini akan ada lagi percobaan pembunuhan pada Bu Indra.”

“Astaga....”

“Sebenarnya kami ingin membuat jebakan.” Haris meminggirkan mobilnya. “Kalau Ibu setuju.”

“Aku? Maksudmu aku jadi umpan? Gila apa?!”

Beruntung aku masih hidup.

“Tidak apa-apa, kalau Ibu tidak mau. Kami sangat mengerti ba-gaimana perasaan Ibu.” Haris mulai menjalankan mobilnya. “Kami akan tetap mencari cara untuk....”

“Apakah ini akan menyelamatkan Leo?”

“Tidak, hanya akan menghentikan korban-korban lain yang ada di dekat Ibu.”

“Bagaimana rencana kalian?”

“Kami tidak mau memaksa Ibu. Kepanikan adalah penyebab pertama kematian.”

“Aku bersedia,” Indra menyerah. “Setelah kamu memberi ma-kanan padaku. Aku lapar sekali.”

Indra meneguk air mineral dari botol yang diangsurkan Haris. Haris hanya mengangguk dan membelokkan mobil ke arah sebuah gedung salon dan bridal, langsung menuju parkir basement.

“Kita turun.” Haris membuka pintu dan dengan cepat Indra mengikutinya. “Tinggalkan ponselmu di mobil.”

Indra menurut  dan melempar ponselnya di jok belakang.

Mereka naik ke tangga dan membuka pintu belakang. Haris menekankan ibu jarinya dan menggesekkan kartunya. Pintu itu terbuka dan seorang berpakaian seperti tentara menghormat ala militer. Haris melakukan hal yang sama di pintu kedua dan ketiga, lalu mereka masuk ke sebuah ruangan kantor yang sangat luas. Penuh dengan komputer dan layar lebar serta banyak peralatan lain yang Indra tidak tahu namanya. Seperti dalam film-film detektif dan semacamnya.

“Guys, ini Ibu Indra.”

Haris membuat seluruh orang di ruangan mengangguk pada Indra, sambil memandang kasihan. Lalu, Haris membawa Indra masuk sebuah pintu lain. Indra berhenti sebentar, lalu berkata, “Panggil Indra saja.”

“Kau bisa istirahat dulu. Kami akan mengantar makanan sebentar lagi. Itu pintu ke kamar tidur yang akan kau pakai tidur malam ini.”

“Kalau masih hidup,” Indra menggumam, lalu duduk di sofa yang nyaman. Ia merasa sangat letih dan lapar. Sudah dua hari ini ia hanya makan sisa nasi goreng dan sepotong kecil roti bakar, meminum kopi sisa Susi, dan setengah air putih bekas tamu kantornya.

“Nah, setelah kau makan, kita akan segera membicarakan rencana nanti malam.”

Indra mendengarkan saja semua rencana Haris dan temannya. Toh, aku memang sudah mati.... Sejak Leo menikahi Anne, setengah jiwaku sudah mati.


Penulis: Lie Phan



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?