Bahwa ini adalah kota kecil, aku tahu. Orang selalu bilang bahwa kota kecil membuat orang dengan gampang saling bertemu. Tapi, tetap saja aku tidak menyangka sama sekali akan bertemu dengan Melia, atau siapa pun orang lain dari masa laluku secepat ini. Padahal, aku baru saja sampai di sini kemarin. Pagi ini aku sedang berbelanja bahan makanan di minimarket kecil, ketika seseorang menepuk bahuku. Butuh waktu lebih dari dua puluh detik untuk akhirnya mengenali wanita itu. Padahal, dia sudah menyebutkan namaku, ketika aku membalikkan badan ke arahnya tadi.“Melia, ’kan?”
Dia tersenyum mengangguk. “Kupikir, aku keburu menjadi patung sebelum kau dapat mengingatku.”
“Tentu saja tidak!”
Kupeluk dia. Senang sekali rasanya bertemu dengan teman lama. Apalagi, aku sudah lima belas tahun pergi dari kota ini, sejak lulus SMA dulu.
“Sedang apa kau di sini, Ros?”
“Berbelanja sepertimu.”
Dia terkekeh. Kami memang sama-sama sedang menenteng tas keranjang plastik yang penuh berisi aneka macam barang, dari mi instan sampai pembalut wanita. Cuma bedanya, keranjang Melia berwarna merah, sedang yang ada di tanganku biru.
“Bukan itu maksudku, Nyonya! Maksudku, apa yang kau lakukan di kota kecil ini? Adakah hal penting yang membuatmu meninggalkan kota metropolis itu?”
Ah, Lia, tentu kau tidak tahu bahwa itu jenis pertanyaan yang aku tidak suka saat ini.
“Yaaa... bisa dikatakan semacam liburan. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau juga warga kota metropolitan yang lain? Bahkan, lebih metropolis daripada yang kutinggali, aku rasa.”
“Ha...ha...ha... kau salah, Ros, aku sudah kembali menjadi bagian dari kota kecil ini sejak hampir empat tahun yang lalu. Waktu itu ayahku meninggal. Kau tahu kan, semua kakakku sudah keluar dari rumah dan bertebaran di seluruh Indonesia. Jadi, kupikir saatnya menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Singkat cerita, delapan bulan setelah ayahku meninggal, aku mendapatkan kembali KTP yang dulu pernah aku lepaskan.”
“Sejak empat tahun yang lalu? Kau tinggalkan kariermu?”
Lagi-lagi dia tertawa. “Kalau yang kau maksud adalah karier kantoran, memang iya. Tapi, aku tetap bisa menjadi penulis di sini. Mengetik bisa di mana saja, ’kan?”
“Ah, aku lupa bahwa kau penulis. Terkenal pula.”
Dia tertawa lagi. ”Jadi, bagaimana kabarmu?”
“Baik, semuanya baik.”
Wajah Arman muncul sekilas di mataku. Ya, Arman, aku memang sedang berbohong sekarang.
“Berapa anakmu?”
“Belum ada.”
”Oh, ya? Kenapa? Sengaja menundanya. Karena sayang karier barangkali?”
“Tidak, Lia, memang karena belum ada. Lagi pula, aku sudah tidak berkarier sejak dua tahun yang lalu.”
“Oh, maaf. Tapi, aku tidak melihat kau menyesalinya. Jadi, berarti semuanya baik-baik saja. Benar, ’kan?”
“Ah, sudahlah, daripada sibuk mengobservasi hidupku, lebih baik kita pergi makan siang bersama. Aku tidak punya teman makan di rumah. Jadi, kau harus menemaniku.”
Melia tertawa.
“Ros, ini masih pukul sepuluh pagi, belum waktunya makan siang!”
“Kau sedang berdiet?”
Dia menggeleng.
“Lalu, apa salahnya makan siang sekarang?”
“Okay! Mari kutunjukkan warung makan yang enak di sini. Kau masih ingat rasanya nasi lodo? Ah, kau pasti tidak ingat lagi. Ayo, Nyonya, kutunjukkan makanan khas kota kecilku ini!”
Dia menyeretku ke arah kasir.
Di tempat parkir dia menyuruhku untuk selalu mengikuti mobilnya. Ternyata, dia mengajakku ke sebuah warung makan yang biasa saja, walau menurutnya makanannya luar biasa.
“Ini pembuat lodo terenak. Kau masih ingat apa itu lodo?” Melia tersenyum menggodaku.
Mungkin, baginya, aku adalah orang kampung yang melupakan kampung halamannya sendiri. Tapi, aslinya aku memang tidak tahu persis beda antara lodo dengan kare. Keduanya sama-sama bersantan dan menggunakan ayam. Di mataku, bedanya cuma lodo kuahnya sedikit kehijauan dan ada rasa pedasnya sedikit, sedangkan kare sangat kuning. Itu saja.
Kuakui makanan ini memang terasa enak sekali di mulutku. Entah karena memang enak, atau karena dari semalam perutku memang belum terisi apa pun, kecuali segelas sereal.
“Jadi, lodo ini yang bersekongkol dengan ibumu sehingga berhasil memanggilmu pulang dan kemudian mengikatmu di sini?”
“Ehm... tidak spesifik seperti itu, walau aku memang selalu kangen pada makanan ini. Ini menu favorit keluargaku. Di Jakarta, kota tempat bermacam suku se-Indonesia bercampur baur itu, tak dapat kutemukan makanan ini. Jadi, ya, rasanya menyenangkan juga bisa pulang.”
“Tidak merasa kehilangan banyak hal? Suasana kantor, persaingan, dinamika, dan deadline, misalnya?”
“Pasti! Awalnya semuanya terasa aneh, ketika keluar rumah dan mendapati lalu lintas lancar sepanjang hari. Aneh, karena tidak ada rapat-rapat redaksi dan kejar-kejaran deadline. Aneh, karena tidak ada teman-teman yang mengajak dan diajak hangout di kafe. Mereka yang biasanya nyata, sekarang jadi maya. Juga aneh, karena tidak ada mal yang bisa dikelilingi di hari Minggu, walaupun sebenarnya aku termasuk yang tidak suka ke mal. Tapi, ternyata hal sederhana seperti masalah mal itu, bisa membuatku merasa kehilangan.”
Tentu saja akan terasa kehilangan besar seperti itu. Perubahan dari hidup yang hiruk-pikuk menjadi lebih melambat, bukannya tidak perlu proses adaptasi. Aku saja semalam sempat susah tidur, karena berada di rumah yang sudah lama tak kutinggali. Semuanya terasa agak aneh, padahal rumah itu adalah rumah peninggalan orang tuaku, yang pernah menjadi habitatku bertahun-tahun lalu sebelum aku kuliah, bekerja, dan menikah dengan Arman.
“Tapi, semuanya terasa menyenangkan juga akhirnya. Apalagi, aku, toh, masih bisa main-main ke Jakarta kapan saja, asal ada uang tentu saja. Kadang-kadang ada juga teman yang sudi menengok. Sekarang ketemu kau pula. Berapa lama kau tinggal?”
“Ehm... mungkin dua atau tiga minggu. Mungkin juga bisa lebih. Aku belum tahu.”
Kelihatannya Melia bisa merasakan ada sesuatu yang di balik jawabanku itu. Aku harap dia tidak mengorek.
“Bagus, aku punya tambahan teman kalau begitu.”
“Jadi, makin produktif menulis? Proses kreatif lebih lancar?”
“Yaaa... karena tidak ada lagi yang memberi gaji tetap, maka harus lebih tinggi produktivitasnya. Kau sendiri apa yang kau kerjakan sekarang? Selain jadi ibu rumah tangga tentunya.”
Ah... dalam dua tahun ini aku tidak mengerjakan apa-apa, selain mengurus rumah, berbelanja, memasak, dan menunggu Arman pulang kantor.
“Tidak banyak. Karena itu, aku berencana kembali bekerja.”
Kening temanku berkerut. “Kenapa? Bukankah menjadi ibu rumah tangga itu pekerjaan mulia?”
”Dua tahun yang lalu aku berhenti bekerja, karena kecapekan membuatku susah hamil. Tapi, sampai sekarang belum juga ada anak. Rasanya, sepi di rumah seharian. Lama-kelamaan pusing juga. Aku akan kembali bekerja, tapi mungkin tidak seperti dulu. Aku kepingin punya anak, Arman juga. Jadi, tidak bisa terlalu ngoyo seperti dulu-dulu. Ha...ha...ha... tidak profesional, ya?”
“Jadi, tidak menolak, jika ada yang memberi order freelance, ’kan?”
“Tentu saja.”
Sebenarnya bekerja secara freelance lebih menyenangkan. Jika saja semua berjalan baik, tentu aku lebih suka bekerja freelance daripada kembali ke kantor.
“Bagaimana kalau kau yang kerjakan desain sampul novel baruku?”
Aku nyaris tersedak. “Benarkah?”
“Seharusnya aku yang bertanya padamu, apakah setelah vakum selama dua tahun, kau masih ingat akan ilmu desainmu? Ha...ha...ha....”
“Hei, tentu saja aku ingat! Kau serius?”
“Tentu saja. Bagaimana kalau setelah ini kau mampir ke tempatku? Akan kuberi kau satu copy naskah novelku. Sebenarnya masih perlu sedikit revisi, tapi tak akan banyak pengaruhnya. Jadi, kau memang mau menerimanya?”
“Boleh.”
”Kau bawa peralatan perangmu, ’kan?”
“Peralatan perang?”
“Notebook, pensil, kertas, ilmu, otak, dan seterusnya.”
“Tentu.”
Penulis: Ina B. Alasta


