Fiction
Jas Putih [6]

10 Sep 2012

<< cerita sebelumnya

”TIDAK SEMUA PEREMPUAN
terlahir sebagai seorang ibu. Apalagi seorang ibu lemah lembut yang digambarkan oleh semua orang.” Melly mengembuskan asap rokoknya dengan keras. Revo hanya terdiam di depannya. Ia hanya menghirup pelan-pelan es lemon tea-nya dengan wajah gelisah. Kay menyantap kue di depannya untuk menyibukkan diri.

”Aku bukan perempuan itu. Aku seorang perempuan yang mencintai pekerjaan. Aku perempuan yang rasanya begitu judes dan pemarah. Anak-anak tidak akan menyukaiku. Bahkan mungkin mereka akan benci setengah mati pada ibunya.”

”Mungkin nggak separah itu, Mel. Tidak ada ibu yang sempurna, tapi mereka tetap seorang ibu. Anak-anak mereka pasti bisa memahami kekurangan ibunya.”
”Kamu pun belum pernah menjadi seorang ibu, Kay. Dan ibumu sempurna. Kamu tidak bisa memahami, bila ada seorang ibu yang buruk.”

”Ibuku nggak sempurna, Mel. Waktu kecil aku juga sering merengek karena beliau terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi, aku memahami bahwa dia ibu yang baik dan mengasihiku.”

”Masalahnya adalah aku hanya tidak ingin mempunyai anak untuk saat ini. Itu saja. Dan Revo tidak keberatan, bahkan dia sependapat denganku.”
Revo hanya tercenung, seolah-olah suara begitu sulit keluar dari mulutnya.
”Keluarga besarku dan keluarga besar Revo menganggap pikiran Melly ini aneh dan sama sekali tidak bisa diterima.”

”Kami berdua merokok. Gaya hidup kami tidak sehat. Begadang sampai tengah malam dan bangun menjelang tengah hari. Anak mana yang bisa menerima gaya hidup macam itu. Gaya hidup kami tidak ramah untuk anak-anak. Mereka bisa kurus kering di tengah-tengah kami, Kay. Bukankah pemikiranku ini pemikiran orang yang peka. Lagi pula, setelah anak-anak lahir ke dunia, apakah kami bisa menitipkannya pada orang lain, kalau kami tidak menyukainya. Tidak, ’kan? Bisa-bisa kami dibilang orang tua durhaka,” Melly berbicara dengan menggebu-gebu.
”Aku bisa memahami pemikiranmu.”

”Kata ibuku, seorang anak akan membuat kami jatuh cinta dan mengubah gaya hidup kami. Mungkin betul. Suatu saat kami mungkin akan memiliki seorang anak. Tapi, suatu saat, bukan sekarang.”

Melly mengenang masa kecilnya. Kedua orang tuanya bekerja. Papanya seorang manajer bank dan mamanya seorang guru. Mamanya tidak terlalu sibuk sebenarnya, namun ia selalu terlihat sibuk dengan segudang kegiatan tambahan, seperti arisan dan bertemu dengan teman-temannya. Melly selalu merasa kedua orang tuanya tidak menginginkannya.

Melly selalu ingat wajah mamanya yang gemas dengan kenakalan Melly. Wajah marah, wajah naik pitam, dan wajah terganggu. Melly selalu merasa ia hanya menjadi sumber kejengkelan bagi Mama dan Papa. Dan Melly menghabiskan sebagian besar waktunya dengan pembantu yang terasa lebih sebagai keluarganya. Mbak Ima yang paling mengetahui apa yang terjadi pada Melly sejak kecil hingga ia remaja. Ini yang membuat Melly tidak terlalu berminat untuk mempunyai anak.
Melly merasa ia terlampau egois. Ia terlampau mencintai dirinya sendiri, dan sulit membaginya kepada seorang bocah yang lahir dari rahimnya. Ibunya merasa pemikiran itu aneh.

”Orang tua itu bukan dewa, Kay. Mereka itu manusia biasa. Karena itu, membuat pilihan adalah salah satu yang boleh dilakukan manusia. Kadang-kadang aku sering berpikir,   jika kedua orang tuaku menasihati, tidak selalu untuk kepentinganku saja, namun juga untuk memuaskan mereka. Aku selalu berpikir, Mama selalu mendorongku untuk berprestasi bukan hanya untuk aku, namun untuk kebanggaannya sendiri.”
”Ah, itu terlalu berlebihan, Mel. Apa kamu mau mamamu tidak peduli kau berhasil atau tidak?”
”Mungkin aku berlebihan. Tapi, ya, itu tadi, Kay, orang tua bukan malaikat. Mereka tidak boleh menganggap diri mereka sebagai malaikat yang sudah berkorban segalanya untuk anak mereka. ”
”Kalau soal itu, aku setuju.”
”Aku hanya akan mempunyai anak, jika aku merasa siap untuk mencintainya dengan sepenuh hati. Aku tidak akan melahirkan anakku   untuk aku abaikan karena aku terlampau sibuk.”
Kay terdiam, namun ia mengakui kebenaran kata-kata Melly. Banyak orang tua melahirkan anak-anak mereka tanpa persiapan untuk mencintai mereka.

YAMA DUDUK DENGAN TENANG di kantin Rumah Sakit Permata Bunda. Rumah sakit yang menyenangkan. Lantai marmer yang licin dan beraroma lavender. Makan siang adalah saat yang selalu dinantikan Yama. Makan siang adalah waktu yang sempurna untuk mengistirahatkan otaknya dari diagnosis dan memilih obat. Yama memesan sepiring spaghetti dengan saus keju. Yama amat menyukai masakan Eropa. Rasanya sangat pas di lidah. Yama tidak suka makanan pedas.

Mengeluh tentang pekerjaan itu hal normal saja. Semua orang mengeluh tentang pekerjaannya. Bacalah keluhan teman-temannya di facebook tentang betapa bosannya mereka dengan pekerjaan dan betapa inginnya mereka cepat pulang dan beristirahat. Yama memang seorang dokter. Tapi, ia manusia biasa juga. Pekerjaan yang menumpuk kadangkala membuat pikiran sumpek.
   
Yama tidak punya masalah dengan pekerjaannya. Pekerjaannya mudah. Kecerdasan otaknya mampu menganalisis dan mendiagnosis tanpa menguras banyak energi. Hanya, terkadang ia gampang merasa jengkel, jika berhadapan dengan pasien yang cerewet dan meragukan diagnosisnya. Seorang dokter tidak dilahirkan sebagai orang bodoh. Yama lebih jengkel lagi pada pasien yang berobat dengan segala tipu muslihat. Mengatakan tidak mampu dan tidak mempunyai uang untuk membayar biaya praktik. Dan berakting memelas seperti artis sinetron murahan.

Orang miskin yang pemalas. Ia pernah menjadi orang miskin, namun ia tidak pemalas. Hidup itu keras. Tidak tersedia ruang untuk orang lemah yang tidak mempunyai kemauan untuk maju.

Mereka akan terlindas. Biarkan mereka terlindas. Mereka tidak mempunyai kemauan untuk bangkit dan berjuang. Mereka tidak pernah merasakan rasa sakit yang aku rasakan.

Aku selalu mendidik diriku sendiri menjadi manusia besi. Manusia yang mampu mengalahkan kekuatan besi. Ini sebuah rahasia yang tidak akan pernah kuceritakan kepada siapa pun. Tidak juga kepada Kay, calon istriku. Ibuku seorang pembantu dan ayahku seorang satpam. Mereka tidak mampu memberikan makanan yang enak kepadaku. Mereka membuat aku malu karena harus mengenakan baju yang dekil. Mereka membuat aku dendam kepada sebuah kata benda: kemiskinan.  Kemiskinan membuat aku tak henti harus menerima cerca dan caci maki.

Aku memprogram diriku untuk taat pada setiap rencana dan jadwal yang aku buat dalam hidupku. Aku belajar melebihi waktu yang dilakukan semua orang. Aku meregangkan ototku, agar ia liat seperti karet. Ketika Bapak dan Ibu sudah lelap dalam tidur mereka, aku masih terjaga. Kerja keras memerlukan pengorbanan. Setiap saat aku bertarung melawan kemiskinan dan tubuhku penuh dengan luka-luka dan darah yang berceceran. Aku sekarat dan hampir mati. Karena itu, aku benci orang miskin yang manja dan hanya bisa mengemis. Seharusnya biarkan mereka terlindas. Dunia tidak tersedia untuk pengecut seperti mereka.

Dan Kay, menghabiskan waktunya untuk membantu orang-orang ini. Hidup Kay tidak pernah susah. Ia tidak pernah tahu rasanya menjadi orang miskin. Ia tidak pernah bertarung dengan kemiskinan. Hidupnya terlalu enak. Hidupnya selalu terjamin dengan limpahan kasih sayang. Mungkin karena itu ia terpukau pada orang-orang yang dilahirkan miskin dan menderita.
   
Spaghetti di piring Yama tersisa sepertiganya. Yama meneguk soft drink-nya dan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Yama tahu sekarang hidupnya mudah. Ia mendapatkan apa saja dengan mudah. Pekerjaannya yang mudah memberikan penghasilan yang sangat berlimpah. Yama tahu ia sudah bekerja seperti mesin canggih dari pagi sampai malam. Pada setiap  entakan, mesin canggih itu mengeluarkan telur-telur emas yang  makin menggunung. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hidupnya. Yama memang seharusnya menikmati saat-saat terbaik dalam hidupnya. Karena ia sudah bekerja keras untuk meraihnya

BEBERAPA KALI BERKUNJUNG
ke rumah Yama, ia disambut ramah oleh kedua orang tuanya, Om Hadi dan Tante Deli. Tante Deli adalah perempuan pesolek sejati, dengan dandanan yang mirip dengan orang yang pergi kondangan. Om Hadi memakai baju safari, seolah sedang berdinas di kantor. Apa orang-orang tua memang sulit meninggalkan masa lalu mereka? Mereka memuji kulit putih Kay dan  rambut cokelatnya.
   
”Nak Kay cantik sekali. Matanya bagus dan kulitnya putih seperti salju,”  kata Tante Deli, dengan suaranya yang terdengar sangat nyaring. Kay hanya tersenyum menanggapi pujian itu.
    ”Nak Kay ada keturunan bule gitu?” tanya Tante Deli lagi, penasaran.
    ”Papa saya dari Inggris, seorang guru bahasa Inggris, Tante. Mama Jawa, makanya mata saya  hitam.”
    ”Waduh, campuran Inggris-Jawa, ya, pantes cakep tenan...!” kata Tante Deli lagi, dengan suara yang  makin cempreng. Kay agak tersipu dengan pujian itu.
    ”Biasa saja, Tante. Kebetulan saja Papa-Mama berasal dari ras yang berbeda,” kata Kay, berusaha merendah. Tante Deli dan Om Hadi manggut-manggut sambil memperhatikan Kay dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kay merasa agak risi. Untunglah Yama segera datang dengan dua gelas minuman dingin untuk mereka berdua. Kay berusaha memahami bahwa orang-orang tua memiliki dunia yang berbeda dengan anak-anak muda.
    ”Orang tuamu berasal dari mana?”
    ”Emangnya kenapa?”
    ”Kamu kan sudah tahu mamaku dari Yogya dan papaku dari Inggris. Boleh, dong, aku tahu, kamu aslinya dari mana?”
    ”Jakarta, Kay. Mereka sudah lama merantau. Asalnya dari Jawa juga, Yogya. Cuma sudah tidak pernah pulang, karena semua saudara juga merantau. Udah dari kakek-nenek buyut.”
    ”Logat mereka masih terdengar Jawa, Ma. Seperti mamaku.”
    ”Maklumlah Kay, sehari-hari masih pake bahasa Jawa, apalagi di Jakarta memang banyak orang Jawa.”
Kay mengangguk-angguk mengerti, lalu meneguk minumannya.

                                                                                      cerita selanjutnya >>

Penulis: Ni Komang Ariani


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?