Fiction
Jas Putih [5]

10 Sep 2012

<< cerita sebelumnya

ENTAH BERAPA LAMA MEREKA TERDIAM 
tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kay menyedot juice wortelnya perlahan, nyaris kehilangan kata-kata. Yama muncul dengan wajah yang agak terlihat gelap. Ada kemurungan yang tidak bisa disembunyikan di sana.
    ”Apa kabarmu sebulan ini Yama?”
    ”Seperti yang kamu lihat Kay, tidak terlalu baik.”
    ”Ada masalah di kantor?”
    ”Masalahku cuma satu. Kamu. Aku sangat ketakutan kehilangan kamu.”
    ”Lho Yama, bukankah kamu yang mengancam untuk meninggalkanku?”
    ”Ancaman itu hanya gertakan, Kay. Aku tidak pernah ingin putus darimu. Cuma rasanya aku  makin tidak sabar menunggumu. Aku sangat ingin kita disatukan ikatan yang bernama pernikahan. Sebuah ikatan yang membuat kita bisa bersatu dan tidak terpisahkan. Apa kamu tidak memimpikan itu, Kay?”
    ”Aku sangat menyukai hubungan kita selama lima tahun terakhir ini. Aku juga ingin menikah. Namun, aku butuh waktu yang lebih panjang untuk memutuskan, Yama. Apa itu terlalu berat buatmu?”
    ”Aku hanya tidak habis mengerti dengan keragu-raguanmu, Kay. Keragu-raguanmu menunjukkan ketidakseriusanmu dengan hubungan kita.”
    ”Fase pernikahan bukan sesuatu yang mudah, Yama. Tolonglah kamu mengerti kegamanganku memasuki fase ini. Aku juga takut kehilangan kamu.”
    Yama menghela napas panjang. ”Kalau saja aku tidak terlampau mencintaimu, aku sudah tidak sabar lagi menunggu, Kay. Sebenarnya aku tidak sabar untuk bersatu denganmu, Cuma, ya, mau bagaimana lagi, kalau kamu belum siap.”
   
Kay menghampiri Yama di kursinya dan memeluknya erat. Kay mengecup lembut pipi Yama. Sebuah senyum manis menyemai di wajah Yama. Ketegangan di wajah Yama luruh. Laki-laki itu mengecup lembut bibir Kay. Untunglah tak seorang pun melihat mereka. Mereka hanya berdua di bilik lesehan sebuah restoran makanan Sunda. Kay pindah ke sebelah Yama. Ia memeluk pinggang Yama erat.
    
****

YAMA MENYETIR MOBIL YANG BARU DIBELI sebulan lalu. Yama menyukai aroma mobil baru. Ia tidak betah mempertahankan mobil yang sudah berumur lebih dari setahun. Kegemaran Yama ini sempat diprotes Kay. Namun, sekarang Kay tidak pernah tahu kalau Yama membeli mobil baru karena Yama selalu membeli mobil dengan model dan warna yang sama.
   
Kadang-kadang Yama berpikir tentang banyaknya perbedaan antara dirinya dengan Kay. Yama sering kesal dengan obrolan Kay mengenai LSM-nya. Mungkin Yama sudah lelah menunjukkan antusiasme seperti waktu ia mendekati Kay lima tahun yang lalu. Perempuan yang membuat Yama terpesona pertama kali melihatnya. Kulit Kay yang putih, halus dan berkilau. Matanya yang bulat dan rambutnya yang kecokelatan. Matanya hitam seperti mata perempuan Indonesia. Memandang Kay selalu membuat Yama mabuk dan ia sanggup untuk melakukan apa saja untuk mendapatkannya.  Ia memuja Kay. Rasanya begitu. Karena ia begitu ingin memiliki Kay seutuhnya, seluruhnya, bahkan jika bisa ia ingin mengendalikan pikiran Kay. Namun Yama tahu, ia tidak akan pernah bisa mengendalikan Kay.
    Kepala Yama agak penat. Ia akan meminta pembantu setianya, Mbok Ipah, untuk memijatnya.  
   
Setelah badannya bersih dan segar, ia mengenyakkan pantatnya pada sofa empuk di depan TV. Ibu Yama, Deli, terlihat begitu serius menonton sinetron. Kegemaran yang belum berubah sejak ibunya masih menjadi pembantu rumah tangga dan setelah berubah menjadi orang kaya seperti sekarang.
    ”Malam sekali kamu pulangnya, Nak? Banyak pasien?”
    ”Begitulah Bu, sejak Yama diangkat menjadi dokter kepala, pasien  makin banyak. Banyak orang yang mengaku sudah berkali-kali ganti dokter akhirnya baru sembuh setelah berobat ke Yama.”
   
”Anak Ibu yang superhebat sejak dulu,” kata Deli, sambil mengusap-usap kepala Yama. Anak semata wayang dan kebanggaannya. Anak yang telah mengantarnya pada kejayaan.
   
Yama tersenyum senang. Ibu adalah tempat ia pulang. Bisakah ia harapkan semua itu dari Kay? Kay terlalu sering berbeda pendapat dengannya. Perempuan itu dilahirkan dari rahim perempuan Jawa dan seorang pria Inggris. Kay memiliki kehidupan yang teramat enak sejak ia mengenal dunia untuk pertama kalinya. Ia tidak pernah mengalami kemiskinan. Karena itu, ia terobsesi pada kemiskinan dengan mengelola LSM dan rumah penampungan anak telantar. Yama tahu, ia dan kekasihnya seperti langit dan bumi, namun Yama selalu berusaha bahwa jurang yang lebar itu tidak pernah terlihat di mata Kay.
   
Mbok Pah datang dengan mangkuk kecil berisi minyak aromaterapi. Lupakan sejenak masalahnya dengan Kay. Yama ingin istirahat dari pekerjaannya yang sangat melelahkan. Malam ini ia pasti bisa tidur dengan pulas.

****
   
ANAK-ANAK KECIL DAN BAYI  yang begitu rapuh. Dan mereka sudah harus berkelahi dengan kehidupan. Keriuhan itu tidak pernah surut di Rumah Hati. Tangis bayi karena kehausan minta susu. Anak-anak yang tertawa berisik karena bermain kejar-kejaran. Kay dapat menangkap kegembiraan yang tidak dapat disembunyikan di sana.
   
Rumah Hati yang bersih dan tertata dengan apik adalah rumah yang sudah mereka mimpikan sejak lama. Rumah penampungan sebelumnya ada di kantor LSM Act yang hanya seluas seratus lima puluh meter persegi. Mereka terpaksa tidur berdesakan di dua kamar besar yang dibagi menjadi kamar bayi dan kamar anak-anak. Tapi, toh, mereka memang sudah merasa seperti keluarga besar yang saling mencintai.
   
Kay berjalan melewati ruangan-ruangan Rumah Hati. Kay tercenung mengamati bayi Rissa dan bayi Eli, dua bayi yang tidak diinginkan orang tuanya. Betapa rapuhnya tubuh-tubuh kecil itu, namun mereka terpaksa berhadapan dengan dunia yang begitu keras. Tubuh kecil itu hanya bisa pasrah bila tidak ada tangan-tangan yang berbaik hati yang bersedia merawat mereka. Dan takdir kematian pun bisa datang kapan saja untuk menjemput mereka.
   
Takdir kematian? Mengapa tiba-tiba frasa itu mengganggu pikirannya? Mungkin takdir kematian memang bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ia bisa datang kapan saja, dan di mana pun. Takdir kematian adalah sesuatu yang alamiah. Semua orang yang lahir pasti memiliki kemampuan untuk menghadapinya.
   
Kay menggeleng-gelengkan kepalanya. Pikirannya terasa melantur. Pikirannya seperti berputar-putar di antara celoteh bayi-bayi  dan tangis mereka yang melengking-lengking. Tawa riuh mereka dan teriakan mereka ketika berantem. Nina yang menangis menyayat hati. Nina sudah tahu penyakitnya. Seorang anak di Rumah Hati tanpa sengaja membocorkannya. Nina shocked dan sedih luar biasa. Ia tahu tumor otak bukanlah penyakit main-main. Ia bisa mati karenanya.

    Dengan berlinangan air mata, Nina menatap Kay. Kesedihannya memuncak dan perasaannya campur aduk.
    ”Apakah Nina akan mati, Mbak Kay...? Seperti apa rasanya mati?”
    Kay yang baru memasuki Rumah Hati terperanjat luar biasa mendengar pertanyaan Nina.
    ”Apa maksudmu Nin, siapa yang akan mati?”
    ”Nina, Mbak. Nina tumor otak. Nina akan mati.”
    Tahulah Kay bahwa seseorang sudah membocorkan rahasia itu kepada Nina. Kay berusaha menenangkan dirinya.
    ”Bukankah kita akan berobat, Nin. Kami semua akan berusaha menyelamatkanmu. Kamu masih stadium awal. Masih bisa diselamatkan.”
   
Mata Nina menatap Kay dengan berkaca-kaca. Kay paham apa yang ingin dikatakan Nina. Kedua orang tua Nina sudah pulang ke kampung halamannya dan seolah melupakan keberadaan Nina. Sudah lama Nina merasa sebatang kara. Sejak ibu dan bapaknya menyerahkannya ke Rumah Hati dengan mengatakan mereka tidak sanggup lagi untuk merawat Nina. Sampai sekarang Nina masih berjuang untuk menghadapi perasaan sakit karena kehilangan kedua orang tuanya.
   
Ia selalu mencoba memberi kekuatan pada tubuh kecilnya, bahwa ia harus bertahan hidup dan menghasilkan karya dalam hidupnya. Sejauh ini ia bisa, karena Nina sudah menganggap anak-anak di Rumah Hati sebagai keluarganya. Ia begitu mengagumi Kay dan Killy yang sudah mendedikasikan hidup mereka untuk anak-anak tidak beruntung seperti dirinya.
   
Dan sekarang, beban hidupnya bertambah dengan vonis tumor otak. Mengapa harus dia? Nina betul-betul tidak tahu bagaimana tubuh kecilnya akan menghadapi tumor otak. Penyakit yang mungkin akan membawanya antara hidup dan mati. Sanggupkah tubuh kecilnya menghadapi beban itu, sedangkan saat ini saja ia sudah mengandalkan hidupnya pada Rumah Hati, sebuah keluarga, yang sebetulnya bukan keluarganya yang sejati?
   
Nina menghambur memeluk Kay dengan suara tangis yang pecah ke udara. Kay tidak tahu harus berkata apa. Hidup anak-anak Rumah Hati memang tidak bisa dibandingkan dengan masa kecilnya. Kay merasa mempunyai masa kecil yang indah karena dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan secara ekonomi. Masa kecilnya penuh dengan mainan dan pesta dengan teman-teman sekelas yang berulang tahun. Ia bisa menikmati es krim, main ke supermarket, makan di restoran, dan bersekolah di sekolah yang bagus. Di rumah sudah menunggu Mama dan Papa yang mengasihi dan siap berdiskusi dengannya. Sebuah kehidupan yang terlampau jauh dengan kehidupan Nina yang tinggal di panti asuhan dan divonis tumor otak.

                                                                               cerita selanjutnya >>

Penulis: Ni Komang Ariani



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?