<<<< Cerita Sebelumnya
Kisah Sebelumnya:
Sepeninggal Irfan, suaminya, Farah harus menjadi ibu tunggal bagi Angke. Ketika Farah dekat dengan Wisnu, Angke tidak mau Wisnu menjadi pengganti ayahnya yang telah tiada. Suatu saat, Farah berkenalan dengan Teddy –duda satu anak-- saat mereka terlibat dalam penelitian bunga Rafflesia arnoldi yang hendak mekar di sebuah kebun raya. Hubungan keduanya makin dekat ketika Angke ternyata cocok berteman dengan anak Teddy, Chika.
Ketika Teddy hendak memungut bantal yang terjatuh, tanpa sengaja posisi tubuhnya menjadi lebih dekat. Tangannya bergerak hendak meraih bahu Farah, tapi kemudian tangan itu tertahan di udara. Ada selang waktu yang bergulir tanpa terasa. Seperti ruang hampa udara yang menyekap dan tak mengizinkan siapa pun untuk bernapas. Cepat-cepat Teddy mengalihkan perhatiannya sendiri. Ditaruhnya bantal. Dilepaskannya guling dari belitan tangan dan kaki Chika. Perlahan. Dalam sekejap anak itu sudah berada dalam dekapan ayahnya. Farah membuka pintu kamar Angke lebih lebar.
Teddy dan Chika pulang. Farah merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang sebetulnya ada, tapi tak ingin diterjemahkan menjadi sesuatu yang menyita perasaan dan pemikiran. Farah menutup pintu rumahnya. Tapi, embusan angin masih terasa menyergap. Ia mencoba melacak dari mana arah angin ini berasal. Oh, ternyata pintu belakang rumah masih terbuka.
Farah berjalan ke arah taman. Membiarkan dirinya duduk di bale-bale kayu jati yang sudah lama tak dia sambangi. Tempat favorit almarhum Irfan. Almarhum? Ya. Ada segores rindu meriap sesaat. Belum sempat Farah menggali kenangan, suara dering telepon mengusiknya. Wisnu. Dia hanya ingin mengucapkan selamat malam dan memberi kecupan jarak jauh.
^^^
Dunia Angke dan dunia Chika kian bersentuhan, membentuk irisan yang mengekalkan persamaan. Dunia Farah dan dunia Teddy pun kian merapatkan jarak. Tak perlu bertanya soal titik temu, ada garis batas yang meretas di antara mereka. Begitu jelas.
“Siapa Bilqis?” ucap Farah. Pada suatu kesempatan yang memungkinkan, dua kata itu terlontar, dipacu oleh sebuah naluri yang membiaskan perasaan-perasaan tidak ingin kehilangan. Suatu hal yang wajar.
“Gurunya Chika,” jawab Teddy, pendek dan sederhana.
Farah mendapatkan nama itu dari Angke. Chika acap kali bercerita tentang salah seorang guru Chika yang sering menanyakan ayahnya. Ibu guru yang cantik itu selalu menemani Chika, bila sang ayah terlambat menjemputnya.
Udara di seputar mereka berubah menjadi dingin. Angin tak pernah berpihak pada siapa pun. Ia membagi rasa dingin dengan adil, hanya saja perasaan itu dapat ditafsirkan berbeda oleh setiap orang. Teddy memilih beberapa foto raflesia untuk sampul depan buku raflesia yang sedang mereka garap.
Agaknya Teddy tak ingin membicarakan guru cantik itu lebih lanjut. Farah menahan rasa ingin tahunya yang kali ini agak membuncah. Teddy pun berusaha melontarkan topik pembicaraan baru yang membuat mereka lebih leluasa. Tanpa jerat kecanggungan.
^^^
Arus perasaan yang melanda dua insan ini bukannya tak luput dari perhatian Wisnu. Wisnu merasa perlu melakukan tindakan yang membuat Farah tetap berada dalam lingkaran kasih sayangnya. Wisnu tak mau kehilangan Farah untuk kedua kalinya.
Ada sebuah periode yang mengondisikan Wisnu dan Farah pernah mengenal satu sama lain. Meski mereka masih terlalu muda untuk sebuah komitmen yang bersifat mengikat, sedikitnya Wisnu mempunyai gambaran yang cukup jelas tentang Farah. Masa awal perkuliahan yang membiaskan kebersamaan mereka. Membuat mereka larut dalam episode kehidupan masing-masing.
Masa petualangan Wisnu yang cukup panjang, tak juga membuat Wisnu menemukan seorang wanita yang benar-benar menggelorakan jiwanya. Sebaliknya, Farah, dalam masa kesendirian yang mendera, menemukan pria lain yang kemudian dengan sigap menikahinya. Agaknya, soal cinta menjadi hal kedua bagi Farah. Irfan yang gigih dan taktis membuat ia berani menghadapi sebuah dunia baru yang belum pernah dirambahnya.
Wisnu sama sekali tak pernah menduga, arus kehidupan itu pula yang mengantarkan Farah kembali ke dalam kotak impiannya. Sebuah kotak yang selama ini terkunci rapat. Jika Wisnu membukanya kembali, apakah kotak itu berubah jadi kotak Pandora yang menyeret Epimetheus ke dalam arus kerengsaan yang sempurna?
Kesigapan Irfan adalah guru yang baik bagi Wisnu. Wisnu akan segera mengajak Farah menikah! Serangkaian tur keliling Eropa sudah dia rancang untuk bertiga. Sebentuk cincin bertatahkan berlian sudah ia siapkan. Ia pun mencari informasi paling akurat tentang sebuah perjalanan bulan madu yang diidamkan oleh hampir semua wanita romantis di dunia. Venesia. Italia!
Wanita mana yang takkan luluh oleh sebuah romantisisme yang begitu memikat? Cinta saja terkadang lebih dari cukup. Tapi, romantisisme? Ini sebuah benda abstrak yang memang mahal secara harga, tapi tak ternilai bila diukur. Ia mampu menyentuh kebutuhan-kebutuhan manusiawi yang mendasar. Wisnu sangat yakin itu.
^^^
Seperti dalam film-film romantis, Wisnu separuh berlutut meminta Farah menjadi istrinya. Adegan itu terjadi di perahu nelayan yang sempit dengan beberapa keranjang ikan segar. Perahu yang sedang mengantarkan hasil tangkapannya untuk sebuah hotel di tepi pantai. Farah terkesima. Sungguh peristiwa ini di luar perkiraannya. Mulanya Farah bertanya-tanya, mengapa Wisnu bersikeras meminta waktu agar mereka bisa pergi ke Pelabuhan Ratu berdua saja. Angke dititipkan kepada Teddy.
Tanpa memedulikan pengemudi perahu, Wisnu memeluk Farah dan memberinya sebuah kecupan curian yang manis. Ada yang bergejolak di hati Farah. Mata Wisnu begitu lekap menatap, seteduh hutan bakau yang tak pernah lekang oleh gerusan ombak.
^^^
Tanpa sengaja Farah mengabarkan bahwa Wisnu sudah melamarnya dan orang pertama yang dikabari adalah Teddy! Dalam tuturan bahasa yang naif dan hanya terdiri dari beberapa kata, Farah mencoba meminta pendapat Teddy. Farah baru menyadari, apa yang dilakukannya adalah suatu kebodohan. Kebodohan yang menyisakan rasa sesal dan segumpal kekecewaan. Farah tak mungkin menarik kata-katanya kembali.
“Kapan kalian menikah?” Wajah Teddy tampak terlalu dingin untuk mengucapkan kalimat ‘panas’ seperti itu.
Tak ada ekspresi penolakan atau ketidaksetujuan di wajah bersegi itu. Kacamata yang bertengger di batang hidungnya yang lurus, mungkin menyembunyikan sorot mata yang sesungguhnya. Atau, Teddy belum mengelap kacamatanya, hingga mata itu terlihat begitu buram. Alangkah sulitnya menebak isi hati pria di hadapannya ini.
Farah gemas. Andai saja Teddy bisa membaca isi pikirannya, sebetulnya bukan pertanyaan seperti tadi yang dia inginkan. Jauh sebelumnya, Farah sempat mengira bahwa kebersamaan mereka selama ini bukan sekadar rekan kerja, tapi sudah meretas batas ke arah yang lebih istimewa. Namun, dugaan Farah keliru. Apakah dapat dikatakan suatu kemuskilan, bila suatu saat Teddy mengungkapkan pertanyaan yang sama seperti diucapkan Wisnu saat melamarnya?
Memang dibutuhkan suatu keberanian ekstra untuk mengucapkannya. Apalagi status Farah adalah seorang kekasih bagi Wisnu. Teddy bukan tipe pria penyelingkuh yang begitu mudahnya mengumbar kalimat yang didambakan banyak wanita. Teddy seorang pria santun dan sangat pandai menjaga diri dari hubungan-hubungan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. Sebagai pria tipe setia, dia pun berharap mendapatkan kesetiaan yang kadarnya tidak jauh berbeda. Terlepas dari semua itu, Farah belum dapat menafsirkan perasaan Teddy yang sesungguhnya kepada dirinya. Hanya dugaan dan perkiraan yang saling menguatkan.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” ucap Teddy lagi. Farah tersipu, sampai saat ini dia pun belum tahu jawabannya. Belum ada pembicaraan yang menentukan kapan dia meresmikan hubungannya dengan Wisnu.
^^^
Sepertinya Farah harus mampu menembus proses birokrasi yang paling gampang-gampang susah. Angke! Farah tak dapat memungkiri, hatinya sempat berbunga-bunga saat menyaksikan cairnya hubungan Angke dengan calon ayah barunya yang bermata hijau itu.
“Iya, Bunda boleh menikah sama Oom Wisnu dan tinggal di rumah baru. Angke tinggal di sini saja, berdua sama Mbok Isah….”
Perkiraan Farah agak meleset, jawaban Angke ternyata tak serumit dugaannya. Tapi, nanti dulu, itu berarti Angke memilih tidak ikut bersama mereka. Ada pertimbangan-pertimbangan naif seorang anak yang tak terjangkau pikiran. Tampak sederhana, tapi menyimpan kerumitan yang tak selamanya mudah diatasi.
“Mbok Isah nggak seterusnya tinggal di sini, jadi Angke sebaiknya ikut Bunda tinggal di rumah Oom Wisnu…..”
Bibirnya yang tipis membentuk garis. Angke berpikir keras. Matanya menerawang.
“Kalau begitu, Angke dititipkan di rumah Chika saja.…”
“Ya, kalau sehari, sih, tidak apa-apa. Seperti Chika kemarin itu. Orang tua Angke, kan Bunda, jadi tinggalnya bersama Bunda, dong….!”
Farah tersenyum lebar, dipandangnya Angke penuh rasa sayang. Dia mengizinkan Farah menikah dengan Wisnu, tapi dia memilih tinggal bersama Chika yang notabene anak Teddy. Bagaimana mungkin? Ah, logika kanak-kanak kadang-kadang terlampau naïf, tapi juga filosofis. Atau memang Angke secara halus mengatakan bahwa dia lebih setuju bila ibunya menikah dengan Teddy?
“Kalau begitu, Bunda ikut Angke saja, tinggal bersama Chika…?” uji Farah.
“Yes!” sambut Angke, senyumnya mengembang. Matanya menyalakan sinar yang suar.
Farah menemukan jawaban yang ia cari. Namun, wajah Angke segera berubah. Diselimuti tanda tanya.
“Terus, Oom Wisnu tinggal sama siapa?”
Farah tak dapat menahan tawa. Diacak-acaknya rambut Angke.
“Tanya saja sama Oom Wisnu…,” godanya.
“Aah… Bunda! Oom Wisnu tinggal sama siapa…?”
“Tinggal sama si Bingki….”
Mereka tertawa. Farah membuka kulkas, mengambil sebuah apel, lalu menggigitnya. Angke meniru ibunya. Ketika gigi Angke sudah siap menggigit apel, tiba-tiba Angke mengurungkan niatnya. Dia menatap ibunya dengan sungguh-sungguh.
“Kalau Oom Wisnu tinggal sama Bingki, artinya dia tinggal di rumah kita juga. Rumah Bingki terlalu kecil untuk ditempati Oom Wisnu. Nanti Bingki kejepit, dong, Bun?”
Tawa Farah nyaris meledak kalau saja dia tak bersusah payah menahannya. Apalagi wajah Angke begitu serius.
“OK, nanti kita bicarakan lagi, ya! Bunda juga harus menanyakan dulu sama Oom Wisnu, dia mau tinggal bersama si Bingki atau tidak?”
Angke mengiyakan. Dikunyahnya buah apel itu sampai habis.
^^^
Wisnu yang sedang berada di Thailand mengabarkan bahwa dia sudah mengatakan kepada orang tuanya tentang lamarannya kepada Farah. Orang tua Wisnu akan meminang Farah secara resmi kepada orang tuanya. Mereka senang dan menyetujui pilihan Wisnu. Bahkan, keluarga mereka yang ada di Belanda pun akan ikut hadir. Sekalian liburan.
Farah tercekat, rasanya semua ini berlangsung terlampau cepat. Wisnu mengatakan akhir bulan Agustus ini keluarganya akan ke Indonesia. Dia mengusulkan tanggal 31 Agustus. Bila keluarga Farah sepakat dengan tanggal tersebut, Wisnu langsung memesan tiket pesawat dan hotel.
“Kalau saja aku bisa mempercepat jalannya waktu, rasanya ingin menikah besok, dan lusa kita sudah berangkat ke Venesia…!” Suara Wisnu terdengar lembut. Berbaur harapan dan ketidaksabaran.
Farah tertawa pelan. Selama mereka menjadi sepasang kekasih, bahkan sewaktu SMA dulu, Wisnu selalu memperlakukannya dengan penuh rasa sayang dan penghargaan. Pada situasi ini, Farah merasa tersanjung. Sebagai seorang wanita, ia merasa dihargai sebagaimana layaknya. Lantas, berbekal perasaan-perasaan indah seperti itu mereka akan melangkah jauh, masuk ke dalam sebuah dunia yang mungkin belum pernah dibayangkan sebelumnya. Ada rasa bahagia, terharu, juga kelegaan yang penuh. Merasa utuh. Sekaligus gamang.
Saat Wisnu hendak bicara, Angke sudah terlelap di sofa. Buku PR, sekotak popcorn yang tinggal wadahnya dan benda-benda lainnya berserakan di meja. Farah mengangkat tubuh gadis cilik itu ke kamarnya. Malam seperti segelas sirop hitam pekat dibubuhi kelapa muda. Kekelamannya menyempitkan pandangan, putihnya seperti rembulan membiaskan cahaya yang menakjubkan.
^^^
Farah belum memberi tahu Teddy tentang rencana pinangan keluarga Wisnu akhir bulan ini. Rasanya dia lebih baik tak perlu tahu. Adakalanya kita perlu terbuka, adakalanya pula perlu menyimpan rahasia. Untuk sementara waktu. Namun, niat Farah itu menguap bersama datangnya SMS Teddy yang mengabarkan bahwa mereka diundang menghadiri sebuah seminar besar tentang raflesia di Singapura, 27 Agustus sampai 2 September. Farah terkesiap. Mau tidak mau ia harus menceritakan rencana pinangan itu.
Farah menelepon. Suara Teddy kedengaran antusias.
“Kita didaulat jadi pembicara tamu! Jadwalmu tampil di hari kedua.”
“OK. Tapi, aku takkan mengikuti seminar itu secara utuh, tanggal 29 aku pulang duluan.…”
“Lho, memangnya kenapa?”
“Tanggal 31 orang tua Wisnu akan datang meminangku…,” ucap Farah, nyaris tak kedengaran. Ia sangat berhati-hati mencari kata, merangkumnya menjadi sebuah kalimat yang diucapkannya barusan.
Lebih dari dua puluh detik Teddy tak bersuara. Wanita itu berusaha menerjemahkan sepi yang menyeruak begitu saja di antara mereka. Farah bukan anak gadis seusia Angke, ia cukup paham bahasa kaum lelaki yang terkadang menyimpan misteri, terkadang pula seperti buku yang mudah dibaca.
“Ya, selamat… semoga kau bahagia bersamanya!” ucap Teddy, tawar.
Mungkin kata-kata itu sering diucapkan ketika seorang kekasih melepaskan kekasihnya yang memutuskan berpisah dan memilih orang lain. Tapi, Teddy bukan kekasih Farah. Belum ada ikatan yang menahbiskan hubungan mereka. Teddy tak pernah mengungkapkannya secara eksplisit. Wanita selalu butuh pernyataan, sedangkan bagi pria itu sebuah kesulitan.
Hari-hari berikutnya Angke dan Chika masih tetap riang, kontras dengan Teddy yang lesu dan muram. Farah makin diyakinkan. Teddy menyimpan selaksa harapan yang belum terucapkan. Sore itu, Teddy minta waktu bertemu. Berdua saja tanpa Chika dan Angke.
^^^
Di sebuah kafe yang menghadap taman dengan hamparan rumputnya yang menyejukkan pandang, mereka duduk bersebelahan. Farah kehilangan kata.
“Sebetulnya aku berharap kau ikut. Ini pengalaman pertama Chika libur ke luar negeri,” Teddy meneguk jus tomat kesukaannya. “Selagi kita mengikuti seminar, Chika dan Angke bisa kita tinggalkan di hotel.”
“Hanya untuk alasan itu kau mengajakku ke sana?”
Teddy agak gelagapan, diteguknya jus tomat itu sekali lagi.
“Mmm… aku hanya berpikir… bahwa kita bisa menjadi sebuah keluarga.”
Farah tahu, secara halus Teddy menyodorkan dua pilihan, dia atau Wisnu. Sebetulnya, tak ada kekurangan yang terlalu besar dalam diri Wisnu, juga Teddy. Hanya, Farah tidak bisa menikahi keduanya sekaligus. Kecuali bila Farah tinggal di Tibet yang memperbolehkan poliandri!
Farah tak dapat mengingkari bahwa Angke lebih menyukai Teddy karena dia menemukan sosok ayahnya dalam diri pria itu. Bila ia menikah dengan Wisnu, tentu Angke harus belajar lebih keras untuk menerima pria itu sebagai ayah tirinya. Farah pun takut Wisnu berubah. Sekarang Wisnu kelihatan baik pada Angke karena dia sedang berusaha merebut perhatian Angke untuk mendapatkan dirinya. Tapi, kalau mereka sudah menikah, belum tentu!
Sama halnya dengan Teddy, sekarang dia baik kepada Angke dan kelihatan bisa membagi perhatian juga kepada Chika. Bila mereka sudah menikah, apakah Teddy akan sebaik dan seadil itu? Mungkin dia akan lebih membela Chika nantinya.
Kecemasan-kecemasan Farah memang terlampau naif. Suatu kewajaran yang mengisyaratkan hakikat, yaitu dua kemungkinan yang abadi: baik atau buruk.
Bila Farah menikahi Wisnu, Angke akan kehilangan Chika dan Teddy sekaligus, dan kehilangan dunia kecilnya yang penuh warna. Kalau Farah menikahi Teddy, dia hanya kehilangan Wisnu dan Wisnu pun terluka. Hanya?
Teddy berangkat ke Singapura sendirian, Chika dititipkan pada Farah. Angke menyambutnya dengan perasaan senang, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi antara ibunya dengan ayah Chika.
^^^
Gelegak waktu tercipta di saat-saat menunggu. Serasa detak jarum jam itu serpihan-serpihan bara yang memercikkan nyala. Farah meniup lampu sumbu dalam gelas bening berisi minyak dan air yang diberi warna. Wisnu tersenyum, membiarkan kekasihnya berulang kali meniup api kecil itu. Tak juga berhasil.
Farah bangkit, lalu bergerak menghampiri Wisnu. Ia melepaskan cincin berlian itu dari jari manisnya. Lalu, Farah menyisipkannya ke saku kemeja Wisnu.
Lelaki itu terperangah. “Far….. ada apa ini? Mengapa kau kembalikan cincin ini padaku?”
“Kita sudahi saja hubungan kita….”
“Lho….?!” Wisnu tak mampu berkata-kata lagi. Kepalanya dipenuhi ribuan tanda tanya.
“Ya… kita tak jadi menikah….”
“Mengapa?”
“Karena lusa aku mau berangkat ke Singapura, ada seminar raflesia di sana!”
Wisnu tertegun dan nyaris lupa bahwa kata diciptakan untuk bicara. Lidahnya kelu. Ia merasa tak perlu meminta Farah menjelaskan panjang lebar tentang mengapa kekasihnya mengambil sikap demikian. Raflesia, satu kata itu saja sudah sebuah jawaban sekaligus suatu pilihan.
Mengapa dia tak berusaha merebut cinta Farah? Mengapa dia membiarkan peluang yang dimimpikan lebih dari separuh hidupnya terlepas begitu saja? Mengapa?
Wisnu meraih tangan Farah, melalui gerak mata ia masih berusaha memohon. Tapi, peluang itu benar-benar membias. Lepas. Lalu, dikecupnya punggung tangan wanita yang selama ini begitu didambakannya. Hampir saja hati Farah luluh. Wisnu memang sang pencinta yang memuja. Tapi, cinta tidak hanya dapat dimiliki oleh mereka berdua. Ada manusia kecil yang tidak dapat dilepaskan dalam lingkaran cinta yang pernah terputus. Angke.
Gumpalan di dada Farah luruh sudah. Dalam hitungan jam, dia harus mencari tiket pesawat ke Singapura. Masih ada sisa waktu untuk menghadiri seminar itu dan duduk di sebelah Teddy.
Angke dan Chika bersorak-sorai begitu melihat tiga lembar tiket dilambaikan Farah. Kedua gadis cilik itu berebutan menghambur ke dalam pelukan. Farah tersenyum bahagia, mereka memang sudah menjadi sebuah keluarga. Sebuah dunia baru! (Tamat)
Penulis: Katherine Achmad


