Fiction
Dua Sisi [7]

4 May 2012

<< cerita sebelumnya

Andari duduk berselonjor di atas selimut yang terhampar di ruang tamunya, mengawasi gerak-gerik Aysha dari belakang. Denting kuali dan spatula terdengar seperti musik di telinga Andari. Api tampak menjilat-jilat pantat kuali di atas kompor. Ia sendiri bukan orang yang suka memasak, tapi ia selalu mengagumi mereka yang suka memasak, yang bisa meracik bumbu-bumbu mentah menjadi sebuah hidangan istimewa. Seperti malam ini, Aysha menyajikan sepiring nasi cherry dan kebab ayam, meski Andari yakin kulkasnya kering kerontang. 

Di atas lantai ruang tamu, mereka menyantap hidangan makan malam dengan lahap. Aysha terus menawarkan porsi lebih untuk Andari, dan jika Andari menolak, maka ia akan mengatakan bahwa Andari terlalu kurus, perlu diberi gizi cukup, supaya bisa bekerja dengan baik. Andari tertawa melihat kelakuannya. 

Mereka bercakap-cakap tentang pengalaman mereka di New York, tentang impian mereka, tentang kepulangan mereka suatu hari ke tanah kelahiran masing-masing. Gelak tawa mereka mengisi malam senyap. 

Selesai makan malam, mereka kembali duduk di atas hamparan selimut, ditemani segelas air putih. Aysha tidak mengatakan apa-apa tentang Ahmed yang mereka temui malam itu, tapi ia banyak bercerita tentang pengalamannya sebagai gadis kecil, menelusuri petak demi petak kota kelahirannya. Sesekali suaranya bergetar, seolah sedang memerangi air mata yang hendak tumpah, dan sesekali ia berhenti bicara, menyerapi kesunyian yang menyelimuti mereka. 

Diam-diam, Andari meratapi nasib wanita muda yang sedang duduk di hadapannya. Diam-diam, ia berhasrat untuk merengkuhnya ke dalam pelukan, menciumi habis setiap jengkal tubuhnya. Ia ingin senantiasa menatap ke dalam sepasang mata Aysha yang dipayungi oleh bulu-bulu lentik yang mencuat dari tepi kelopak matanya. Merasakan bibirnya yang ranum. Mengubur wajahnya di lekuk leher Aysha yang jenjang. Membiarkan lidahnya menelusuri pori-pori kulit Aysha, seperti wanita muda itu pernah menelusuri jalan-jalan kota Beirut. 

“Kau satu-satunya teman yang kumiliki sekarang,” Aysha mengerutkan dahi, nada bicaranya lirih, mengenyakkan Andari dari lamunan singkat.

“Maksudmu?” tanya Andari.

“Kau satu-satunya orang yang bisa aku ajak bicara, selain keluargaku, tentunya,” balas Aysha dengan berat. 
Andari diam. 

Aysha tersenyum. “Boleh, ‘kan?”

“Tentu,” bisik Andari. “Aku akan jadi temanmu selamanya.”

“Janji?” tuntut Aysha.

“Janji,” Andari mengiyakan. 

Dari kisi-kisi jendela, Andari melihat rangkaian gugus bintang yang membentang di langit luas. Pikirannya melayang entah ke mana. Nalurinya terbang bebas, mencari rahasia kehidupan yang tersembunyi di balik awan. 

Sejak bencana yang menimpa kota tempat tinggalnya beberapa hari lalu, ia jadi kerap kehilangan fokus. Jiwanya menolak untuk menetap, melainkan sibuk berlompat-lompat ke alam lain. Benarkah tragedi ini milik bangsa Amerika saja? Ataukah ia, sebagai warga dunia, seharusnya ikut merasa bertanggung jawab? Benarkah apa yang dikatakan Ahmed, bahwa ia telah mengkhianati imannya sendiri karena membela orang-orang yang menjadi korban bencana? Kepada siapakah ia sebenarnya mengabdi? Manusia, agama, atau negeri? 

Jika ia termasuk dari sekian banyak korban yang berakhir di dalam kantong mayat, Andari bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah yang akan paling ia sayangkan? Bahwa ia belum sempat keliling dunia? Bahwa ia belum menggapai cita-citanya untuk menjadi pengusaha muda sukses? Atau, bahwa ia tidak per­nah merasakan cinta tulus seorang wanita di usianya yang hampir menggapai tiga puluh?

Andari merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit di atas kepalanya. Dadanya bergerak naik-turun, melawan setiap desakan nafsu yang tiba-tiba memenjarakannya. 

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Aysha, berbaring di sampingnya.

“Entahlah. Mungkin semuanya.”

“Aku minta maaf soal Ahmed,” ujar Aysha. “Seharusnya aku....”

“Dia punya alasan untuk berbicara begitu. Seandainya saja aku bisa mengerti apa yang kalian rasakan.”

“Kenapa?”

“Tidakkah itu akan membuatku menjadi seseorang yang lebih baik?” tanya Andari.

“Karena kau membenci apa yang kami benci?”

Andari menggedikkan bahunya. “Mungkin,” katanya.

“Jangan konyol,” sahut Aysha. “Perang kami bukan perangmu.”

“Benarkah begitu? Karena selama ini aku selalu berpikir bahwa di dunia ini, saat jati diri kita tercerai-berai dalam penggolongan suku, ras, status ekonomi, dan lainnya, satu-satunya hal yang bisa mempersatukan kita sebagai manusia adalah agama. Dan kalau kita tidak mampu membantu sesama kita yang....”

                                                                                           cerita selanjutnya >>

Penulis: Maggie Tiojakin


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?