<< Cerita SebelumnyaDadaku menggelegak melebihi letupan-letupan magma. Aku marah sampai tubuhku terasa dingin. Deden! Kenapa aku tidak bisa menebak dari tadi. Biarpun aku memberitahu password komputer pada hampir semua orang, bukan berarti ia boleh membuka-bukanya dan mencuri ideku. Pantas saja! Tidak mungkin ia memiliki pemikiran yang sama, kecuali ia telah membaca bahan presentasiku. Selang waktu sampai hari ini telah memberinya waktu untuk memikirkan kekurangan-kekurangan presentasiku dan memolesnya, seolah-olah itu adalah ide briliannya.
Aku menggertakkan gigi. Oke, sekarang kamu memang telah merebut kesempatanku. Oke, ambillah jabatan Ibu Ina. Tapi, jangan salahkan jika suatu hari nanti aku juga akan menikammu dari belakang! Tidak hari ini, Deden. Tapi, suatu hari. Lihat saja, kamu akan menyesal telah berurusan denganku.
Dengan gusar aku berdiri. Tanpa sengaja tasku tersenggol jatuh, peralatan make up-ku menggelinding keluar. Melihat begitu banyaknya ‘peralatan perang’ yang kubawa, aku teringat lagi dengan sesuatu yang lebih membuatku panik. Janji dengan Andre. Jika saja hari ini karierku telah dibuat hancur, jangan sampai nanti sore pun sama sialnya.
Akhirnya, tepat pukul 5 sore aku menyelinap keluar kantor. Masa bodoh jika Pak Ray mencariku. Ada hal lain yang menyangkut urusan hidup dan mati. Kali ini tidak ada seorang pun yang boleh menyabot kesempatanku, termasuk diriku sendiri. Jika aku memang kehilangan kemampuan berdandan, masih ada Tante Lien di salon langgananku yang bisa merapikan semuanya.
Tepat pukul 6.30, dengan merasa lebih cantik aku bergerak ke kafe yang sudah kami tentukan. Tapi, makin mendekati tempat itu, rasa panik mulai membuatku mual. Bagaimana jika dia tidak suka padaku? Dia berada entah di sudut sebelah mana. Ketika secara penampilan aku tidak memenuhi seleranya, ia langsung mengendap pergi, dan tinggallah aku di sini menunggu dan menunggu. Bagaimana pula jika ia jauh dari harapanku? Bayanganku tentangnya sudah telanjur ditempatkan terlalu tinggi, hingga empasannya juga akan jatuh sangat dalam. Lewat telepon kemarin ia begitu sempurna, aku benar-benar tak siap jika kenyataannya jauh dari itu.
Tapi... Aphrodite, engkau adalah Dewi yang paling cantik. Engkau sengaja merangkai berbagai peristiwa. Begitu melihatnya, aku langsung tidak percaya dengan siapa aku membuat janji. Suatu kebetulan yang hampir tidak mungkin terjadi. Pria dengan dasi Beatles! Bagaimana mungkin aku bertemu lagi dengan pria yang kutemui di lift kemarin lalu. Ia dan Andre adalah orang yang sama. Lihatlah di sana. Mengenakan dasi berbeda, walaupun tetap bermotif para personel Beatles. Ia makin tampan dengan wajah bersih dan mata bersinar. Ia menyunggingkan senyum tulusnya yang mendebarkan.
Aku dengan rela memasangkan dada untuk terpanah kembali pada kedua kalinya. Karena, Aphrodite, dia juga suka padaku!
“Halo,” sapanya ramah, dengan mata danau gelapnya yang gemerlap, “Kupikir, sesaat tadi kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya, karena wajahmu tidak asing. Ternyata, kita pernah bertemu di lift, ya?”
Aku tertawa. ”Kebetulan yang aneh, ’kan?”
“Tapi, fotomu berbeda dari aslinya. Lebih cantik aslinya.”
Aku tersipu. ”Syukurlah, yang diperlihatkan ibuku padamu bukan fotoku yang terpampang di SIM.”
Ia tertawa. Aku hampir tidak dapat melihat garis pembatas antara gigi yang satu dengan lainnya. Begitu putih rata, seperti barisan pualam persegi yang dijejer rapi. Sambil begitu, tangannya melambai memanggil pelayan, sementara matanya tidak lepas menatapku. Tidak ada sanjungan lebih tinggi.
Selama beberapa waktu kemudian kami lalu mengobrol banyak. Sungguh ajaib, bagaimana mungkin kami punya banyak persamaan, sehingga tidak ada jeda keheningan. Kami banyak tertawa. Ia mudah diajak tertawa dan pandai menimpali cerita dengan gaya yang lucu. Sempurna. Sungguh sempurna, sampai akhirnya aku iseng menanyakan sesuatu.
“Dasimu unik sekali, ya. Apakah semua bertema Beatles?”
Seperti baru menyadarinya, ia menyentuh benda yang tergantung diantara kerah baju itu. “Ceritanya panjang. Sekitar 6 tahun lalu, saat aku resign dari perusahaan lama, mereka memberiku kenang-kenangan koleksi lengkap CD Beatles. Entah mengambil kesimpulan dari mana, yang jelas mereka salah menduga bahwa aku penggemar kelompok musik itu. Kekasihku pada saat itu juga menduga hal yang sama. Lalu aku diberi hadiah berbagai merchandise Beatles setiap kali ia menemukannya selama 4 tahun kami berpacaran. Kebetulan, yang terbanyak adalah dasi-dasi ini. Aku tidak pernah tega untuk memberitahukan hal yang sebenarnya.”
Memang, kita harus curiga jika sebuah cerita selalu diawali oleh kejadian yang terlalu sempurna. Lalu, untuk apa dia mencari-cari kekasih lain, calon istri malah! Padahal, jelas sekali bahwa ia masih mencintai wanita itu. Buktinya, meskipun sudah tidak berpacaran lagi, ia tetap mengenang wanita itu dengan memakai barang-barang pemberiannya, meski tidak menyukainya.
Kupikir, perahuku sudah hampir berlabuh. Ternyata, sedang terseret angin untuk kandas di karang tajam. Menyebalkan! Lalu apa yang ia cari sekarang? Wanita 30-an yang sudah hopeless sehingga mau melakukan apa saja?
”Re, sebentar, ya, saya mau ke toilet dulu.”
Aku tidak menjawab. Mataku tajam memerhatikan ponsel yang ia tinggalkan di meja. Pasti inbox-nya masih berisi pesan-pesan penuh harapan dengan kekasihnya. Taruhan!
Iseng-iseng kubuka inbox-nya. Pada deret paling atas terdapat nama sender yang menggelitik: Black Widow. Pasti ada kandungan emosi negatif, jika ia sampai menamakan pengirim itu dengan konotasi yang tidak menyenangkan. Tidak mungkin aku tidak tergoda untuk membukanya.
Aku tahu jalan kita sudah berbeda. Tapi, aku tetap takut jika kamu akhirnya menemukan penggantiku.
Hatiku langsung panas. Dugaanku benar. Aku tidak pernah sempat membaca kelanjutannya. Sebuah insting tanda bahaya membuatku mengangkat kepala. Andre sudah kembali ke meja kami dan berdiri menatapku dengan pandangan marah bercampur sinis dan merendahkan. Dengan gerakan perlahan diambilnya ponsel itu dari genggamanku. Aku terlalu kuyup untuk sekadar dikatakan tertangkap basah. Tak ada alasan apa pun yang bisa menetralisasi situasi ini. Andre langsung berbalik meninggalkanku, tanpa merasa perlu untuk permisi. Perahuku sudah benar-benar hancur menabrak karang sekarang.


