Fiction
Air, Udara, Api, Tanah [8]

21 May 2012


Tony menciptakan gejolak udara yang tidak menyenangkan dalam hari-hari Fe. Perhatian dan kedekatannya dengan Tony.


Fe baru saja keluar dari kantor Bu Nana pagi itu untuk menyerahkan tulisannya. Masih ada gaungnya di telinga Fe kata-kata Bu Nana yang memuji tulisannya. Fe merayakan keberhasilan kecilnya dengan minum susu cokelat panas mengepul di balik mejanya. Fe sedang menyeruput minumannya ketika Tony tiba-tiba datang dan duduk di hadapannya, tanpa gadis itu sadari.

“Sedang merayakan sesuatu, Fe?”

Terkejut dengan sapaan yang tiba-tiba, minumannya yang panas itu tumpah di atas rok Fe. Serta-merta Tony mengambil tisu yang tersedia di atas meja untuk membersihkan roknya. Aliran udara di kantor itu sempat berhenti, untuk kemudian kembali berjalan. Fe mengambil tisu di tangan Tony dan tidak membiarkan pria itu membantu membersihkan cairan susu yang tumpah. Ia meletakkan cangkir susu di meja dan sibuk membersihkan roknya. Dengan diam.

“Maaf,” gumam Tony.

Fe mendongak. Matanya tertumbuk menyelami mata Tony di balik kacamatanya. Wajah tirus yang tidak terlalu tampan. Tapi, entah mengapa, gambarnya masih tergantung di dinding hatinya. Sekuat apa pun ia menyingkirkan gambarnya, ia masih tergantung di sana.

“Untuk apa?” Fe balas bertanya.

Hanya udara yang mengalir di antara mereka. Waktu seakan berhenti. Tony membersihkan sisa-sisa cairan susu di sekitar mulut Fe dengan tangannya. Dan, Fe tak kuasa mencegahnya.

Kau masih mencintainya, kata hatinya mengusik pahit. Mungkin saja, waktu menumbuhkan cinta dalam diri pria itu kepadamu.

Gejolak udaranya mengembalikan Fe kembali ke alam nyata. Musik romantis yang sempat mengalun di adegan beberapa detik dalam drama kehidupannya sudah berhenti. Ia menepiskan tangan Tony.

Tolong berhenti bersikap seperti itu, Ton. Aku tidak suka intimidasi yang kau buat. Rasa nyaman yang kudapat dengan usaha keras bertahun-tahun akan sia-sia. Berhentilah memerhatikanku agar hatiku tak terus berharap.

Ketika Tony meninggalkannya, ada rasa kehilangan yang amat sangat. Terkutuklah ia jika tidak mengakui bahwa cintanya kepada Tony tak pernah pudar. Adegan beberapa detik itu yang membuktikannya.

Aku masih mencintainya, batin Fe, putus asa. Tolong aku. Mama, aku masih mencintai Tony! Kenapa ia datang saat aku berusaha menghapuskan dirinya dalam ingatanku?

Matanya tertumbuk pada sehelai undangan di dekat pintu apartemennya ketika ia pulang berbelanja akhir pekan itu. Ia memungutnya tanpa rasa curiga dan membawanya masuk. Setelah meletakkan barang belanjaannya, Fe membuka undangan itu, tanpa memeriksa sampulnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Nama yang tercetak dalam undangan itu adalah nama yang sangat dikenalnya.

Hari Minggu esok, ia harus menghadiri pernikahan seseorang yang tak pernah diinginkannya. Fe ingin menjerit. Tapi, tak ada yang bisa keluar dari kerongkongannya. Ia hanya terduduk lemas di sofa ruang tengahnya dengan undangan yang tergeletak di lantai.

Ton, untuk apa kau menemuiku kalau hanya untuk memorak-porandakan hidupku? Tony tak pernah berubah. Ia tetap menganggap Fe hanya sebagai udara. Tony membutuhkannya. Tony merasakannya. Tapi, ia tidak melihatnya. Tidak melihat cinta di matanya. Persis seperti udara yang dihirup manusia, tapi tak pernah dipedulikan oleh manusia.

Aliran udaranya berhenti.

API
Fe bangkit dari sofanya. Memungut undangan terkutuk itu dari lantai dan membuangnya ke tempat sampah. Kemudian, ia mandi. Ia sadar, nyala api kecil mulai mencuat dalam dirinya. Dan, ia harus lekas-lekas memadamkannya. Karena itu, ia mandi. Buat Fe, mandi adalah salah satu cara meredakan emosi dan mengusir rasa penat dalam tubuh.

Kali ini tubuhnya benar-benar panas. Dan, ia memerlukan mandi beberapa menit untuk sekadar menyegarkan tubuhnya. Rasanya, mandi satu kali tidak cukup pagi itu. Ia menyiram air sebanyak-banyaknya ke sekujur tubuhnya, menggosok kuat-kuat kulitnya dengan sabun mandi, dan kembali mengguyurnya dengan air bergayung-gayung. Tapi, ketika ia keluar dari kamar mandi setengah jam kemudian, ia tahu, tidak mudah mematikan nyala api yang telanjur panas dalam dirinya.

Ia memungut kembali undangan yang sudah ia lempar ke tempat sampah. Tangannya sudah siap menyobek undangan itu ketika sebuah kesadaran mampir di kepalanya. Apa ia akan kalah dengan perasaan ini? Kalau ia menyobek undangannya dan memutuskan tidak hadir dalam pesta pernikahan besok pagi, ia akan lahir sebagai pecundang. Fe tidak belajar untuk menjadi seorang pecundang. Ia belajar untuk menjadi seseorang yang mampu terbang dengan sayapnya sendiri.

“Masih dengan Shiva,” gumam Fe, pahit. Kemudian, matanya memeriksa detail undangan itu dengan teliti. Fe tersenyum. Senyum yang tak pernah ia perlihatkan pada siapa pun. Ia melemparkan undangan itu ke atas meja, meraih mantelnya dan keluar dari apartemennya. Apinya masih menyala.

Fe sedang membanding-bandingkan barang-barang tembikar di toko barang-barang suvenir khas daerah itu ketika se-seorang menepuk bahunya. Sebastian. Fe menunjukkan barang tembikar yang ada di kedua tangannya.

“Bagus yang mana untuk kado pernikahan?”

Sebastian sedang berpikir keras memutuskan yang mana dari kedua barang tembikar yang ada di tangan Fe, sebelum kemudian Fe memberikan alternatif lain. Tabung kaca mungil dengan pita warna hitam. Tepat seperti yang diinginkan Fe.

“Ini bagus, ’kan?” tanya Fe.

Sebastian mengangguk. Tiba-tiba lupa untuk apa ia masuk ke toko ini. Ia tidak pernah suka mengoleksi barang-barang suvenir. Buatnya, barang-barang macam itu hanya membuang-buang uang saja dan memenuhi rak di rumahnya yang mestinya bisa digunakan untuk barang-barang lain yang lebih berguna.

Pagi itu ia hanya melihat seraut wajah Fe di balik kaca etalase ketika ia jalan-jalan. Seraut wajah yang sejak pertama kali ia lihat sudah menarik hatinya. Sebastian tahu, perasaan ini bukan cinta. Ia belum tahu apakah perasaan ini akan tumbuh sebagai cinta atau tidak. Yang jelas ada gejolak dalam dirinya yang mengikat kuat, begitu tangannya menggenggam tangan gadis itu pada waktu pertama kali berkenalan.

Fe tidak termasuk dalam deretan gadis cantik yang pernah dikencaninya. Semudah menjentikkan jari, semudah itu pula Sebastian berganti kekasih. Wajah Fe tidak menunjukkan sesuatu yang menonjol, hingga tiap pria yang memandangnya langsung jatuh cinta. Tapi, ada yang menarik hati Sebastian. Perasaan yang ada dalam diri seperti setetes bensin pada kain dan dipercik api. Ia tidak bisa memadamkannya begitu saja. Entah mengapa.

Jauh di dalam hatinya, ia tahu, gadis ini mencintai Tony. Tapi, dengan heran ia menemukan dirinya menunggu Fe. Sampai datang undangan pernikahan itu. Undangan pernikahan Tony yang sudah lama ia tunggu.

Di balik kaca etalase itu, raut wajah Fe sedikit berubah. Tidak sama dengan raut wajah yang pertama kali ia temui. 
“Kau jadi beli yang mana?” tanya Sebastian, membuka percakapan ketika mereka berjalan beriringan di tepi jalan itu.

“Yang tabung kaca. Lebih cocok.”

Sebastian menghentikan langkahnya.

Fe tidak. Jilatan api dalam dirinya malah memaksanya untuk jalan terus. Ia tidak mau menyerah.

“Fe!”

Fe berhenti sejenak, menoleh pada Sebastian. Mata bening itu sekilas menyorot luka. Hanya sekilas. Karena, detik berikutnya Sebastian melihat mata bening itu kembali seperti sedia kala.Fe tidak mau orang-orang melihat nyala api yang menggila dalam tubuh Fe dan ikut merasakan panasnya yang mulai menyengat. Cukup ia sendiri yang merasakannya. 


                                                              cerita selanjutnya >>


Penulis: Jessie Monika 
Pemenang Harapan Sayembara Mengarang Cerber femina 2005


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?