
Foto: Fotosearch
Menghadapi situasi baru punya tantangan tersendiri. Ada rasa antusias, tapi yang paling sering adalah munculnya kecemasan. Sebelum tahun berganti, yuk, evaluasi kecemasan yang tidak perlu. Bersama Adib Setiawan, M.Psi., psikolog di www.praktekpsikolog.com sekaligus direktur PT. Insan Solusi Integrasi (perusahaan di bidang headhunter, training, dan konsultan SDM), begini cara mengatasinya.
Dari ketidakpastian
Setiap orang memiliki kecemasan dalam hidup yang menurut Adib sangat wajar terjadi. Mulai dari mencemaskan pergantian tahun, menjalani hubungan baru, promosi jabatan maupun berada di lingkungan baru.
“Kecemasan setiap orang berbeda-beda. Ada yang terkait karier, interaksi dengan orang lain, dan sebagainya. Namun, menjadi tidak wajar bila sampai mengganggu aktivitas kita sehari-hari.”
Misalnya, nih, kita cemas dimarahi oleh bos sehingga memutuskan nggak masuk kerja.
“Kecemasan muncul dari ketidakpastian di waktu yang akan datang. Sebenarnya tinggal bagaimana cara mengelola kecemasan ini. Seseorang yang cemas terhadap masa depannya, ya, harus bekerja semaksimal mungkin.”
Faktor pencetus
Ada dua faktor penyebab munculnya kecemasan, yaitu internal dan eksternal—dengan kadar yang berbeda-beda. Kecemasan dalam skala ringan biasanya muncul akibat tuntutan lingkungan, alias eksternal. Misalnya, kita mencemaskan pergantian tahun karena ortu sudah menanyakan soal pernikahan—padahal si dia belum juga melamar.
“Ada pula faktor kemampuan yang berasal dari dalam dirinya. Orang yang nggak pede sekitar 60-70% adalah mereka yang kemampuan dan keterampilannya di bidang tertentu kurang. Alhasil dia merasa cemas,” begitu Adib menjelaskan.
Adib pun menambahkan, seseorang yang pendiam biasanya juga rentan terhadap kecemasan.
“Orang ekstrover memiliki sedikit kecemasan karena mereka berani mengungkapkan atau mengusulkan sesuatu. Saya melihat bahwa tipe pencemas cenderung orang introver yang jarang berbicara dan kurang aktif.”
Jangan lari
Adib menyarankan agar kita menghadapi hal-hal yang menimbulkan kecemasan—hingga akhirnya hilang dengan sendirinya.
“Hadapi kecemasan dengan cara melakukan tindakan yang konkret. Ketika kita sibuk melakukan sesuatu, maka kecemasan akan hilang. Manusia punya keterampilan, kok, untuk menghadapi berbagai hal.”
Kecemasan juga bakal berkurang bila kita mau terus belajar.
“Dengan belajar orang akan memiliki keahlian tertentu. Pelajari hal-hal baru, dengarkan penjelasan orang lain, dan menghormati orang lain untuk meminimalkan kecemasan. Intinya optimalkan kemampuan berpikir atau akal dalam menghadapi perubahan,” kata Adib.
Lebih Siap Menerima Perubahan
Harus keluar dari zona nyaman memang menakutkan. Namun, kita harus selalu siap menerima perubahan agar nggak kalah bersaing. Berikut tip dari Adib untuk menyambut perubahan:
1. Ubah pola pikir
“Manusia pasti ingin berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jadi, tanamkan dalam pikiran, ‘Saya siap berubah’.”
2. Ada tindakan nyata
“Isi aktivitas harian dengan sesuatu yang bermanfaat. Kalau setiap hari hanya diisi dengan bermalas-malasan pasti akan tetap cemas.”
3. Harus konsisten
“Orang yang mau berubah nggak bisa hanya ada di pikiran. Misalnya, dia ingin mendapat beasiswa di universitas terkemuka, ya, harus belajar mulai hari ini. Semangat dan tindakannya akan berubah sehingga lama-lama konsisten.” (f)
Baca juga:
Bebas Cemas Hadapi Pernikahan Kedua
Cemas Kebutuhan Biologis
Cemas Berlebihan
Topic
#cemas




