Pameran
Penyintas Kekerasan Seksual Berbicara Lewat Karya Seni di House of The Unsilenced

4 Sep 2018


Dok. House of The Unsilenced
 
Seni menawarkan medium bagi kita untuk memproses dan memaknai kembali segala pengalaman dan pengamatan kita, termasuk hal-hal yang sulit dibicarakan secara langsung. Seniman Jepang Yayoi Kusama, misalnya, menjadikan karya seni sebagai medium penyaluran gejala halusinasi yang dideritanya.
 
Menyadari adanya kebutuhan untuk bercerita dan mengekspresikan diri, InterSastra bersama dengan Koalisi Seni Indonesia menggelar ajang seni House of The Unsilenced (Rumah Kami yang Tidak Bungkam) di Cemara 6 Galeri-Museum, Menteng, Jakarta Pusat pada 15 Agustus 2018 – 2 September 2018 lalu. House of the Unsilenced menjadi ajang yang mempertemukan seniman, penulis, dan penyintas kekerasan seksual untuk berkarya bersama seputar tema memecah kebungkaman dan seperti apa kehidupan penyintas di masyarakat kita.
 
Ajang ini menampilkan berbagai seniman dan penulis perempuan, seperti Dewi Candraningrum (dosen sekaligus pelukis), Molly Crabapple (award-winning artist and writer dari New York) yang karyanya sudah termasuk koleksi permanen di Museum of Modern Art, New York, Ratu Saraswati (art performer dan finalis Indonesia Art Award), dan Dyantini Adeline (seniman dan pembuat film) yang sudah mempresentasikan karya di Berlinale dan Jakarta Biennale.
 
Ada juga Salima Hakim (dosen dan seniman) yang karyanya pernah diikutkan dalam Jogja Artweeks, Yacko (rapper) yang secara khusus meluncurkan single terbarunya di House of The Unsilenced pada Sabtu, 25 Agustus 2018, Eliza Vitri Handayani (novelis, penggagas dan pengarah acara House of the Unsilenced), Ika Vantiani (kurator seni House of the Unsilenced), Ningrum Syaukat (penari, personal trainer, stage acting coach), Margaret Agusta (jurnalis, penulis, dan seniman visual), serta Bisikbisik Kembang Goyang (kolektif seniman perempuan).
 
Para seniman dan penulis di House of the Unsilenced menawarkan beragam medium kepada para panyintas seperti menulis, membuat kolase, merajut, melukis, menggambar, bernyanyi, dan medium lainnya sesuai minat dan bakat masing-masing. Masing-masing seniman dan penulis yang terlibat, bekerja sama dengan para penyintas kekerasan seksual untuk menghasilkan karya-karya baru seputar tema apa artinya angkat bicara dan seperti apa kehidupan penyintas di masyarakat kita.
 
Eliza Vitri Handayani, penggagas dan pengarah acara House of The Unsilenced mengatakan, kampanye #MeToo yang ramai di dunia internasional menunjukkan  betapa banyak di antara para penyintas, yang mayoritas wanita di Indonesia masih sangat kesulitan untuk bercerita. Masyarakat sering memberi stigma dan sanksi yang sangat berat kepada korban kekerasan seksual, dan justru memaklumi tindakan pelaku. Tujuan sosial ajang seni ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai ihwal dan dampak kekerasan seksual yang disampaikan melalui ekspresi dan kreasi para penyintas.
 
“Kami membayangkan sebuah ruang yang aman dan dukungan yang kuat bagi mereka yang ingin angkat bicara, tempat di mana kawan-kawan penyintas dapat mengeksplorasi macam-macam kemungkinan untuk bercerita dan mengekspresikan diri,” tutur Eliza. Ia berharap, dengan mengikuti lokakarya atau berkarya bersama para seniman maka para penyintas akan merasa dapat dukungan yang mungkin tidak didapatkan di lingkungan tempat tinggal mereka.
 
“Apabila mereka merasa berat berbicara secara langsung atau melalui media sosial, di ruang inilah mereka bisa belajar medium-medium sastra dan seni yang bisa digunakan,” katanya.
 
Eliza mengungkapkan bahwa mengajak para penyintas kekerasan seksual dalam acara ini, tidak mudah. Mereka bekerja keras untuk memastikan para penyintas dengan berbagai latar belakang dan kebutuhan merasa aman dan nyaman berpartisipasi. Para penyintas berasal dari Jabodetabek, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Makassar dengan usia berkisar dari 19 hingga 53.
 
House of The Unsilenced adalah bagian dari Creative Freedom Festival 2018 yang diselenggarakan oleh InterSastra, bekerja sama dengan Kedutaan Besar Norwegia dan Koalisi Seni Indonesia. Mitra acara lainnya adalah LBH Apik, Yayasan Pulih, Lentera Sintas Indonesia, Hollaback Jakarta, dan Arus Pelangi. Ia hadir karena para penyintas butuh untuk mengekspresikan diri dan mengeksplorasi kreativitas sebagai bagian dari perjalanan menuju pemulihan dan pemberdayaan.
 
Ajang ini adalah langkah awal. Masih banyak isu yang perlu digali dan disorot tentang hidup sebagai penyintas, apa yang dibutuhkan untuk memecah kebungkaman, mencari keadilan, dan mencapai pemulihan. Bagaimana mengubah derita menjadi seni. Selain itu, para penyintas juga perlu diberikan pemahaman tentang apa saja yang dapat mereka capai dan korbankan ketika angkat bicara. Sudah saatnya menyuarakan suara para penyintas. (f)

Baca Juga:

Ini Cara Lindungi Anak dari Konten Negatif di Internet
Kisah 4 Wanita Yang Berjuang Keluar Dari Hubungan Cinta Tidak Sehat



 

Desiyusman Mendrofa


Topic

#pameran, #kekerasanseksual

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.