
Foto: Fotosearch
Ibarat lari maraton, untuk dapat mencapai garis finish, Anda perlu mempersiapkan kondisi fisik dan mental dengan sangat baik. Tubuh yang sehat, kondisi fisik yang prima, dan tekad yang kuat tentu menjadi modal utama Anda untuk mencapai garis finish. Demikian juga dengan keuangan. Untuk dapat mencapai tujuan-tujuan finansial sesuai target yang ditetapkan, Anda perlu memiliki kondisi keuangan yang sehat. Dan, untuk tahu seberapa jauh Anda perlu berlari, Anda harus mengetahui starting point Anda.
Dalam konteks ini, starting point Anda adalah kondisi keuangan Anda saat ini. Sudahkah Anda berinvestasi? Berapa banyak utang yang Anda punya? Apa saja aset yang sudah Anda miliki? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang perlu Anda jawab. “Karena itu, sebelum menetapkan tujuan finansial, kita perlu melakukan financial check up untuk mendeteksi kondisi keuangan kita saat ini. Kondisi keuangan ini akan menyajikan masalah utama keuangan keluarga atau pribadi kita yang perlu segera diatasi. Sambil menyelesaikannya, kita dapat paralel berusaha mencapai tujuan kita,” papar Mike Rini Sutikno, CFP, konsultan perencana keuangan independen dari Mitra Reksa Edukasi.
Baca: Begini Cara Menghitung Uang Pensiun Anda
Ada beberapa parameter financial check up yang dapat dijadikan indikator kesehatan keuangan Anda. Berikut ini yang perlu Anda perhatikan:
1/ Kemampuan Likuiditas
Parameter ini terkait dengan kesiapan seseorang atau keluarga dalam menghadapi kondisi-kondisi tak terduga. “Kebutuhan jangka pendek ada yang sifatnya rutin dan tidak rutin. Yang rutin dapat kita bayar dari pendapatan tetap kita. Kemampuan likuiditas ini dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak rutin, mendadak, dan tidak terduga. Jadi, kita memang perlu mengalokasikan dana dari penghasilan untuk menghadapi situasi yang tak terduga ini,” papar Mike.
Itulah sebabnya, kita perlu memiliki emergency fund yang dapat digunakan ketika terjadi kondisi darurat, seperti mengalami PHK dan sebagainya. “Besar pengeluaran dan kebutuhan tiap keluarga tentu berbeda-beda, tapi untuk emergency fund sebaiknya kita siapkan dana 6 kali pengeluaran keluarga per bulan. Kurang dari itu, kondisi keuangan Anda dinilai tidak sehat,” tegas Mike.
Namun, seseorang yang stabilitas pekerjaannya kurang baik, seperti freelancer, wirausaha, atau karyawan kontrak, sebaiknya menyiapkan emergency fund minimal 12 kali dari pengeluaran keluarga per bulan. “Perhitungan emergency fund muncul dari perkiraan jika seseorang kehilangan pekerjaannya, berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan kembali. Dengan memiliki emergency fund, ia dapat survive pada masa tidak memiliki pekerjaan hingga mendapat pekerjaan lagi,” ungkapnya.
Karena sifatnya simpanan untuk masa darurat, emergency fund sebaiknya disimpan di tempat yang mudah dicairkan atau diambil, tidak mengurangi modal atau dana awalnya, dan aman. Investasi yang sifatnya seperti itu, return of investment-nya rendah. Karena itu, sekalipun Anda mampu mengalokasikan emergency fund sebesar 24 kali pengeluaran keluarga per bulan misalnya, emergency fund tidak boleh berlebih. “Akan menjadi tidak efisien karena berarti akan mengurangi kesempatan Anda berinvestasi. Jadi tidak boleh kurang dan tidak boleh berlebih,” sarannya.
Menurut Mike, tabungan adalah jenis investasi yang paling tepat untuk menyimpan dana darurat. Alternatif lainnya adalah emas, tapi tidak terlalu ideal karena membutuhkan waktu untuk menjualnya sehingga tidak bisa cepat dicairkan. “Saran saya, karena ini dana untuk 6 bulan kondisi darurat dan tidak akan sekaligus dipakai, kombinasikan antara tabungan dan deposito dengan proporsi 50:50,” jelasnya.
2/ Kemampuan Memenuhi Kebutuhan Jangka Panjang di Masa Depan
Kebutuhan ini sifatnya personal, tergantung pada di siklus hidup mana Anda sekarang berada. Jika masih lajang, bisa diprediksi kebutuhan jangka panjang Anda adalah menyiapkan dana untuk menikah. Kebutuhan Anda yang sudah berkeluaga dan memiliki anak, tentu berbeda lagi. Namun, apa pun kebutuhan jangka panjang Anda di masa depan, untuk bisa mencapai tujuan tersebut, Anda harus menabung dan berinvestasi. “Besar dana yang dialokasikan untuk berinvestasi sebaiknya tidak kurang dari 30% dari penghasilan. Jika baru memulai, 10% tidak masalah. Tapi, perlahan-lahan harus ditingkatkan hingga menjadi minimal 30%,” ujar Mike.
3/ Memiliki Cicilan Tidak Lebih dari 1/3 PenghasilanMemiliki utang dan cicilan datang dari kebutuhan masa depan yang belum tersedia dana tunainya pada waktu yang dibutuhkan. Mike berpendapat bahwa utang boleh diambil asal ada kebutuhan. “Tidak boleh beralasan karena ada kebutuhan darurat karena untuk kebutuhan tersebut harus diambil dari emergency fund. Tapi, jika berutang untuk memenuhi kebutuhan masa depan, seperti membeli rumah atau membeli mobil, atau dalam rangka memiliki aset, maka itu diperkenankan,” lanjutnya.
Hanya, ada satu syarat yang harus Anda patuhi. Cicilan pembayaran utang tidak boleh melebihi 1/3 gaji Anda. Jika dihitung, perbandingan total utang dan total aset tidak boleh lebih dari 50%. “Aset yang dimaksud adalah aset yang mudah dilikuidasi. Jadi, seandainya tiba-tiba Anda harus membayar lunas utang Anda, total aset Anda harus bisa menutupi pembayaran utang tersebut,” jelas Mike.
Waduh! Berarti besar sekali, ya, total aset yang perlu kita miliki? Tenang, Anda tak perlu khawatir. Jika Anda mampu membayar cicilan utang Anda, berarti secara bertahap Anda akan melunasi utang tersebut. Berarti, secara bertahap total utang Anda pun akan lebih kecil dari total aset Anda.
Namun, jika total utang Anda terus bertambah karena Anda terus membuat utang baru tiap cicilan utang Anda berkurang, maka ada perilaku dan mindset keuangan yang perlu Anda perbaiki. “Jadi, rasio ini berguna sebagai alat evaluasi dan monitoring,” tuturnya.
Idealnya, utang diambil hanya untuk aset yang nilainya naik. Tapi, kita perlu memperluas pemikiran karena masyarakat modern masa kini memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada perubahan dalam memandang hal yang kita pandang sebagai aset. “Aset bukan lagi sesuatu yang nilainya tangible bisa dinilai dengan uang, tapi juga segala sesuatu yang bisa membuat Anda produktif sehingga bisa menghasilkan pendapatan,” ungkap Mike.
Contohnya, mobil dan gadget. Meskipun kedua benda ini nilainya menurun terus, jika dicicil sesuai kemampuan dan tidak melebihi rasio cicilan utang, serta dapat membantu Anda lebih produktif, maka mobil dan gadget dapat dikategorikan sebagai aset yang produktif.
Namun, jangan jadikan alasan demi produktivitas membuat Anda terlalu mudah berutang. Perhitungan cicilannya tetap kembali pada rasio dasarnya. “Terlalu banyak berutang justru akan membuat Anda tidak produktif karena membuat Anda terlalu terbebani dan harus membayar banyak cicilan. Tetap harus ada filter-nya. Walaupun asetnya tangible dan membuat Anda produktif, ketika cicilannya terlalu banyak, hal ini justru dapat membuat Anda kurang produktif.
4/ Efisiensi Investasi
Jika sudah mampu mengalokasikan setidaknya 30% dari penghasilan untuk berinvestasi, Anda perlu mengevaluasi kemampuan Anda dalam mencetak keuntungan melalui investasi tersebut. Misalnya, menabung. Jika dari menabung Anda tidak memperoleh keuntungan, ataupun jika ada, keuntungannya tidak mengejar inflasi, maka investasi Anda menjadi tidak efektif.
Memang, ada beberapa dana yang dialokasikan di produk investasi yang konservatif. Tapi, jika terlalu banyak berinvestasi di produk konservatif, Anda akan kehilangan kesempatan untuk mengejar profit. Padahal, dalam berinvestasi profit menjadi sangat penting karena berguna untuk mengejar inflasi dan mencapai tujuan keuangan.
Jika keuntungan yang Anda peroleh dari berinvestasi masih di bawah inflasi, maka Anda harus memperluas wacana investasi, memperdalam pengetahuan akan produk-produk investasi, dan meningkatkan pengalaman berinvestasi untuk dapat melakukan diversifikasi.
Cara mengukur efisiensi investasi Anda adalah seberapa besar kegiatan investasi Anda dapat menyumbang penghasilan Anda. Jika Anda sudah ada pendapatan dari gaji, apakah Anda ada pemasukan juga dari hasil investasi? “Tentu yang ideal penghasilan investasi sama dengan penghasilan gaji. Itu yang dinamakan financial freedom,” papar Mike.
Investasi yang high risk belum tentu efisien, meskipun high risk berarti high return. Tapi, ada faktor biaya yang perlu kita perhitungkan karena dapat menggerus keuntungan investasi. Misalnya, aset properti yang tidak disewakan. Memang, nilai properti pasti akan terus meningkat. Namun, di sisi lain, ada dana perawatan properti yang perlu Anda keluarkan. Dengan demikian, jika tidak disewakan, maka properti Anda tidak dapat memberi pemasukan, namun membutuhkan biaya untuk perawatan.
5/ Memiliki Awareness terhadap Passive Income
Kita tidak bisa selalu aktif bekerja. Jadi, kita membutuhkan sumber dana yang bisa menghasilkan pendapatan secara rutin. Sehingga, ketika pada usia tertentu kita tak lagi produktif, pendapatan ini bisa membiayai biaya hidup kita. Untuk itu, kita perlu memiliki mindset bahwa kita harus memiliki passive income dengan cara membeli aset atau produk investasi. Dan jika ingin hidup optimal, seseorang perlu merintis untuk memiliki passive income.
Beberapa contoh aset atau produk investasi yang bisa memberikan pendapatan adalah aset keuangan, seperti deposito, dan obligasi (retail dan korporasi). Selain itu, ada juga aset alternatif, seperti properti yang disewakan dan emas, batu permata, maupun barang koleksi yang dapat diperjual-belikan. Yang berikutnya adalah aset bisnis. (f)
Baca juga:
3 Trik Mengevaluasi Keuangan Pribadi
Cesy Yulia


