Berdasarkan data yang dilansir oleh FAO, kawasan Amerika Utara dan Oceania menjadi kawasan dengan angka pembuangan sisa makanan terbesar di dunia. Diikuti oleh kasawan Eropa, kawasan industri Asia, kawasan Afrika, Asia Tengah dan Asia Timur, serta Amerika Latin. Sedangkan negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara menduduki peringkat terakhir sebagai penyumbang sampah makanan di dunia.Melihat angka makanan yang terbuang, kita patut cemas, karena secara bersamaan kita kerap mengeluh tentang pasokan makanan yang tidak lagi cukup. Mulai dari isu kelaparan hingga harga bahan pangan yang terus melambung. Perlu disadari bahwa ketika kita membuang sisa makanan berarti kita juga turut membuang secara sia-sia sumber daya air, tanah, energi, dan manusia. Padahal, semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Meningkatnya permintaan kita akan kebutuhan pangan pada akhirnya akan memengaruhi pasokan makanan di dalam negeri. Dampaknya seperti mata rantai yang saling terkait, mulai dari pasokan yang terkesan sedikit hingga tak memenuhi kebutuhan pasar, lalu harga bahan pangan yang melambung tinggi, hingga mencari segala cara untuk memenuhi permintaan pasar tersebut dengan membuka keran ekspor. Swasembada pangan pun menjadi keinginan yang mungkin sulit dicapai dengan jumlah penduduk yang kian meningkat, permintaan yang terus bertambah, namun sumber daya untuk memenuhi semua itu terbatas jumlahnya.
Angka permintaan pangan yang terus meningkat juga bisa berdampak buruk pada lingkungan kita. Margareth Meutia, Footprint Campaign Coordinator dari WWF Indonesia, menjelaskan, ketika kita menggunakan bahan makanan secara berlebihan hal ini bisa mendorong peningkatan permintaan. Ditambah dengan pertumbuhan populasi, permintaan menjadi makin meningkat dan ini akan memicu produksi besar-besaran, yang pada akhirnya justru bisa merusak lingkungan.
Melambungnya beberapa harga kebutuhan pangan belakangan ini sepertinya tidak bisa dipisahkan pula dari kenyataan kebutuhan pangan kita yang besar masih banyak bergantung pada ekspor. Maka, ketika kondisi keuangan dunia terguncang, dan memengaruhi kurs dolar dan rupiah, harga-harga bahan pangan tersebut akan ikut melambung. “Melambungnya nilai tukar dolar AS sudah pasti berdampak pada harga jual ke konsumen,” ungkap Farah Dini Novita BA(Hons),RFA,CFP, Perencana Keuangan dari Janus Financial.
Menurut Farah, apa yang kemudian terjadi di tiap rumah tangga adalah pengeluaran untuk konsumsi akan ikut bertambah. Memang, salah satu cara yang dapat dipakai untuk menyiasati harga kebutuhan pangan meningkat adalah dengan mencari alternatif bahan makanan dari produk lokal. Selain faktor harga, hal ini juga bisa mendukung para petani lokal kita.
Tapi, sebagai konsumen, inilah saatnya kita harus lebih cermat dan berpikir berkali-kali untuk lapar mata dan membuang-buang sisa makanan. Self control memang dibutuhkan untuk tidak menghabiskan uang demi membeli bahan makanan yang pada akhirnya hanya akan terbuang percuma. Padahal, harganya mahal. “Ingatlah, hal ini akan memengaruhi cashflow Anda secara keseluruhan,” ungkap Farah.
Berbicara soal kebutuhan akan makanan, rasanya sudah saatnya kita menjadi konsumen yang mengonsumsi dengan baik dan bijak. Agar kebutuhan pangan kita tetap terpenuhi dan tidak berakhir sia-sia di tempat sampah. Mungkin satu butir beras yang terbuang terlihat tidak berarti, tapi ketika menjadi 1.000 butir beras bisa menjadi sangat berarti. (f)
Faunda Liswijayanti
Baca juga:
Budaya Makan Orang Indonesia
Stop Buang Makanan


