Sementara mayoritas orang bekerja keras demi aktualisasi dan kesuksesan diri pribadi, para pencari bakat ini justru bekerja keras demi menyukseskan orang lain. Padahal, kesuksesan maupun ketenaran dari pemilik-pemilik bakat yang mereka orbitkan tak selalu membuahkan hal yang sama untuk diri mereka sendiri.Psikolog Roslina Verauli melihat hal ini sebagai hal yang wajar. “Pada pencari bakat, justru indikator kesuksesan mereka adalah ketika orang-orang yang mereka temukan berhasil mencapai titik yang mereka cita-citakan. Mereka akan merasa bangga ketika mampu membuat orang lain menjadi besar,” ujarnya.
Menurutnya, pada dasarnya tiap orang memiliki hasrat untuk menjadi superior. “Bukan superior yang bermakna kekuasaan, tapi superior dalam konteks menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena, kita semua berasal dari inferiority. Pada orang-orang pencari bakat, mereka mencari superiority dengan membantu orang lain mengembangkan potensi, menyalurkan bakat, dan mencapai cita-citanya,” ungkap Vera.
Pasalnya, ada orang yang memiliki kecerdasan, kemampuan, dan pemahaman mendalam atas bidang tertentu, tapi dia tidak mampu untuk tampil. “Ada beberapa alasan. Pertama, ia mungkin memiliki penghayatan diri negatif, penampilan fisik kurang menarik, tidak pede terhadap kemampuannya, atau kemampuannya memang tidak cukup kuat untuk ditampilkan on stage,” jelasnya.
Penghayatan diri ini terbentuk oleh pemahaman akan konsep dirinya. Konsep diri adalah pandangan atau kesan individu terhadap dirinya secara menyeluruh yang meliputi pengetahuan tentang diri sendiri, harapan untuk diri sendiri, dan evaluasi mengenai diri sendiri. Konsep diri terbentuk dari self image, melalui proses bertanya pada diri sendiri, seperti, ‘Siapakah saya?’, ‘Apa peran saya dalam kehidupan?’, ‘Bagaimana nilai-nilai yang saya anut?’, ‘Baik atau buruk?’, serta ‘Ingin jadi apa saya kelak?’.
Konsep diri seseorang juga erat kaitannya dengan pandangannya terhadap keadaan fisik, aspek psikis, aspek sosial, aspek moral, serta pemahaman atas kemampuan yang dimiliki (kelebihan maupun kekurangan). Selain itu, pandangan seseorang terhadap tujuan dan rencana hidup, serta aspek seksual (identitas seksual, jenis kelamin, maupun orientasi seksual) dirinya pun memengaruhi konsep diri orang tersebut.
Secara keseluruhan, konsep diri meliputi extant self (siapa saya pada saat ini), desired self (diri yang saya inginkan), serta presenting self (diri yang saya tampilkan di lingkungan). “Kesenjangan di antara ketiga faktor tersebut dapat menyebabkan kepercayaan diri yang rendah, sehingga akhirnya membentuk konsep dan penghayatan diri yang negatif,” ujar Vera.
Namun, semua orang memiliki tujuan hidup. Yang perlu dipahami, aksi atau tindakan dalam hidup merupakan manifestasi dari sesuatu. “Sehingga, bisa jadi tindakan untuk mengorbitkan orang lain itu merupakan manifestasi pencari bakat dari pengalaman kegagalannya untuk sukses di bidang tertentu, jadi ia mau membuat orang lain berhasil. Atau ia tidak mampu untuk tampil, jadi ia ingin membuat orang lain mampu untuk tampil,” jelasnya. Tidak mampu di sini bukan berarti skill mereka di bidang itu kurang, tapi mungkin karena mereka kurang percaya diri.
Pengalaman-pengalaman itu memberi mereka modal pengetahuan atau pemahaman yang lebih luas atas suatu bidang. Kemudian, mereka pun bertekad membantu orang lain untuk berhasil. “Karena mereka tahu, meski memiliki kemampuan, mereka tidak bisa menampilkannya ‘on stage’. Jadi, ia memberikan pengetahuan atau kemampuannya kepada orang lain untuk ditampilkan,” lanjut Vera.
Jadi, mereka menilai diri mereka berhasil ketika pemilik-pemilik bakat yang mereka temukan sukses, karyanya dikenal dan disukai orang, serta mampu bersinar di bidang yang digelutinya. Karena itu, kesuksesan pencari bakat sangat tergantung dari pemilik bakat itu sendiri. “Pencari bakat hanya memfasilitasi tahap-tahap yang harus dilalui oleh pemilik bakat. Tapi, bagaimana pemilik bakat menghadapi kesempatan yang diberikan, menjadi penentu dari kesuksesannya,” tutur Vera. (f)
Baca juga:
Mata Ketiga Pencari Bakat


