Health & Diet
6 Cara Menjaga Kesehatan Lutut

20 Aug 2016


Foto: Fotosearch

Fungsinya begitu besar: menopang tubuh. Namun sayangnya, sering kali luput dari perhatian. Biasanya baru tersadar saat lutut sudah mengalami masalah hingga mengganggu aktivitas Anda. Menurut dr. Andre Pontoh, SpOT (K), dari Jakarta Knee & Shoulder Orthopaedic Sports Center, Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, soal lutut bukan hanya penting diperhatikan oleh mereka yang sudah berusia lanjut, tapi juga yang masih berusia muda. “Di usia 20-an mungkin tidak terasa apa-apa, tapi jika tidak hati-hati, di usia 30-an bisa-bisa sudah banyak keluhan muncul,” ujarnya. Jika ingin selalu nyaman melenggang, perhatikan hal berikut ini.   

1/ Turunkan berat badan
Bayangkan saat seseorang naik mobil,  makin berat bobot tubuhnya, shockbreaker mobil akan bekerja lebih berat dan lama-kelamaan akan kehilangan kelenturannya.  Di dalam tempurung lutut kita terdapat struktur seperti tulang rawan (cartilage) dan meniscus yang berfungsi seperti shockbreaker, bantalan yang menjaga agar tulang paha dan tungkai tidak bergesekan.  

Makin berat tubuh Anda,  makin berat pula beban yang ditanggung lutut, dan lama-kelamaan akan membuat tulang rawan menjadi makin tipis. Itu sebabnya, mereka yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas akan lebih cepat  mengalami osteoarthritis atau awam disebut pengapuran. Makin tipis tulang rawan itu, biasanya lutut akan lebih mudah terasa ngilu, nyeri, mungkin juga berbunyi saat digerakkan. Itu sebabnya, salah satu pesan yang sering dikatakan dokter kepada pasien yang datang dengan keluhan nyeri di lutut adalah, “Turunkan berat badan.”  

“Tanpa mengurangi berat badan, rasa nyeri di lutut yang sering dialami mereka yang kelebihan berat badan akan sulit hilang,” ujar dr. Andre. Yang perlu digarisbawahi, mereka yang obesitas dan ingin menurunkan berat badan, selain harus mengatur pola makan (diet) sebaiknya lakukan olahraga dan aktivitas yang low impact, seperti jalan kaki, renang, bersepeda di jalan datar, yoga, dan aktivitas lainnya yang tidak membuat lutut  makin terbebani oleh berat tubuh. Olahraga high impact dan naik-turun tangga sebaiknya tidak dilakukan saat ingin menurunkan berat badan. Karena, saat  melakukan aktivitas tersebut, lutut malah makin terbebani, antara dua sampai empat kali lipat berat badan kita.
 
2/ Aktivitas fisik yang pas
Ikut tren berolahraga lari, bersepeda, yoga, atau latihan beban di gym adalah gaya hidup yang sehat. Demikian juga dengan naik-turun tangga kantor. Namun, ada yang perlu Anda perhatikan, dalam  tiap olahraga lakukan gerakan dan postur yang ‘ramah’ lutut. Misalnya, pada gerakan squat atau lunges (menekuk lutut sambil merendahkan tubuh), para instruktur kebugaran akan menyarankan untuk menjaga agar posisi lutut tidak lebih maju daripada ujung ibu jari. Saat lutut lebih maju dari ibu jari, beban tubuh pada lutut akan  makin besar. Ini juga terjadi jika Anda menekuk lutut terlalu dalam saat mengayuh sepeda.
Apa pun olahraga yang Anda sukai, jangan lupa untuk menguatkan otot-otot paha. “Otot paha yang kuat akan membantu lutut menopang berat badan,” ujar dr. Andre, membenarkan.
           
3/ Perhatikan alas kaki
Sepatu tumit tinggi
memang bisa meningkatkan rasa percaya diri,  namun sayangnya ini juga memberi tekanan tambahan pada lutut Anda.  “Tinggi hak yang masih aman bagi lutut adalah antara 1 hingga  4 cm,” ujar dr. Andre. Makin sering dan lama Anda mengenakan sepatu tinggi, tulang rawan di lutut akan makin cepat ‘aus’ sehingga jangan heran jika pada usia 30-an saja Anda sudah sering merasakan nyeri lutut. Jika memang tak dapat dihindari, sebaiknya batasi penggunaan tumit tinggi atau pilih sepatu model platform yang bagian depan dan belakangnya sama tinggi sehingga telapak kaki tidak menukik.
 
4/ Rawat secara tepat
Seperti jadi budaya, saat mengalami cedera dan masalah lain pada lutut, sering kali bukannya dirawat secara medis, tapi masyarakat pergi ke ‘dukun’ patah tulang atau tukang urut. Saat lutut terasa nyeri terus-menerus, bukannya mencari pangkal masalahnya, tapi lebih suka mengoleskan krim pereda nyeri. Padahal, jika tak ditangani secara tepat, kerusakan bisa  makin parah,  makin menyakitkan. Pasien seperti itu sering dihadapi  dr. Andre di kliniknya.
Saat Anda merasa tak nyaman atau cedera pada lutut, lakukan penanganan yang tepat. “Pertama, lakukan R.I.C.E (rest, ice, compress, dan elevate). Jika sudah lewat 24 jam tidak ada perubahan atau perbaikan, sebaiknya Anda pergi ke dokter. Terkadang cedera akan sembuh sendiri, namun masalah berat seperti robeknya ligamen, retak tulang, dan sebagainya, perlu penanganan serius,” jelas dr. Andre.
           
5/ Ukur kekuatan diri
Mungkin dulu Anda bisa lari 10 km atau naik-turun gunung tanpa lelah. Tapi,  jika kini lutut Anda lebih mudah merasa ngilu, berarti lutut Anda sudah mengalami degenerasi, perubahan yang mau tak mau mesti diikuti dengan perubahan gaya hidup. “Kalau sudah berusia di atas 40 tahun, sebaiknya hindari olahraga high impact yang sangat membebani lutut. Pada usia itu, tulang rawan di lutut yang sudah mengalami degenerasi akan lebih mudah cedera,” ujar dr. Andre. Beralihlah ke olahraga low impact. Jika memang sudah pernah mengalami cedera, berkonsultasilah dengan dokter, olahraga apa yang boleh dan sebaiknya dihindari. Jika sudah bermasalah dan disarankan untuk mengenakan alat bantu seperti tongkat, jangan merasa malu, karena tongkat akan membantu meringankan kerja lutut Anda.
 
6/ Suplemen lutut, ini cuma mitos
Menurut dr. Andre, kolang-kaling dan sarang burung walet selama ini dipercaya dapat membuat sendi lutut tetap ‘awet muda’, tapi sampai kini belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Demikian juga suplemen glukosamin. Namun, pada tahun 2012, berdasarkan rekomendasi Perkumpulan Orthopaedi di Amerika (AAOS), ternyata suplemen itu tidak memberi pengaruh apa-apa. Salah kaprah lain yang terjadi adalah anggapan bahwa deker --pelindung lutut dari karet-- merupakan jawaban dari masalah lutut Anda. Padahal, menurut dr. Andre, beban lutut itu dari atas, sementara deker hanya menahan gerakan lutut ke kanan dan kiri, sehingga hampir tak ada pengaruhnya selain membuat Anda lebih hati-hati bergerak dan memberi rasa nyaman sementara. Deker, bantalan pelindung lutut, yang biasa dipakai saat berolahraga berguna untuk melindungi lutut dari benturan. Setidaknya ini akan melindungi lutut Anda dari cedera. (f)
 

 
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?