
Foto: Dok. Femina
Dalam berbagai perayaan, baik itu perayaan keagamaan, adat, hingga menyambut musim, hidangan tak pernah terlewatkan. Tak jarang makanan untuk hidangan tersebut disiapkan dengan teliti hingga menjadi sajian unik dan mampu menonjolkan makna yang tersirat di dalamnya.
Dari segi budaya pun, makanan dianggap sebagai simbol atau lambang sebuah harapan. “Dalam setiap perayaan, makanan selalu ada karena makanan merupakan kebutuhan biologis yang mendasar. Tak heran jika kehadirannya menjadi sangat penting dalam setiap momen kehidupan. Hal ini tak hanya berlaku di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia,” tutur Irwan M. Hidayana, ketua bidang studi Antropologi FISIP UI.
Salah satu di antaranya adalah tumpeng yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di Jawa dan Bali. Hampir di setiap upacara, seperti syukuran kelahiran, ulang tahun, hingga pernikahan, tumpeng selalu ada.
Tak pernah diketahui dengan pasti sejak kapan tumpeng mulai dikenal. Yang jelas, kehadiran nasi berbentuk kerucut, disertai lauk-pauk pilihan ini, begitu sarat makna. Ada 16 jenis tumpeng yang dikenal dalam budaya Jawa. Bentuk yang menjulang ke atas, menyimpan harapan agar kehidupan manusia makin ‘naik’ atau ‘tinggi’. Saat acara berlangsung, tumpeng dipotong bagian pucuknya oleh si pemilik acara, untuk diberi kepada orang yang dituakan atau dihormati. Selanjutnya, tumpeng boleh disantap oleh semua tamu yang hadir, sebagai perlambang berbagi rezeki.
Nasi kerucut ini ditata di atas wadah berhias daun. Di sekelilingnya tersaji lauk-pauk yang memang disyaratkan untuk tumpeng dan tiap lauk-pauk punya perlambang masing-masing. Lauk-pauknya sendiri harus lengkap, terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi), hewan laut (lele atau ikan teri), telur, dan sayur- mayur yang umumnya dibuat urap (kangkung, bayam, taoge, dan kacang panjang).
Cek juga: Resep Sambal Goreng Udang dan Kentang
Ayam dipilih karena mewakili hewan yang sering dikonsumsi manusia. Untuk tumpeng kuning, biasanya dipakai ayam goreng kuning, sedangkan untuk tumpeng putih biasanya menggunakan ayam ingkung (ayam utuh panggang). Lele dipilih karena melambangkan kerendahan hati, sesuai dengan kebiasaan hidup lele di dasar sungai. (f)


