Kebiasaan memotong tumpeng pada bagian pucuk, sebenarnya memiliki makna negatif. Cara ini bermakna memotong hubungan antara manusia dengan Tuhan. Cara yang benar adalah mengepung tumpeng. Yaitu, bersama-sama menikmati tumpeng mulai dari dasar hingga pucuk tumpeng. Perlambang semakin sempurna dan semakin mendekati Tuhan.Menu tumpeng yang merupakan kebiasaan makan masyarakat Jawa ternyata sejalan dengan piramida makanan, yang kini banyak digunakan yaitu Tumpeng Gizi Seimbang (TGS). TGS sendiri meragakan 4 prinsip GS, yaitu menyantap aneka ragam makanan sesuai kebutuhan, kebersihan, aktivitas fisik dan memantau berat badan ideal.
Dalam tradisi Keraton Yogyakarta, tumpeng digunakan setidaknya 12 kali dalam upacara penting di kehidupan manusia. Di antaranya, upacara kehamilan, upacara kelahiran, upacara akhil baliq (peralihan dari masa anak-anak menuju remaja atau dewasa), hingga upacara kenaikan tahta. Belum lagi upacara hari besar keagamaan yang selalu menghadirkan tumpeng berukuran besar.
Ada 16 jenis tumpeng yang dikenal dalam budaya Jawa. Penggunaannya berbeda di setiap acara. Dan, tidak semua tumpeng hadir untuk dimakan. Sebut saja, Tumpeng Megana (untuk upacara kehamilan atau kelahiran), Tumpeng Robyong (untuk upacara kelahiran), Tumpeng Adhem-Adheman (menjaga hubungan antara manusia dengan alam ghaib, seraya berharap agar upacara yang berjalan tidak ada kendala), hingga Tumpeng Pustoko (perlambang keyakinan masyarakat dalam menuntu ilmu).
TUMPENG: Tergantung Simbolnya!
- Tumpeng Kapuranto: Tumpeng berwarna biru dengan lauk yang hampir sama dengan nasi tumpeng pada umumnya. Antara lain, sambal goreng daging, urap, bakmi, telur rebus, hingga perkedel. Merupakan simbol permohonan maaf.
- Tumpeng Kendhit: Tumpeng tiga lapis yang terdiri dari, nasi putih, nasi kuning, dan nasi putih. Lauk pauknya serupa dengan nasi tumpeng, kecuali telurnya bukan menggunakan telur rebus melainkan telur ceplok. Merupakan simbol permohonan jalan keluar dari kesulitan hidup dan dijauhkan dari segala gangguan.
- Tumpeng Ponco Warno: Terdiri dari lima macam tumpeng dengan warna berbeda-beda, yakni putih, kuning, biru, merah, dan hijau. Selain dilengkapi lauk, tumpeng ini juga didampingi buah-buahan muda, irisan ubi jalar dan ubi kayu, hingga bunga setaman. Sebagai simbol untuk menjaga hubungan antara manusia dengan alam ghaib, seraya berharap agar upacara yang berjalan tidak ada kendala.
- Tumpeng Pungkur: Terbuat dari tumpeng nasi putih yang dibelah dua dari pucuk ke bawah, sama rata. Kemudian irisan setengah kerucut, masing-masing diputar sehingga bagian sisi yang miring saling berdekatan. Lauknya berupa sayuran rebus, telur rebus, dan bumbu urap. Sebagai simbol dalam upacara kematian.


