Event
Bisnis Manis Kopi di Tanah Air

10 Sep 2018


Foto: RFF


Bisnis es kopi susu kini tengah menjamur di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Di hari pamungkas Jakarta Eat Festival 2018 (2/9/2018), Aston Utan dan Mikail Jasin yang menghadirkan St. Ali dan Sensory Lab di Jakarta, dan juga mendirikan Common Grounds Coffee Roaster, menceritakan perjalanan mereka ketika terjun mendalami bisnis kopi.

Ada juga Ve Handojo pemilik ABCD School of Coffee yang berbagi kisah tentang prospek manis bisnis kopi yang tengah jadi tren saat ini.

“Tahun 2014, saya mulai penasaran tentang kopi ketika waktu itu buka kedai kopi di Pasar Santa. Banyak sekali kedai kopi kecil di sana yang laku diserbu pembeli yang datang jauh-jauh hingga dari luar kota. Akhirnya, lalu saya pikir mengapa tidak mendirikan kelas untuk mereka yang ingin terjun ke bisnis kopi bisa mempelajari seluk-beluk kopi,” ujar Ve Handojo, membuka talkshow.
 
Meski belum punya gambaran akan business plan-nya seperti apa, Ve melihat prospek akan semakin meningkatnya kebutuhan orang untuk mendalami bisnis di bidang kopi seiring kultur menikmati specialty coffee yang semakin kental di tanah air.

Insting bisnis Ve terbukti benar, dari 1200 siswa yang pernah belajar di ABCD Coffee Roaster, 90% nya berharap bisa menjalankan coffee shop kecil.

“Kini, sudah ada 60-70 coffee shop hingga ke daerah-daerah seperti Karawang dan Palu, Sulawesi Selatan,” ujarnya, senang.

Jika Ve ingin memberikan wadah untuk memfasilitasi keingintahuan orang tentang menjalankan bisnis kopi dan mengubah tren dari yang sekedar penikmat menjadi pebisnis kopi, maka Aston Utan & Mikail Jasin terjun ke bisnis kopi karena passion besar mereka untuk menyediakan specialty coffee berkualitas di tanah air.

Ide bisnis mendirikan coffee shop ini muncul ketika ia kesulitan untuk menemukan tempat ngopi yang tak hanya ambience-nya enak buat nongkrong tapi juga cita rasa kopinya enak.

“Di Melbourne dan Sydney banyak banget coffee shop dan rasanya juga enak. Sementara di Indonesia, sulit sekali untuk menemukan coffee shop yang enak saat itu,” kata Aston Utan menceritakan awal sebelum ia akhirnya mendirikan Common Grounds bersama 2 orang partnernya di tahun 2014 dan membawa brand St. Ali asal Melbourne ke Indonesia dua tahun lalu.

Kesuksesan Common Grounds merupakan hasil pembelajaran dari usaha Pandawa Coffee yang juga pernah dijalankan sebelumnya.

Misinya tak hanya memperkenalkan specialty coffee ke Indonesia tapi juga memberikan masa depan dan jenjang karier yang lebih baik pada barista-barista yang bekerja di sana. “Selain harus bisa meracik kopi yang enak, service juga perlu diperhatikan karena seberapa nikmatnya kopi jika pelayanan buruk maka kopi akan terasa pahit,” tukas Aston yang selalu mengingatkan hal ini pada stafnya.

Mengomentasi akan kesuksesan bisnis specialty coffee, Mikail Jasin berkomentar,” “Pada dasarnya bangsa Indonesia itu peminum kopi. Market-nya sudah ready.”

Fakta ini bisa terlihat dari booming-nya akan tren es kopi susu saat ini.

“Es kopi susu menjembatani permintaan pasar akan kopi yang ‘lebih tinggi’ kelasnya dari kopi sachet. Tidak semua orang mampu menjangkau specialty coffee, kan. Jadi, masyarakat kita ‘naik kelas’ dari yang biasanya minum kopinya kopi sachet, sekarang mereka minumnya es kopi susu,” cetus Aston.
 
Tren es kopi susu membuktikan bahwa pasar memang menginginkan bisa menikmati kopi dengan lebih nikmat lagi. Tak salah jika saat ini sudah saatnya pebisnis kopi mendalami lebih jauh pengetahuan tentang kopi agar bisa menyajikan kopi-kopi yang enak dan berkualitas tinggi. (f)

Baca Juga:

Coffee Roasting 101 di Jakarta Eat Festival 2018
Buka-bukaan Resep Menjadikan Bisnis Kuliner Jadi Viral Dalam Jakarta Eat Festival 2018
Indonesia Surganya Bahan Makanan Gluten-Free & Rempah

 

Reynette Fausto


Topic

#JEF2018, #Kopi, #Jakartaeatfestival, #JEF, #JEFCOFFEE

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.