
Foto: Fotosearch
Angga Dwimas Sasongko (31) mulai tertarik membuat film pendek sejak SMA. Menurutnya, kemajuan industri film tanah air tidak hanya dilihat dari hasil karya atau infrastruktur semata, tapi juga ditunjang oleh intangible asset, yaitu bakat. “Oleh sebab itu, harus ada regenerasi. Pembuat film dan penulis naskah baru harus terus ada,” tutur sutradara Filosofi Kopi yang meraih gelar Best Ensemble Performance di World Premieres Film Festival 2015 di Filipina, ini.
Ia merasa bahwa ruang berkreasi generasi baru pembuat film dan penulis naskah masih terbuka lebar. Film pendek bisa menjadi media pembelajaran yang menantang. “Film pendek tidak membutuhkan dana besar. Plot cerita dalam durasi pendek menjadi cara terbaik para sineas muda untuk beradaptasi dengan film panjang yang memiliki alur cerita lebih kompleks,” cetus alumnus FISIP Universitas Indonesia ini. (f)
Baca juga:
Ia merasa bahwa ruang berkreasi generasi baru pembuat film dan penulis naskah masih terbuka lebar. Film pendek bisa menjadi media pembelajaran yang menantang. “Film pendek tidak membutuhkan dana besar. Plot cerita dalam durasi pendek menjadi cara terbaik para sineas muda untuk beradaptasi dengan film panjang yang memiliki alur cerita lebih kompleks,” cetus alumnus FISIP Universitas Indonesia ini. (f)
Baca juga:
- Anggia Kharisma-Angga Dwimas Sasongko Merayakan Perbedaan
- Plagiarisme, Antara Terinspirasi atau Mengadaptasi?
Topic
#anggadwimassasongko


