
Sekitar 52% karyawan di Amerika Serikat tidak bahagia di tempat kerja. Setidaknya itu hasil survei yang dilakukan oleh Conference Board, organisasi riset nirlaba yang berada di New York, AS, pada tahun 2014. Survei ini dilakukan sejak 1987. Ketika itu, sebanyak 61% responden mengatakan bahwa mereka bahagia di tempat kerjanya. Sekilas, kita dapat menyimpulkan, tingkat kebahagiaan karyawan terus menurun.
Dina Sandri Fanny, Senior General Manager Human Resources PT Mitra Adi Perkasa, mengatakan, kebahagiaan dan engagement karyawan adalah dua hal yang menjadi concern utama tiap perusahaan. Namun, biasanya perusahaan lebih memprioritaskan engagement ketimbang kebahagiaan. “Bukannya tidak menganggap kebahagiaan lebih penting, tingkat engagement karyawan lebih mudah diukur ketimbang kebahagiaan,” papar Fanny, yang juga Pemenang I Kompetisi Wanita Karier Femina 2012/2013.
Secara singkat, employee engagement adalah komitmen emosional atau sense of belonging karyawan terhadap perusahaan dan tujuan-tujuannya. Employee engagement dapat terlihat dari kinerja karyawan, prestasi, kontribusi dan antusiasmenya terhadap proyek yang dilakukan perusahaan, serta tingkat turn over yang rendah.
Namun, employee engagement yang rendah tidak lantas mencerminkan bahwa karyawan di perusahaan tersebut tidak bahagia. Seseorang bisa saja merasa bahagia di tempat kerjanya, tapi itu tidak berarti mereka bekerja keras atau produktif demi mencapai tujuan-tujuan perusahaannya.
Sebaliknya, employee engagement yang tinggi juga belum tentu bisa meningkatkan kebahagiaan karyawan di tempat kerja. “Kebahagiaan sifatnya sangat personal. Faktor yang membuat karyawan bahagia tentu berbeda satu sama lain. Sulit bagi perusahaan untuk mengontrol kebahagiaan tiap karyawan,” ungkap Fanny.
Meski begitu, tidak berarti perusahaan tidak memedulikan kebahagiaan karyawannya. Terlebih lagi, sebuah riset yang dilakukan oleh neuroscientists Richard Davidson dan V.S. Ramachandran mengungkap satu fakta: orang yang bahagia adalah pekerja yang lebih baik. Mereka yang memiliki keterikatan dengan pekerjaan, biasanya rekan kerjanya cenderung bekerja lebih keras dan juga cerdas.
Studi yang dilakukan Gallup pada tahun 2013 itu juga menemukan, mereka yang bahagia biasanya memiliki motivasi lebih tinggi (36%), enam kali lebih bersemangat, dan dua kali lebih produktif dibandingkan mereka yang tidak bahagia. Hal yang krusial, kebahagiaan juga bisa ‘menular’ dan demikian pula dengan ketidakbahagiaan.
Mari kita lihat lagi ke peran lingkungan sebagai salah satu dari tiga faktor dasar yang membuat orang bahagia di tempat kerja. Sebuah artikel berjudul 16 Things Guaranteed To make You Happy At Work yang dimuat di forbes.com menyarankan kita untuk menjaga jarak dari orang-orang yang berpikiran negatif.
Orang yang suka mengeluh dan berpikiran negatif ‘berkubang’ di dalam permasalahan mereka dan gagal berkonsentrasi pada solusi. Mereka senang jika ada orang lain yang merasakan masalah yang sama. Rupanya, hal itu dapat membuat mereka merasa lebih baik. Yang mengkhawatirkan adalah jika pengaruh negatif itu datang dari atasan yang tidak memiliki keterikatan dengan pekerjaan ataupun perusahaannya.
Sebuah artikel berjudul Being Happy At Work Matters di Harvard Business Review memaparkan bahwa orang-orang yang tidak bahagia dan tidak memiliki keterikatan bukanlah rekan kerja yang menyenangkan. Mereka juga tidak bisa menambahkan nilai dan dapat membawa pengaruh negatif terhadap perusahaan. Lebih gawat lagi jika pihak yang lebih superior yang demikian, karena mereka dapat memengaruhi orang lain dan bawahannya dengan sikap negatif mereka.
Lebih lanjut lagi, artikel tersebut menyebutkan bahwa perasaan kita berpengaruh terhadap cara kita berpikir. Dengan kata lain, pikiran memengaruhi emosi dan emosi memengaruhi cara kita berpikir. Selanjutnya, emosi dan cara berpikir kita pun akan memengaruhi tindakan kita.
Karena itu, Fanny sepakat bahwa atasan memiliki peran penting untuk membangun lingkungan kerja yang positif. “Sebagai pihak yang lebih superior, atasan dapat memengaruhi perasaan atau mood kerja timnya. Menghadapi pekerja masa kini yang didominasi generasi millennials, atasan tidak lagi bisa menerapkan gaya kepemimpinan yang otoriter dan berjarak,” ujar Fanny, berbagi pengalaman.(f)




