Fiction
Namaku, Arimbi [6]

1 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Bangunan bergaya etnik ini sebenarnya tidak terlalu besar. Tetapi, karena penataan ruangnya yang cermat, seakan rumah yang didirikan di atas lahan seluas lima ratus meter persegi ini mengesankan keanggunan yang tidak dimiliki rumah-rumah di sekitarnya. Halamannya yang luas ditumbuhi aneka pepohonan buah yang ditanam di dalam pot besar. Berbagai jenis bunga tumbuh di sana, termasuk aneka jenis anggrek yang ditata rapi di dalam rumah kaca berukuran sedang.

Di beranda, Om Hardi dan Tante sudah menantinya dengan senyum sumringah. Setelah bersalaman dan saling memeluk, Dayu digiring ke ruang keluarga, yang seakan telah disiapkan menerima kedatangannya. Di meja beralaskan taplak bermotif batik, terhidang kue tradisional khas Sunda. Ada opak, wajit, dodol, rengginang, dan banyak lagi. Sebagian terhidang di atas piring besar, sebagian lagi tertata apik di dalam stoples yang terbuat dari kaca tebal.

”Gimana dengan kuliahmu, Yu?” tanya Om Hardi tiba-tiba.

Dayu kaget disodori pertanyaan yang di luar dugaannya. Bagaimana tidak, ia belum memberi tahu perihal kuliahnya di Inggris.

”Rina yang cerita pada Om,” jelasnya, sambil terkekeh, memperhatikan raut wajah Dayu yang kaget.

”Rina?” susul Dayu. Ingatannya langsung ke Rina si Cucak Rawa.

”Ya, Rina. Teman kuliahmu dulu di Unpad. Kamu lupa, ya, dia kan masih keponakan jauh Om,” jelasnya.

”Masih, Om. Sekarang saya sedang nyiapin riset untuk disertasi. Mudah-mudahan dua tahun lagi beres. Doakan saja, ya, Om, Tante,” pintanya pada tuan rumah yang sudah dianggapnya sebagai pengganti orang tuanya.

Ya, Dayu memerlukan figur ayah baru. Kehadiran Arimbi telah mengikis secara perlahan kekagumannya pada sang ayah.

Dari obrolannya Dayu mulai menelisik informasi tentang ayahnya, terutama di seputaran tahun 1964-1965. Percakapan berlangsung seperti halnya temu kangen antara orang tua dan anak. Tetapi, ketika secara spontan dari mulut Dayu keluar kata Tante Arimbi, mendadak ekspresi Om Hardi menegang.

”Om tahu Tante Arimbi?” ulang Dayu, berusaha mendapat jawaban dari Om Hardi.

Cukup lama Om Hardi tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

”Ayo, diminum dulu bajigurnya. Nanti keburu dingin,” Tante Mira seakan berusaha mencairkan suasanayang tiba-tiba membeku.

Tersadar bila pertanyaannya menyebabkan Om Hardi kehilangan kata-katanya, Dayu meladeni permintaan tantenya.

”Terima kasih, Tante! Kelihatannya enak. Siapa yang buat? Tante sendiri?” basa-basi itu sekan meluncur begitu saja dari mulut Dayu yang mulai merasa kikuk ditatap tajam Om Hardi. Untunglah Tante sedikit menepuk tangan kiri suaminya. Om Hardi seakan baru tersadar dari lamunannya.

”Arimbi? Tante Arimbi? Nggak pernah tahu, tuh. Om malah baru dengar sekarang,” timpal Om Hardi memecah kebekuan. Senyumnya kembali cair, meski dari sudut matanya Dayu melihat ada sesuatu yang disembunyikan.

Jangan-jangan mereka sekongkol, batin Dayu dalam hati.

Setelah bersusah payah menolak makan siang, karena alasan bertemu seorang guru besar di Unpad, akhirnya Dayu menyantap hidangan di atas meja makan. Meski menu masakan Sunda hadir lengkap di atas meja, sejujurnya selera makan Dayu sudah menguap sejak percakapan tadi.

Dayu kembali ke hotel untuk merebahkan diri di atas matras empuk di dalam kamar yang pendinginnya ia matikan. Jendela kamar dibuka lebar-lebar. Terkadang ia meradang melihat perilaku manusia yang sok modern. Sudah jelas CFC yang digunakan pendingin ruangan turut andil atas bolongnya lapisan ozon di atas kutub utara, tapi malah kian banyak orang yang memakainya. Dayu ingat betul suhu udara Bandung saat ia masih kuliah dulu. Kalau nggak pakai selimut di malam hari, dijamin esok paginya masuk angin.

Sekarang? Hawa Bandung makin panas, tak ada bedanya dengan Jakarta atau Surabaya! Gara-garanya, apa lagi kalau bukan penggundulan kawasan Bandung Utara yang semula dijadikan daerah konservasi air. Kini di daerah itu bermunculan kawasan permukiman mahal yang justru merusak lingkungan. Belum lagi meruyaknya jumlah kendaraan di kota yang semula berpenduduk kurang dari 2 juta orang ini, kini di hampir setiap rumah pasti ada kendaraan roda empat. Tidak terhitung pertumbuhan kendaraan roda empat. Ibaratnya Bandung menjadi kota padat tanpa perencanaan.

Kadang-kadang ia iri dengan kota-kota lain di luar Bandung, seperti Cirebon, Ciamis, atau Yogyakarta dan Semarang. Kok, bisa-bisanya pemerintah setempat mengelola kotanya tertata, bersih dan ramah bagi penghuninya. Apalagi, dibandingkan dengan kota-kota di Inggris, yang memang penduduknya terbatas. Tetapi, bagaimanapun Dayu masih mencintai Bandung, meski kadarnya mulai menyusut.

MEDITASI

Sambil berselonjor di atas sofa empuk, Dayu browsing di internet. Sejak kuliah di Inggris, ia hampir tidak pernah lupa membawa berbagai gadget yang memudahkannya berkomunikasi dengan dunia luar. Di ranselnya, selain smartphone dan laptop, ia selalu membawa modem. Jadi, di mana pun berada, selama masih ada sinyal telepon, ia masih bisa menggunakan internet. Karena, tidak semua tempat menyediakan fasilitas hot spot.

Di layar laptop, terlihat jendela mesin pencari Google sedang aktif. Dayu sedang menelusuri setiap kata yang berhubungan dengan Arimbi. Meski sejak kecil sering diajak menonton pertunjukan wayang golek, terutama saat musim hajat tiba, Dayu kurang suka pada salah satu kesenian tradisional Sunda yang masih hidup hingga kini. Ia tahu ada tokoh Arimbi dalam pewayangan. Tapi, hanya sebatas nama.

Setelah kuliah di antropologi, Dayu mulai tertarik. Ia mulai dipaksa menyukai seni tradisional, termasuk wayang golek. Bagaimanapun, ini merupakan akar budayanya.

Dari penelusurannya di internet, Dayu mencoba mencari tahu lebih banyak tentang tokoh Arimbi. Saat masuk ke Google, ada begitu banyak link pencarian ke nama Arimbi. Salah satunya melalui sebuah ensiklopedia maya.

Dari situs yang membahas Arimbi atau epik Mahabharata, Dayu merasa kekayaan intelektualnya tentang seni pewayangan bertambah dengan cepat. Dalam kisah kepahlawanan Mahabharata yang bermula dari India, yang kemudian diadaptasi menjadi pakem seni perwayangan, tokoh Arimbi digambarkan sebagai sosok raksasa perempuan atau rakshasi yang memiliki nama lain, yakni Hidimbi. Ia menikah dengan Bima, salah seorang tokoh Pandawa Lima, kemudian melahirkan Gatotkaca. Dalam budaya pewayangan Jawa, tokoh Hidimbi dikenal dengan sebutan Arimbi!

Dari cerita pewayangan pula dikisahkan, Dewi Arimbi yang putri mahkota kerajaan Pringgodani. Sebagai keturunan raja raksasa yang sangat berkuasa, Arimbi mewarisi sifat jujur, setia serta berbakti kepada keluarganya. Ia pun memiliki kesaktian yang ia dapatkan dari Dewi Kunti, sehingga bisa beralih wujud dari seorang raksasa menjadi putri cantik jelita.

Keteladanan dan pengorbanannya sebagai ibu dibuktikan saat ia harus membela Gatotkaca di medan Perang Bharatayuddha. Dewi Arimbi gugur di medan perang setelah anak panah milik Adipati Karna bernama Kunta Wijayandanu (Konta) menembus tubuhnya yang telah bersimbah darah. Dayu jadi teringat pada sosok perempuan raksasa hijau, Putri Fiona, dari negeri Farfaraway yang berjodoh dengan pria raksasa jorok berhati baik, Shrek. Barangkali, begitulah perwujudan Dewi Arimbi dalam bentuk budaya populer.


Penulis: Hadi PM



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?