<< cerita sebelumnyaSelain mendapat kesan mendalam di Jerman, Dayu sempat terpesona oleh keindahan Pegunungan Alpen saat melintas ke Swiss. Keindahan kanal-kanal yang membelah Venesia di Italia. Terkagum-kagum melihat sisa-sisa kejayaan dinasti Islam di Spanyol yang terkenal dengan Istana Merah-nya. Serta pesona romantis Menara Eiffel saat malam tiba. Sempat terpikir mencari pria Prancis yang konon romantis sebagai pasangan hidup. Tetapi, ah, itu hanya pikiran nakalnya saat dibuai pesona Paris. ”Aku harus menyelesaikan kuliahku dulu, baru memikirkan pasangan,” pikir Dayu saat itu.
Semua kenangan indah yang terpatri dalam ingatannya saat melakukan perjalanan panjang yang ditempuhnya dengan kereta Trans Eropa, berakhir di London. Ia kembali bergegas ke Universitas Birmingham dengan metro dalam waktu sejam. Di flat-nya yang tidak terlalu luas, Dayu mulai menyiapkan agenda baru menyongsong hari-hari yang akan disibukkan dengan pembuatan makalah, presentasi, dan riset.
Dayu tersentak dari lamunannya, ketika dikejutkan tepukan keras di bahunya. ”Hayo, melamun, ya!” sergah suara cempreng yang ia kenali milik salah seorang sahabatnya dulu.
Rina? Ya, Rina! Si pemilik suara cempreng yang dulu sempat menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan Dayu. Teman satu kos, yang kemudian menikah cepat dengan tunangannya itu, kini berdiri dengan mata terbelalak di samping Dayu.
”Rina!” teriak Dayu, sambil memeluk temannya gembira meluap. Begitu juga Rina, wanita yang kini berjilbab itu memeluk erat Dayu sambil sesenggukan. Biasa, saat dua sahabat berpisah cukup lama, akan sangat terbawa suasana melankolis.
”Kamu ke mana aja, Yu?” ujar Rina, sambil menyeka air mata yang berurai di pipinya yang putih. ”Bukannya kamu sedang S-3 di Inggris? Kok, ada di Bandung, sih?” cecar Rina.
Dicecar pertanyaan bertubi-tubi, Dayu hanya bisa tersenyum kecut. Kegembiraan yang meluap menyulitkannya cepat menjawab pertanyaan tadi. Setelah kembali duduk, barulah Dayu menjelaskan.
”Sebenarnya aku memang seharusnya di Inggris, Rin! Tetapi, ayahku meninggal empat hari lalu. Ibuku yang langsung memintaku pulang.”
Rina terenyak.
”Sorry, ya, Rin, aku belum sempat memberi tahu kamu soal ini. Soalnya, aku terlalu disibukkan oleh urusan kepulanganku dari Inggris,” ujarnya kepada temannya yang mulai manyun itu. Bagaimanapun, Rina adalah teman terbaik Dayu. Rina juga sudah sangat akrab dengan keluarga Dayu. Bahkan, ibu Dayu sering memperlakukan Rina seperti anaknya sendiri. Kedekatan inilah yang mempersatukan keduanya, sampai akhirnya Rina harus menikah lebih dini hanya karena untuk memenuhi keinginan keluarganya.
”Bodohnya aku, sampai lupa ngasih tahu si Cucak Rawa ini,” rutuk Dayu dalam hati. Menyesali kealpaannya memberi tahu Rina soal kematian ayahnya.
Setelah ngobrol cukup lama, keduanya berpisah sambil menitipkan pesan agar masing-masing diberi keselamatan dan kebahagiaan.
Pertemuannya dengan Rina sedikit melegakan kepenatan batin Dayu. Tetapi, selama teka-teki Arimbi belum terpecahkan, batinnya akan terus meradang.
Entah kenapa, tiba-tiba mata Dayu tertuju pada foto lama yang memperlihatkan ayahnya sedang berkumpul di lapangan. Mungkin setelah acara tujuh belas Agustusan. Di belakang terlihat samar spanduk bertuliskan ’HUT RI ke-19’. Artinya, foto diambil pada bulan Agustus 1964, dua belas tahun sebelum ia lahir.
Mata Dayu tertuju pada sosok pria simpatik berkacamata, di sebelah ayahnya. Om Hardi! Ya, Om Hardi staf ayahnya saat bertugas di Tanggulung, afdeling yang letaknya 25 kilometer barat daya Subang. Ia masih ingat saat ayahnya melakukan napak tilas ke sana.
”Di mana Om Hardi sekarang?” ujarnya dalam hati.
Setelah berpikir keras sejenak, tangan Dayu merogoh ke dalam ransel biru tua yang tersandar di kursi samping. Diraihnya buku saku telepon yang warnanya sudah berubah jadi abu-abu tua. Mungkin dulunya berwarna hitam, pikir Dayu sesaat. Dibukanya perlahan, halaman demi halaman. Sampai akhirnya di ’S’, bola mata Dayu yang jernih menatap ke arah deretan nama di sana. Bingo! Akhirnya ia menemukan nama Soehardi. Nama lengkap Om Hardi.
Di situ tertulis alamat lengkap rumah dan nomor telepon. Bahkan, ada tulisan dengan tinta yang masih baru berisi nomor telepon Om Hardi. Segera saja jemari langsing Dayu bergerak lincah di atas keypad telepon selulernya. Dua belas digit angka telah ditekan. Perlu waktu menunggu suara dari seberang sana membalas panggilan Dayu. Detik demi detik berlalu seakan penantian berabad-abad bagi Dayu dengan nadi berdebar kencang. Sampai akhirnya....
”Halo!” terdengar suara pria lirih dari ujung sana. ”Halo! Dengan siapa, ya?” suara lirih seakan menyadarkan Dayu yang seakan melayang ketika menunggu telepon berbalas.
”Ehm, Om. Maaf mengganggu, betul ini nomor telepon Om Hardi?” tanya Dayu, diliputi rasa penasaran.
”Betul, Mbak! Saya Soehardi,” balas pria bersuara lirih. ”Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” lanjutnya kemudian.
”Betul ini Om Hardi? Saya Dayu. Idayu Nataatmadja,” jawab Dayu, dengan suara tercekat. Ia begitu gembira. Akhirnya perjalanan panjangnya mendapat titik terang pertama.
”Dayu! Apa kabar? Om senang bisa mendengar suaramu lagi. Aduh, lama sekali, ya, kita tak bertemu. Mungkin ada dua puluh tahun, ya, Om terakhir lihat kamu. Rasanya baru kemarin Om lihat kamu masih di pangkuan ayahmu. Oya, bagaimana kabar ayahmu?” tanya Om Hardi. ”Sehat-sehat saja kan beliau?” suaranya terdengar takzim, menandakan hormatnya kepada ayah Dayu.
Dayu menceritakan ayahnya yang baru saja meninggal, seraya minta maaf karena tidak ada seorang pun yang sempat memberi tahu Om Hardi. Lebih setengah jam mereka mengobrol di telepon. Sampai kemudian Dayu memutuskan datang ke rumah Om Hardi.
”Datang saja ke rumah, kami sekeluarga rindu padamu, Dayu,” tutur pria yang mungkin usianya sudah merambat ke angka tujuh puluh lima ini.
Keesokan harinya, Dayu memacu kendaraan ke arah utara Bandung. Daerah Cihideung. Kawasan perbukitan di daerah Lembang, yang dikenal sebagai objek tujuan wisata di akhir pekan. Menuju kawasan perumahan di perbukitan hijau, udara di sekitar rumah Om Hardi masih terasa fresh. Mungkin karena masih banyak ditumbuhi pepohonan, serta jauh dari kemacetan kendaraan yang jadi penyebab polusi.
Jalan aspal yang sedikit berlubang di sana-sini, hanya cukup dilalui dua kendaraan saat berpapasan. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya kendaraan sampai di pelataran rumah Om Hardi.
Penulis: Hadi PM


