Profile
Firliana Purwanti, Menyuarakan Kesetaraan Gender Lewat Orgasme

22 Nov 2016


Foto: BB Halim

Ketika kebanyakan aktivis feminis agresif menyasarkan kampanyenya  memecahkan langit-langit kaca dan beban ganda yang harus ditanggung wanita, Firliana Purwanti (39) memutuskan mengambil jalur alternatif. Ia tidak lagi meneriakkan, “No to domestic violence!”, sebaliknya, ia berkata, “Yes to orgasm!” Melalui penelitian yang dibukukannya di bawah judul The ‘O’ Project, Firliana percaya  bahwa kesetaraan gender berawal dan terbangun sejak dari ruang paling intim wanita.
 
New York Times, Reuters and Thompson, dan Sydney Morning Herald adalah tiga dari banyak media asing yang menjulukinya ‘orgasm lady’ dari Indonesia. Di balik tajuk pemberitaan yang sensasional itu, terkuak fakta esensial tentang kesetaraan gender yang selama ini tak tersentuh karena dianggap tabu, yaitu perjuangan wanita dalam meraih kepuasan seksual. “Proses bagaimana wanita sampai berdaya hingga mendapat orgasme itu proses panjang,” ungkap wanita yang akrab dipanggil Firli ini.

Melalui penelitian kualitatif, Firli  menerbitkan buku The ‘O’ Project (2010) yang terbagi menjadi 9 bab, yaitu Clitoris Envy, Virginity is Overrated, Orgasme Perempuan, Ayat-Ayat Orgasme, Sexercise!, Queer, Mr. Rabbit, Safe Sex is Hot Sex!, dan Civic Orgasm. Di dalamnya mengulas pengalaman orgasme 16 wanita Indonesia, dari Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, hingga Makassar.

Jauh dari kesan porno, The ‘O’ Project tidak membahas seks dari sisi teknis, seperti letak posisi G-spots, atau informasi tentang waktu yang dibutuhkan wanita untuk meraih orgasme. Sebaliknya, penelitian ini mengulas tentang hak atas tubuh wanita dan lapisan-lapisan sosial yang membatasi serta mengekang wanita untuk meraih orgasme.

“Wanita yang mengalami orgasme adalah wanita yang berdaya,” tegas lulusan master untuk program International and European Human Rights Protection Law dari Fakultas Hukum Utrecht Universiteit, Belanda, ini. Sebab, kehidupan seks tidak hanya bicara soal pemenuhan kebutuhan biologis, tapi juga mengelola kemampuan bernegosiasi. Butuh keberanian besar bagi wanita untuk mengatakan, ‘Saya lebih suka disentuh di sini,’ atau ‘Saya lebih nyaman gaya bercinta seperti ini,’ atau ‘Saya tidak mau bercinta sekarang, saya capek'.”
Kesulitan wanita bernegosiasi di ranjang disebabkan oleh budaya patriarkat yang menempatkan wanita pada posisi subordinat yang cenderung ‘melayani’. Sejak kecil, wanita diajar untuk melayani, mulai dari hal-hal kecil seperti mengantarkan minuman kepada tamu, atau menyiapkan makanan ayah di atas meja makan. Begitu menikah, wanita juga harus melayani suami dan anak-anaknya.

“Budaya ini terbawa hingga ke atas tempat tidur, sampai-sampai wanita melupakan haknya untuk mendapatkan kesenangan atas tubuhnya sendiri. Bahkan, untuk bisa menikmati hubungan intim pun wanita harus menunggu sampai diminta suami. Ini pula yang kemudian memunculkan istilah ‘serangan fajar’ yang sangat laki-laki,” papar Firli.

Melalui pengakuan 16 wanita yang diwawancarainya, terangkum fakta bahwa pengalaman orgasme terjadi karena mereka tahu betul kepada siapa mereka jatuh cinta. Mereka yang mencapai orgasme adalah yang tidak mendapat perlakuan kekerasan dari pasangannya. Mereka memiliki pengetahuan seksual yang kritis dan tidak menghakimi, tahu bedanya kekerasan dan sayang, serta punya kemampuan bernegosiasi yang baik sehingga dapat membangun hubungan yang setara.

“Ketika seorang wanita bisa menyuarakan haknya di ruang intim ini, maka ia memiliki kekuatan yang sama untuk menyuarakan haknya di ruang-ruang kehidupan lainnya,” tegas Firli. Bentuk kampanyenya ini menjadi langkah populer yang tidak hanya berhasil mencerahkan para wanita, bahkan juga dibaca oleh banyak pria. Tulisannya memang sangat populer dan jauh dari kosakata feminisme yang intimidatif. “Bukunya sangat ringan,   bisa selesai dibaca dalam satu atau dua jam saja!” lanjutnya.

Setelah membaca bukunya, banyak respons positif berdatangan. Ia baru tahu, banyak juga pria yang tak setuju dengan pandangan sempit tentang keperawanan. Banyak lagi yang ingin memahami lapisan-lapisan sosial yang membelenggu orgasme wanita,  hal-hal yang selama ini tidak terinformasikan dengan baik. Kini, 5.000 buku terjual habis, membuat The ‘O’ Project menjadi bestseller dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

“Di tengah sesat komunikasi antara pria dan wanita, seks menjadi salah satu bahasa universal yang membuat pria memahami kesetaraan gender dalam sudut pandang yang berbeda,” ungkap Firli, senang bukunya bisa menarik pria untuk melibatkan diri. Selain The ‘O’ Project, bersama dua rekan lainnya, Firli juga pernah menerbitkan buku Perdagangan Perempuan dan Peredaran Narkotika di Indonesia (2003). (f)

Baca Juga:


Naomi Jayalaksana


Topic

#wanitahebat

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.