True Story
Tutus Setiawan, Mengangkat Derajat Penyandang Tunanetra

24 Apr 2017


Foto: Dok. Pribadi
 
Benturan di tembok sekolah membuat penglihatannya hilang. Peristiwa itu terjadi ketika Tutus Setiawan (36) kelas 2 SD. Sempat mogok sekolah, ia kemudian menemukan harapan yang membuat hidupnya lebih bermakna. Pada tahun 2003, bersama dengan teman-temannya sesama tunanetra, ia mendirikan Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT), Surabaya. Atas pengabdiannya, guru di SLB YPAC Surabaya ini menerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2015, Kategori Pendidikan dari Astra Indonesia.
                                                                                                       
Sempat putus asa
Tutus terlahir normal dari rahim ibunya, Sriyuwati (60). Ia tumbuh dengan baik, sangat aktif, ceria, dan bahagia. Namun, hidupnya berubah saat ia tersandung dan kepalanya membentur tembok sekolahnya di SDN Dupak 6, Surabaya. Sejak insiden ini, penglihatannya hilang secara berangsur. Dari yang awalnya masih bisa melihat objek dari jarak beberapa meter, hingga akhirnya hilang total.

Benturan itu tidak terlalu keras. Ia bahkan tidak merasakan sakit, hanya sedikit merasa pusing kala itu. Dengan bersusah payah, ia kembali ke tempat duduk dan mengikuti proses belajar. Baru kemudian ia menyadari, ada sesuatu yang terjadi pada matanya. Ia hanya bisa melihat samar-samar. Agar bisa mengikuti pelajaran lebih jelas, ia pun pindah ke tempat duduk paling depan.

Ketika ia sadar bahwa matanya memang tidak mampu melihat lagi secara jelas, tangisnya pun pecah. “Saya menangis bukan karena sakit, tapi karena penglihatan saya berkurang,” katanya. Gurunya pun mengantarkannya pulang. Dalam keadaan panik, ibunya langsung membawa Tutus ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.
Dua bulan lamanya ia menjalani perawatan di rumah sakit yang berbeda-beda. Dokter memvonis, Tutus mengalami ablasi retina, yaitu terlepasnya retina dari jaringan penopangnya. Ia sempat menjalani operasi, tapi hasilnya tidak menggembirakan.

“Pascaoperasi, penglihatan saya sempat pulih, tapi lama-kelamaan hilang total hingga sekarang,” cerita pria kelahiran 6 September 1980 itu, dengan nada kecewa. Mungkin, bila sudah dipastikan dari awal tidak akan sembuh, orang tuanya tidak akan membuang uang puluhan juta untuk biaya operasi.

Tutus pun hidup dalam keterpurukan. Ia takut, putus asa, dan kecewa.  Tawaran dari dokter yang merawatnya untuk meneruskan sekolah di SDLB YPAC Surabaya tidak ia hiraukan. Ia lebih memilih untuk berdiam di rumah. “Tawaran itu seakan-akan merendahkan, sebab saya berharap penglihatan saya akan kembali pulih,” ungkapnya.
Ia menganggap bahwa Tuhan tidak adil karena memberikan penderitaan kepadanya. Ia  makin kecewa ketika teman-teman sepermainan menjauhinya “Setelah dari rumah sakit, selama 6 bulan  saya hanya makan dan tidur di rumah. Saya merasa hampa, seperti tak punya arah tujuan hidup,” tuturnya.
 
Tidak tahan melihat Tutus terus tersiksa dalam kesendirian  di rumah, dengan sedikit memaksa sang ibu membawa putranya berkunjung ke SDLB YPAC Surabaya. Dari yang awalnya terpaksa, menjalani hari-hari sebagai murid di SLB mengubah pandangannya. “Ibu menjelaskan, banyak orang yang sama seperti saya, tapi mereka tetap semangat untuk maju, tidak mau menyerah,” katanya. Di sekolahnya yang baru Tutus merasakan kebahagiaan.

Didorong oleh semangat yang baru, Tutus pun bersedia untuk melanjutkan sekolah, meski ia harus mengulang lagi dari kelas 1. “Saya seperti mendapatkan kekuatan baru ketika mendengar teman-teman tunanetra tertawa bahagia. Apalagi ada guru-guru sesama tunanetra yang mengajar,” katanya, senang. Dunia, ternyata belum berakhir baginya.
 
Pantang Menyerah
Tidak butuh waktu lama bagi Tutus untuk memulihkan semangatnya. “Ini adalah awal masa depan yang lebih baik,” cetus pria yang menyelesaikan pendidikannya di SLB YPAC hingga bangku SMP. Meski sangat menghargai dukungan orang tua yang tak pernah habisnya, di sisi lain  ia merasa bahwa ruang geraknya begitu dibatasi.

“Saya merasa   kedua orang tua saya over protective. Ke mana-mana saya harus diantar, dan ini terjadi sampai saya duduk di kelas 1 SMP,” ungkap Tutus, tentang ketakutan ayahnya, Ridwan Suptrapto (61). “Kekhawatiran mereka tidak baik untuk kemandirian saya,” lanjutnya. Demi membuktikan bahwa ia bisa mandiri, terkadang sebelum tiba saat dijemput, Tutus sengaja pulang terlebih dulu.

“Walau terkadang menabrak tembok atau jatuh ke parit, saya puas,” katanya. Tindakan nekatnya ini sempat menuai komentar negatif orang-orang di sekelilingnya yang tidak paham. Mereka mengira kedua orang tuanya tidak peduli, dan sengaja membiarkannya.

Tekadnya ini masih harus diuji waktu. Ia tidak hanya berjuang untuk bisa bertahan di lingkungan yang tak ramah kepada penyandang disabilitas,  tapi yang terutama  ia juga harus berjuang melawan dirinya sendiri. Ia sempat ditolak di beberapa SMA reguler. Beruntung, SMA Bhayangkari 2 Surabaya bersedia menerimanya. Namun, dengan syarat, bila tidak mampu mengikuti pembelajaran selama 1 caturwulan (4 bulan) pertama, maka Tutus harus keluar dan mencari sekolah lain.

“Syarat yang mereka tentukan itu saya jadikan cambuk untuk bersungguh-sungguh dalam belajar,” katanya. Anak kedua dari 4 bersaudara ini pun mengikuti semua proses belajar dengan baik. Untuk memudahkannya dalam belajar, ia mencoba mendekati beberapa teman sekelasnya. “Pertama-tama, saya malu dan canggung. Begitu juga teman-teman, mungkin merasa aneh oleh kehadiran saya,” ungkapnya. 

Untuk mencuri perhatian teman-temannya, ia mempunyai trik khusus, yaitu ia melakukan hal-hal kecil yang memancing rasa ingin tahu teman-temannya. Salah satunya, dengan belajar braille. Triknya berhasil! Satu demi satu teman-temannya tertarik mengajaknya ngobrol, bahkan minta diajari braille.

Terbukanya jalinan pertemanan membukakan jalan bagi Tutus untuk mengikuti pelajaran di sekolah dengan lebih baik. Bila guru mencatat bahan pelajaran di papan tulis, teman sebangkunya akan membantu Tutus membacakan catatan di papan tulis untuknya. Namun terkadang, kalau temannya malas, maka ia akan meminjamkan catatannya untuk dibawa Tutus pulang ke rumah.

Tutus juga mencuri perhatian teman-temanya lewat prestasi dalam belajar. Dalam menyelesaikan soal-soal saat ulangan, ia jarang sekali mengalami kendala. “Kalau ulangan, mereka berebut duduk di samping saya karena nilai saya selalu bagus,” katanya, senang.    

Demi mempertahankan jalinan pertemanan, terkadang ia mengikuti aksi nakal teman-temannya dengan ikut membolos, memanjat tembok sekolah. “Saya bilang kepada guru, kalau saya tidak ikut bandel, maka teman-teman akan meninggalkan saya,” ujarnya.

Dalam proses belajar-mengajar, sebagian guru-guru memang ada yang pesimistis. Namun, ia kerap memberikan masukan tentang cara mengajar yang bisa diterima oleh anak normal maupun penyandang tunanetra. Masukan-masukan darinya itu jadi bahan belajar untuk para guru. Mereka pun senang. “Mulai dari kelas 1 hingga lulus, saya selalu mendapatkan peringkat 3 besar. Sebagai imbalannya, saya mendapatkan beasiswa berprestasi,” ujarnya, bangga.

Saat kuliah di Jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Negeri Surabaya, Tutus juga melakukan trik-trik khusus. Ia mengajak teman-temannya berdiskusi. Tutus melempar sebuah topik yang sebenarnya tidak begitu dipahaminya. Tetapi, di hadapan mereka, ia pura-pura tahu.

Cara ini memancing teman-temannya untuk mencari bahan, membaca, dan menjelaskan topik itu kepadanya. Dari penjelasan itulah Tutus mendapatkan ilmu. Di bangku kuliah pun, prestasi Tutus selalu bagus, sehingga ia mendapatkan beasiswa. Pada tahun 2013, ia melanjutkan S-2 di Universitas Negeri Surabaya. Ia lolos pada seleksi program beasiswa yang diikuti oleh 100 PNS dari seluruh Indonesia. “Saya adalah satu dari 27 yang terpilih,” katanya.    
 
Mengubah stigma
Menjadi seorang penyandang disabilitas, ia merasa menjadi anomali, yang lebih sering mengundang nada pesimistis dari orang-orang di sekelilingnya. Bahkan, lebih parah lagi, banyak yang terang-terangan melumpuhkan semangatnya untuk maju. “Mereka berkata, tak ada gunanya sekolah, toh, tak bisa melihat, jadi untuk apa sekolah tinggi-tinggi,” ujarnya, sedih.

Berbagai komentar miring ini justru menjadi pembakar semangatnya untuk membuktikan diri bahwa seorang tunanetra pun bisa memberikan kontribusi yang signifikan bagi lingkungan dan masyarakat umum. Ia sadar, stigma terhadap penyandang tunanetra ini telah tumbuh di masyarakat sejak tahun ‘90-an.

Kenyataan ini pula yang menggerakkannya untuk mendirikan Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT) Surabaya, pada tahun 2003. Kala itu ia masih duduk di semester akhir. Bersama teman-temannya sesama tunanetra: Sugi Hermanto, Atung Yunarto, Tantri Maharani, dan Yoto Pribadi, mereka berupaya menghapus stigma  masyarakat terhadap penyandang tunanetra sebagai warga yang bisanya hanya menjadi beban.

“Saya mengajak teman-teman di kampus yang penglihatannya normal untuk menjadi volunteer dalam tiap kegiatan yang kami adakan,” katanya. Dalam lembaga ini, mereka melakukan talk show di berbagai radio dan televisi lokal. Melakukan aksi dengan turun ke jalan-jalan di Kota Surabaya, serta menyebarkan brosur untuk memberikan informasi kepada masyarakat umum bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat.

“Kami tidak berharap untuk dikasihani, tetapi untuk diakui. Kami tidak mau diberi uang, tapi berilah kami kesempatan yang sama seperti orang normal lainnya,” katanya, tegas.
Melalui tiga program utamanya, yaitu pendidikan dan latihan (diklat), advokasi, dan riset mereka memberdayakan penyandang tunanetra dan keluarganya. Ia berusaha mematahkan anggapan lama bahwa penyandang tunanetra hanya bisa bekerja sebagai tukang pijat. “Penyandang tunanetra juga bisa menjadi pengajar, pemain musik, dan banyak lagi lainnya,” ungkapnya.

Kesempatan ini pula yang dibukanya melalui LPT yang didirikannya. Di tempat ini, mereka diajarkan untuk menguasai penggunaan komputer yang sebagian dioperasikan lewat mode suara. Pelatihan komputer ini penting karena penderita tunanetra tidak bisa lagi mengandalkan huruf braille saja. Ada pula bimbingan belajar bagi mereka yang mengalami kesulitan belajar di sekolah, pelatihan jurnalistik, pelatihan sebagai operator telepon, dan orientasi mobilitas untuk kemandirian.

Pada program advokasi, bersama timnya Tutus --yang juga berperan sebagai tenaga pengajar-- ikut melakukan pendampingan kepada penderita tunanetra yang mengalami diskriminasi. Sebab, tidak sedikit dari mereka yang masih dianggap warga kelas dua, ditolak masuk ke sekolah atau dipersulit saat ingin membuka rekening di bank.
Pihaknya juga bekerja sama dengan Institut Teknologi Surabaya, melakukan survei tentang sejauh mana usaha pemerintah dan swasta menyediakan fasilitas publik yang ramah bagi penyandang tunanetra. Hasil riset itulah yang mereka sampaikan kepada wali kota, sebagai masukan.

Tutus mengakui, hubungan yang baik dengan berbagai LSM seperti Pusat Studi Hak Asasi Manusia dan lembaga yang peduli terhadap tunanetra seperti Mitra Netra, Jakarta, sangat membantu terselenggaranya program-program di lembaganya. Sejak tahun 2003, lebih dari 300 orang penyandang tunanetra menerima manfaat program. Namun, serapan di dunia kerja masih sangat minim, karena kendala aksesibilitas dan krisis kesempatan dari institusi pemberi kerja.

Meski demikian, di bidang pendidikan, lembaganya bisa berbangga bahwa banyak dari binaan mereka yang memiliki prestasi bersinar di sekolah reguler. “Mereka rata-rata mendapat peringkat 10 besar,” katanya, bangga. Alfian (17), siswa kelas 3 IPS SMA Negeri 8 Surabaya salah satu penerima manfaat program LPT. Alfian berhasil menjadi Juara II dalam ajang Global IT Challenge 2015 di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Di awal pendirian LPT, Tutus dan rekan-rekannya memang mengalami kendala pendanaan. Tak jarang mereka harus merogoh uang dari kantong pribadi. Tetapi, sejak tahun 2007, mereka mendapat dana tetap dari pemerintah, khususnya Dinas Sosial Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan dari pihak swasta. Namun, karena satu hal, Tutus tidak melanjutkan kerja sama tersebut.

“Saat ini, kami mendapat dukungan dana dari BUMN dan BUMD, serta LSM dari luar negeri,” katanya. Semua program mereka berikan secara gratis, bahkan LPT memberikan uang transportasi dan juga konsumsi kepada binaannya. Sebab, sebagian besar peserta berasal dari keluarga menengah ke bawah yang kesusahan.

Tutus senang, lewat program dan aksi yang mereka lakukan, sejak tahun 2003 mulai ada pergeseran cara pandang masyarakat terhadap tunanetra. “Sebelumnya, mereka ini tidak peduli, atau ada juga yang tidak tahu cara memberikan perhatian,” kata ayah dua orang putra dan suami Desi Trisnawati Sari Dewi  ini.(f)


Baca juga:
 
 


Desiyusman Mendrofa


Topic

#tutussetiawan