True Story
Sumarsih 20 Tahun Menagih Keadilan Lewat Aksi Kamisan

18 Oct 2018


Foto: Dok. Pribadi, Irma

Setelah 539 kali menggelar protes, Aksi Diam, atau biasa dikenal dengan sebutan Aksi Kamisan dan Aksi Payung Hitam, akhirnya mendapat respons dari pemerintah. Untuk pertama kalinya 20 orang keluarga korban dari berbagai kasus pelanggaran HAM yang rajin berdemo di seberang Istana Presiden tiap Kamis sore diundang untuk bertatap muka dengan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), pada 31 Mei lalu.
 
Kepada femina, mewakili rekan-rekan seperjuangannya, Maria Katarina Sumarsih (66) menceritakan harapannya: ditegakkannya keadilan di Republik Indonesia ini.
 
Aksi Kamisan akan berakhir kalau pesertanya tingal 3 orang, kalau Indonesia sudah tidak ada lagi pelanggaran berat HAM, atau setidaknya sampai kasus-kasus yang sudah ada ditindaklanjuti sampai pengadilan HAM ad hoc.
 
“SAYA MATI RASA”

“Sudah 20 tahun reformasi, tapi kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia tidak pernah dituntaskan proses hukumnya,” keluh Sumarsih. Ada nada getir ketika ia menuangkan isi hatinya kepada femina yang menemuinya di kediamannya di Meruya, Jakarta Barat.

Kebal hati. Mati rasa. Begitu perasaan Sumarsih kini. “Kedukaan itu kini telah berganti. Bukan lagi kesedihan yang saya rasakan, tapi semangat untuk mengejar keadilan,” katanya, sambil mengatakan hukum di Indonesia selama ini tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.

Dalam peristiwa Semanggi I (24 September 1998), putra Sumarsih, Benardinus Realino Norma Irmawan (Wawan), mahasiswa semester 5 FE Unika Atmajaya, yang juga merupakan aktivis kampus yang vokal, meninggal di usia 20 tahun akibat diterjang timah panas aparat, tepat mengenai jantung dan paru-paru sebelah kiri.
 
Padahal, menurut keterangan saksi di lapangan, saat itu Wawan sudah melambai-lambaikan bendera putih dan mengenakan atribut Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) ketika hendak menolong mahasiswa yang terluka,” kisah Sumarsih, dengan mata menerawang.

Dalam peristiwa itu tercatat total tujuh mahasiswa tak bersenjata ditembak mati karena menolak Sidang Istimewa MPR sebab disinyalir untuk ajang konsolidasi kroni-kroni Soeharto.

“Saya khawatir ketika pecah demo di kampusnya. Saya sempat melarang Wawan pergi ke kampus,” cerita Sumarsih. Apalagi saat itu Wawan juga baru saja menjalani operasi sinusitis dan pernah mengutarakan kepadanya bahwa ia masuk daftar 1 dari 5 orang yang diancam akan ‘dihabisi’ karena aktif di TRK yang banyak mengurusi korban kerusuhan ’98.

“Hari Jumat operasi sinusitis, Sabtu pulang. Sehabis kontrol hari Senin, Wawan langsung minta diantar ke kampus untuk meminta rekannya menggantikan dirinya sebagai ketua penyelenggara membuka seminar di kampus,” cerita Sumarsih. Ia paham bahwa anaknya sangat kritis terhadap persoalan sosial.

Sehari kemudian, Sidang Istimewa MPR 1998 digelar yang berujung pada demonstrasi.

“Hari Rabu, Wawan menginap di kampus, Kamis siang sempat pulang ke rumah dan menelepon saya yang sudah berangkat kerja. Ia protes kenapa saya tidak memasakkan sayur asem kesukaannya. Tapi rupanya, ia langsung kembali lagi ke kampus hari itu, sehingga tidak sempat bertemu. Pada hari Jumat saya mendapat kabar lewat telepon dari Romo Sandyawan Sumardi, yang saat itu menjadi koordinator TRK, bahwa Wawan tertembak,” ujar Sumarsih, mengenang hari-hari terakhir Wawan.

Sayur asem dan empal goreng kesukaan Wawan yang baru saja dihidangkan Sumarsih di hari Jumat itu pun dingin. Tak pernah tersentuh lagi selama-lamanya oleh anak kesayangannya. Wawan tak pernah pulang lagi.

Setelah kepergian Wawan, waktu seakan berhenti bagi Sumarsih. Hari demi hari mantan PNS di Setjen DPR RI ini tenggelam dalam duka. “Tiap hari saya habiskan waktu duduk di pojok ruang tamu, dekat tempat jenazah Wawan dulu disemayamkan. Tidak makan dan minum selama 3 minggu. Menunggu koran untuk melihat perkembangan berita. Saya hanya bisa menangis, menjerit pada Tuhan dan berdoa,” tutur Sumarsih yang sejak kematian Wawan memutuskan selalu mengenakan busana hitam.

Hingga kini ia masih tak rela putra kebanggaannya direnggut paksa darinya oleh maut. Hatinya patah. Sebuah lemari kaca di ruang tamu berisi sertifikat, ijazah, dan foto-foto Wawan semasa hidup menjadi medium yang menghadirkan kembali kenangan.

“Hingga kini, saya masih suka menyebut nama Wawan di rumah saat kangen." Ia masih menyimpan handuk, barang-barang pribadi, dan rutin membersihkan kamar Wawan, seolah menantinya pulang. Didampingi sang suami, Arief Priyadi, dan anak keduanya, Irma, Sumarsih juga mengaku rutin menyambangi pusara Wawan di TPU Joglo tiap hari hingga tahun 2014 dan kini cukup di akhir pekan.

Bersyukur, rekan-rekan Wawan masih setia menemaninya dalam duka. Secara rutin mereka datang ke rumah dan turut serta mengadvokasi kasus.
 

Reynette Fausto


Topic

#aksikamisan, #TrueStory, #TragediSemanggi, #kasusHAM