True Story
Mengawal Mohammad Altair Nouman Sudjatmoko Kecil Melawan Kanker

26 Apr 2017


Foto: Dok. Pribadi


Nitya Astari (34) dan Mohamad Risky Sudjatmoko (35) harus menghadapi kenyataan bahwa putra kedua mereka, Mohammad Altair Nouman Sudjatmoko, divonis kanker jaringan otot yang terletak di kandung kemih. Kondisi ini membuat Altair yang saat itu baru berusia 16 bulan (kini usianya 20 bulan) tak bisa buang air kecil secara normal dan ginjalnya membengkak.

Berkali-kali keduanya harus menegarkan hati melihat tubuh mungil balita mereka berjuang melalui deraan kemoterapi. Rambut, alis, dan bulu matanya rontok, kulitnya menghitam, dan bobotnya susut drastis. Takdir ini hanya menyisakan satu pilihan bagi Nitya dan Mohamad Risky: tegar untuk kedua anak mereka, dan janin yang kini tumbuh di kandungan Nitya. Kepada femina, Nitya membagikan perjuangan mereka.
 
Mimpi Buruk
Putra kedua saya, Altair, lahir pada 2 Juli 2015, dengan proses normal. Berat badannya 3,820 kilogram dan tinggi 51 sentimeter. Proses kelahiran lancar dan relatif cepat. Segala rasa sakit persalinan seketika hilang ketika Altair diletakkan di dada saya untuk inisiasi menyusui dini (IMD) selama sejam lebih. Setelah itu, proses pemulihan saya pun berjalan lancar, tanpa keluhan berarti.

Seperti saat mengandung kakaknya, Mohammad Rasendrya Aidan Sudjatmoko (6), kehamilan kedua saya benar-benar tanpa keluhan. Saya tidak pernah merasa pusing, mual, atau mengidam. Aktivitas saya sebagai ibu rumah tangga dan wirausaha brand baju anak Playdate berjalan seperti biasa. Saya bahkan sempat melakukan perjalanan jauh ke Oman dan Dubai. Syukurlah, kehamilan saya tetap baik-baik saja.

Setelah lahir, Altair tumbuh sehat, ceria, dan sangat aktif. Ia sudah lancar berjalan pada usia 11 bulan. Makannya pun pintar karena saya menerapkan metode BLW (baby led weaning), yaitu metode MPASI, bayi dibiarkan untuk mengambil sendiri makanannya dan makan sendiri. Hingga kini, saya juga masih menyusuinya. Saya dan suami bahagia melihat kedua putra kami tumbuh dengan baik.

Oktober 2016, kebahagiaan kami mulai diterpa cobaan. Perilaku Altair berubah. Altair yang senang berlari-lari ceria terkadang mendadak berhenti dan mengejan kesakitan seperti hendak buang air besar (BAB). Awalnya kami mengira ia konstipasi. Tetapi, setelah kami periksa, BAB-nya selalu normal. Puncaknya suatu malam ia terbangun, mengejan sambil menangis keras. Kami segera mengecek popoknya dan menemukan darah dalam air seninya!

Tak mau menunggu lama, keesokannya kami langsung memeriksakan Altair ke dokter. Altair dicurigai menderita infeksi saluran kencing dan fimosis, yaitu kulup melekat pada kepala penis dan menutup lubang penis. Akibatnya, urine tidak dapat keluar normal. Dokter lalu mengambil sampel urine dan memberikan Altair antibiotika sambil menunggu hasil kultur urine selama seminggu.

Antibiotika itu ternyata tak mempan. Sedih hati saya melihat Altair selalu menangis dan menjerit-jerit tiap buang air kecil. Ketika hasil kultur urine keluar, ternyata benar ia menderita infeksi saluran kencing. Dokter lalu memberikan jenis antibiotika lain yang lebih tepat untuk mengatasi bakterinya. Keesokannya, atas rujukan dokter, Altair melakukan USG. Dokter menemukan suatu massa atau tumor di kandung kemihnya dan ginjal kirinya terdeteksi mengalami sedikit pembengkakan.

Dari sini, tes demi tes pun harus dijalani Altair. Pada 27 Oktober 2016, Altair menjalani CT scan, thorax rontgent, dan tes darah lengkap pada pagi hari. Sementara sore harinya, dilakukan biopsi dan sirkumsisi dengan prosedur laser untuk mengikis sedikit tumor di kandung kemih yang menyumbat saluran kencing, yang membuatnya sulit buang air kecil.

Selama sepuluh hari, hati saya tak keruan menunggu hasil patologi analisis biopsi Altair. Tak putus-putus saya dan keluarga berdoa agar tumor itu jinak dan tak membahayakan. Selama kurun waktu ini, Altair diberi obat pereda nyeri agar tak terlalu sakit bila berkemih. Pada 7 November 2016, hasil biopsi keluar. Ternyata yang kami takutkan terjadi juga. Dokter memvonis Altair terkena tumor ganas atau kanker jenis rhabdomyosarcoma, kanker jaringan otot lurik yang terletak di kandung kemihnya!

Deg! Degub jantung saya seolah berhenti saat mendengar ini. Air mata saya langsung meleleh. Tak ada kata yang bisa terucap. Bingung, sedih, kalut, semua bercampur jadi satu. Sambil menggendong Altair, saya keluar dari ruang dokter. Air mata saya tak henti-hentinya keluar. Bahkan ketika mengabarkan hal ini pada keluarga, saya masih merasa shock dan tak bisa berhenti menangis. Hati saya sakit, sakit sekali! Sebagai ibu, saya tak mampu membayangkan anak saya yang saat itu masih 16 bulan harus menanggung penyakit berat ini.
 


Topic

#kisahsejati

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.