True Story
Kisah Tragedi Pulomas: Berdamai dengan Trauma Setelah Kehilangan Besar

4 Mar 2017


Foto: Wisnu, Reynette Fausto, Dok. Pribadi

 
“Pasti selamat, akan ada orang datang menolong.”  Ucapan sang ayah ini berhasil menyalakan kembali harapan Zanetta Kalila Azaria (13). Berimpitan dalam kamar mandi sempit bersama 10 orang lainnya, gadis cantik itu harus menyaksikan satu per satu orang-orang terkasihnya meregang nyawa dalam sebuah aksi perampokan di kediamannya yang mewah.    

Di saat yang sama, tak pernah terlintas di benak Almiyanda Sapphira (Firra) bahwa firasat yang membuatnya bersimpuh menangis di atas sajadah  tiap malam, berujung pada terenggutnya kehidupan kedua buah hati dan ayah dari anak-anaknya. Kepada femina, keduanya menuturkan perjuangan mereka tetap hidup dan berdamai dengan luka.   
 
DIDERA FIRASAT
Jumat (10/2) itu femina hendak bertemu dengan Firra, mantan istri ke-2 almarhum Ir. Dodi Triono (59), dan satu-satunya putri mereka yang selamat, Zanetta, yang akrab disapa Anette. Namun, saat tim kami datang, keduanya masih dalam perjalanan dari rumah tempat Firra tinggal, di kawasan Kelapa Gading. Apin, seorang pengurus rumah, datang untuk membukakan gerbang rumah dan mempersilakan kami masuk.

Ruang tengah rumah di bilangan Pulomas Utara No.7a itu terlihat lapang dengan interior dominan warna putih cokelat dan desain minimalis. Di ujung ruangan, tertata satu set alat musik band lengkap dengan dua standing keyboard bersisian. “Bapak suka main musik,” ungkap Apin, yang juga bertugas menunggu rumah, tempat lokasi kejadian perampokan yang merenggut 6 nyawa dari 11 korban yang disekap dalam kamar mandi sempit tak berventilasi, pada Senin, 26 Desember 2016.

“Saya ikut mendobrak pintu untuk mengeluarkan korban,” cerita Apin, yang sempat diinterogasi dua jam oleh tim penyidik kepolisian. Ia pun menunjukkan kamar mandi berukuran 1 x 1 meter yang daun pintunya telah berganti menjadi bahan PVC. “Tadinya pintu dari kayu. Jadi, sulit didobrak,” lanjut Apin, menuntun kami melihat kamar mandi yang lokasinya menjorok ke bawah, berbatasan dengan dapur dan kamar pembantu.

Meski telah dibersihkan, tetap saja perasaan sedih muncul saat membayangkan bahwa di ruangan sesempit itu dijejalkan 11 manusia, tanpa aliran udara, selama 19 jam. Mulai dari yang tadinya berdiri, duduk, hingga satu per satu mereka tumbang, dan saling bertumpuk di lantai. Hanya Anette dan empat orang asisten rumah tangga: Emi (41), Santi (22), Fitriani (23), dan Windy (23), yang selamat dari kejadian nahas itu. Seorang sopir yang sempat dilarikan ke rumah sakit pun akhirnya meninggal dalam perjalanan. Saat femina bertandang, keempat asisten rumah tangga itu tengah pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga mereka.

Ruang keluarga tempat kami menunggu berbatasan dengan dinding kaca yang menghadap ke kolam renang. Belum ada yang tinggal di sini lagi sejak kejadian. Tetapi, ruangan utama berukuran 10 x 5 meter itu terlihat tertata rapi. Tidak ada kesan muram.

Setelah menunggu sekitar lima belas menit, Firra datang ditemani Anette yang masih mengenakan seragam sekolah. Obrolan kami pun mengalir memutar ulang waktu. “Banyak orang mengatakan bahwa saya sangat tegar. Sampai-sampai saya bertanya kepada diri sendiri, apakah benar saya setegar seperti yang dibaca orang selama ini?” ungkap Firra, mengawali cerita. Ia mengaku bahwa di hari nahas ketika korban ditemukan, ia tidak menangis. Juga ketika ia menjumpai Anette yang saat itu langsung dilarikan ke RS Kartika Pulo Mas, tak jauh dari TKP.

“Anette harus kuat. Ingat pesan Mama, semua ada batas waktunya. Artinya, Allah menitipkan Papa, Kakak, dan Adik Gemma cuma sampai hari ini, detik ini,” ucap Firra kepada Anette waktu itu.  Padahal, di saat yang sama, ia berjuang mati-matian untuk tetap tegar, agar putrinya itu tidak histeris. “Saya hanya berusaha berdamai dengan takdir,” lanjut Firra, yang ketika tragedi itu terungkap tengah meeting dengan pihak bank di Cilandak Town Square, Jakarta
Selatan.

Ia tidak menyangka bahwa perasaan sedih yang menderanya  tiap kali bersujud di atas sajadah, dua bulan sebelum kejadian, menjadi firasat yang berujung pada takdir yang merenggut dua buah hatinya, Diona Arika (16) dan Dianita Gemma (9), serta ayah dari anak-anaknya. Meski sejak resmi bercerai tahun 2015 lalu Firra tinggal terpisah, di kawasan Kelapa Gading, hubungan batin dengan sang suami masih kuat.

“Bagaimanapun, kami pernah 20 tahun menikah dan berjuang bersama,” ucap Firra, menghela napas berat. Keduanya bertemu pada tahun 1994 akhir. Waktu itu ia masih bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan asing, sementara  Dodi adalah konsultan arsitek yang menangani beberapa proyek di perusahan tersebut. “Kami mengalami tahun-tahun susah bersama. Mulai dari masih memakai kasur lipat, naik mobil sewaan, sampai saat hamil Diona pun saya ke mana-mana masih naik bajaj,” lanjut Firra, yang menikahi Dodi pada 20 November 1999. Menurutnya, pintu rezeki mereka terbuka sejak putri sulungnya lahir ke dunia.

Firasat lain datang sekitar dua minggu sebelum peristiwa itu terjadi. Tanpa direncana, Firra bertemu dengan Diona, saat keduanya sedang menengok Kevin, anak sahabat Firra, yang juga sahabat Diona. “Hanya satu jam kami bertemu. Saya membatin dalam hati, kenapa wajah Diona terlihat pucat,” ceritanya. Ia makin heran saat mendengar pesan Diona kepada Kevin. “Jangan sakit-sakitan lagi. Gue mau pergi jauh. Entar gue engggak bisa nengok lu lagi,” ucap Firra, menirukan perkataan Diona saat itu. “Sepertinya dia sudah ada firasat,” lanjutnya, kelu.

Terakhir kali Firra berkumpul dengan ketiga putrinya adalah saat Anette dirawat di rumah sakit  usai menjalani operasi pengangkatan kista, Agustus 2016. Bersama-sama dengan Diona dan Gemma, ia menginap di rumah sakit untuk menemani Anette. “Kami tidur bersama. Saking kangennya, Gemma dan Diona sampai saling berebut tangan dan kaki saya. Itulah pelukan terakhir saya untuk anak-anak,” ungkap Firra.
 
KINI TINGGAL BERDUA
Sejak bercerai, Firra memang menyerahkan pengasuhan anak-anaknya kepada sang suami. “Waktu itu saya cuma berpikir, anak-anak sudah berada di zona nyaman. Kalau bersama saya, mereka harus hidup dalam keprihatinan dan banyak aturan. Sementara bersama papanya, apa yang mereka mau tinggal ambil, tanpa batasan,” papar Firra.
Ia memuji Dodi sebagai sosok ayah impian semua anak. “Buat anak, ia rela kepala jadi kaki, dan kaki jadi kepala. Begitu anaknya menelepon membutuhkan dia, rapat sepenting apa pun akan dia tinggal dan langsung pulang,” lanjut Firra, dengan nada salut.

Dodi memang dekat dengan semua anaknya. Tak terkecuali dengan Anette, yang dilahirkan istimewa. Kenangan ini masih terukir segar dalam ingatan Anette, seperti saat ia terceplos mengatakan kepada femina. “Papa bilang Anette harus membiasakan berbicara secara oral, bukan dengan bahasa isyarat,” ucap gadis penyandang tuli itu, bersemangat. Hari itu, meski baru pulang dari sekolah, Anette terlihat ceria.

Seperti remaja masa kini pada umumnya, perhatian Anette melekat pada smartphone. Jemarinya terlihat lincah mengetikkan pesan, wajahnya yang ekspresif terlihat begitu ceria. Sesekali terdengar tawanya. Tidak ada sisa kesedihan atau tatapan kosong di wajahnya. Firra sangat bersyukur bahwa pemulihan kondisi psikis dan emosional Anette terbilang cepat. Dua minggu setelah kejadian, ia sudah kembali ke sekolah. “Aku enggak mau bolos lagi, aku mau main lagi dengan teman-teman,” begitu kata Anette, yang belum lama ini pindah ke sekolah umum dari SLB.

Menurut Firra, kemajuan besar ini terjadi setelah putrinya bertemu dengan kawanan perampok yang menyebabkan kematian orang-orang yang ia cintai. Saat itu Anette minta dipertemukan dengan Ius Pane, salah satu pelaku, di Penjara Polres Jakarta Timur. “Di sana Anette menangis meraung-raung dan berteriak histeris,” ungkap Firra, yang ikut mendampingi.

Di tengah tangis histerisnya, Anette bertanya kepada pelaku: “Kenapaa kamu jahat sama kakakku, kakakku salah apa sama kamu? Kenapa kamu jahat sama keluargaku, keluargaku salah apa sama kamu? Kamu kenal sama keluargaku? Di mana papa-mamamu? Kenapa kamu jadi orang jahat?”  Di saat itulah, sambil bercucur air mata, Ius bersujud mencium kaki Anette, meminta maaf. Melihat ini, kemarahan Firra mulai tersulut. “Kamu kira, dengan mencium kaki anak saya, bisa menghidupkan kembali ayahnya?” ungkap Firra, mengulang kata-katanya waktu itu. Matanya masih berkilat-kilat oleh kemarahan. Anette sempat meminta izin untuk memukul Ius, tapi dilarang sang bunda.

Sejak saat itu kondisi emosional Anette seolah benar-benar mereda. Ia sudah tidak pernah melamun lagi. Hanya, ada masanya Anette kangen kepada ayah dan saudara-saudaranya. “Kalau di tangan, kaki, atau paha Anette sudah banyak coretan bolpoin dengan tulisan seperti, ‘Papa, Adik Gemma, dan Kakak Diona’, tandanya dia kangen kepada mereka. Biasanya, setelah itu ia akan minta diantar ke makam,” kata Firra. Dalam seminggu bisa beberapa kali Anette ke makam.

Pernah, suatu kali ia kena marah Anette, yang memergokinya menangis saat melihat rekaman video Gemma yang tersimpan di laptop putri bungsunya itu. “Hei, Anette enggak mau lagi buka-buka laptop Adik Gemma kalau Mama nangis. Lihat, Anette tidak menangis,” tegur Anette kepada ibunya, waktu itu.
Pigura foto ayah, kakak, dan adiknya menjadi benda-benda yang pertama dibawa Anette saat ia pindah ke rumah ibunya, usai kejadian. Saat memasukkannya ke dalam koper, Anette mengambil foto ayahnya dan berkata, “Papa, Anette sekarang ke rumah Mama, ya.”  Di saat inilah, pertahanan diri Firra runtuh. Wanita yang terbiasa tegar itu pun menangis.

Anette memang terbilang dekat dengan sang ayah. Bagi Anette, Dodi adalah sahabat ngobrol-nya yang baik. Bahkan, setelah tiada pun, Dodi seolah ingin terus berkomunikasi dan mengobarkan semangat kepada putrinya itu. ‘Kejutan’ Dodi ini diterima Anette di acara doa peringatan 7 hari kematian. Sahabat Diona menyerahkan sepucuk surat yang ditemukan di dalam mobil Honda Jazz, mobil yang dibawa Dodi di hari kejadian. Surat itu rupanya berisi balasan dari curhatan Anette yang ditulis di selembar kertas, yang isinya mempertanyakan mengapa Allah menciptakan dia sebagai tunarungu.

“Mungkin kertas itu tergeletak di meja Anette dan ditemukan oleh papanya,” ujar Firra, mengira-ngira. Di bawah tulisan Anette itu, Dodi membalas, dengan inti pesan: Allah menyayangi semua hamba (manusia). Allah memberikan kelebihan dan kekurangan. Kamu punya kelebihan. Nanti kamu menjadi orang yang sukses (baca isi lengkap surat dalam foto). Surat itu kini dititipkan Anette kepada mamanya. “Simpan terus, jangan dibuang,” pesan Anette, yang bercita-cita ingin menjadi seorang desainer grafis itu. Surat itu menjadi kenang-kenangan terakhir dari sang ayah untuknya.

Anette juga melarang ibunya menjual mobil Honda Jazz yang dikendarai ayahnya untuk terakhir kali itu. “Di situ ada Papa dan ada Kakak Diona,” ungkap Anette. Mobil itu sehari-hari memang dipakai untuk mengantar-jemput Diona ke sekolah. Bahkan, kini ia lebih suka diantar-jemput ke sekolah dengan mobil yang baginya penuh dengan kenangan itu.

“Saya selalu mengingatkan Anette, menangis boleh, tapi jangan meratap berlebihan,” ungkap Firra, menirukan wejangannya kepada putrinya itu. “Saya punya keyakinan,  tiap mendekat kepada Allah, selalu ada ujian. Oleh sebab itu, saya bilang kepada Anette, ‘Allah akan memberikan kebahagiaan lain pada kita. Percaya Mama,’” lanjut wanita yang hingga kini masih mengusahakan bisnis di dunia konstruksi bangunan ini.

Saat ditanya apa rencananya ke depan, dengan nada penuh kepasrahan Firra menjawab, “Saya tidak berani terlalu berencana. Sekarang, fokus utama saya adalah Anette. Saya akan mencoba mendidik dia jadi wanita mandiri. Syukur-syukur bisa menjadi pengusaha sesuai cita-cita ayahnya. Saya harap, saya bisa tetap sehat dan mendampingi sampai dia selesai kuliah,” ungkap Firra, mengulas senyum.
 
 
Zanette Kalila Azaria (13)
Minum Air Shower untuk Bertahan Hidup
Setelah berhasil menggasak jam tangan Rolex, ponsel, uang tunai sebesar Rp7 juta dan beberapa mata uang asing dari kamar Dodi (sesuai keterangan Ius Pane kepada polisi), empat orang komplotan spesialis perampok rumah mewah ini menyekap Anette, Dodi, Diona, Gemma, Amalia (sahabat Gemma), dan 6 orang lain (4 asisten rumah tangga dan 2 sopir pribadi) dalam kamar mandi pembantu di lantai bawah.

Perampok memadamkan lampu kamar mandi yang turut mematikan exhaust fan, sehingga aliran udara pun terputus. Berdasarkan keterangan Anette, di bawah penerangan sinar korek api milik seorang sopir, Dodi menemukan batu berukuran agak besar di lantai kamar mandi dan mencoba mendobrak pintu menggunakan batu tersebut. Tapi sia-sia, pintu kayu itu terlalu kokoh. Dodi juga berusaha menjebol exhaust fan di langit-langit toilet dan engsel pintu. Dua engsel di atas berhasil terlepas, tapi sayangnya dua engsel di bagian bawah tak bisa lepas.

Saat melihat segala upaya keluar dari toilet tidak membuahkan hasil, Anette mulai dilanda putus asa. “Saya tanya Papa, bagaimana kalau tidak bisa keluar, nanti tidak bisa selamat. Tapi, Papa menenangkan saya dengan menjawab, ‘Pasti selamat karena akan ada orang datang menolong. Tunggu saja,’” kenang Anette, yang menceritakannya kepada femina dengan suara terbata-bata dan diselingi bahasa isyarat.

Saat satu per satu korban yang disekap mulai merasa kesulitan bernapas, Dodi mematahkan gagang pintu agar ada lubang untuk mereka bisa bernapas. “Dalam kegelapan, kami bergantian menghirup udara dari lubang yang hanya sekecil keping uang itu. Ternyata, itu tak cukup untuk membuat kami bisa bertahan,” cetus Anette, sedih.  

Saat merasa sesak dan pusing, Anette mengalihkannya dengan meneguk banyak-banyak air dari shower. “Yang lain juga minum, tapi sedikit sekali. Sedangkan saya meneguk air sebanyak-banyaknya,” ungkapnya. Jam demi jam berlalu. Anette yang tak bisa membaca bibir karena diselimuti kegelapan, hanya bisa menunggu dalam diam. 

Karena pusing dan mengantuk, Anette menyandarkan kepalanya ke dinding kamar mandi. “Tiba-tiba saya kaget karena Kak Diona menggigit kuat lengan saya. Saya bilang berhenti, jangan gigit, sakit! Tapi, Kak Diona yang terlihat sudah lemas, terus menggigiti lengan saya. Karena saya ngeyel, kepala saya dipukul gagang shower olehnya. Kak Diona bilang, saya tak boleh sampai tertidur. Saya bilang kepala saya pusing dan Kak Diona menjawab kepalanya juga pusing,” kisah Anette. Tak lama setelahnya, Anette menyaksikan satu per satu mereka jatuh pingsan. “Orang pertama yang saya saksikan pingsan adalah Gemma,” katanya, sedih. 

Entah berapa jam sudah waktu berlalu dengan lambat. “Saya tak bisa melihat apa-apa di sekeliling saya karena korek api sudah habis. Pantat saya terasa pegal karena duduk meringkuk selama berjam-jam. Tapi, saya merasa ada banyak tubuh di sekeliling saya tergeletak diam. Saya pikir semua tertidur,” ujarnya.

Lama dalam penantian, Anette mencari-cari papanya. Seorang ART mengatakan bahwa Anette duduk di atas papanya. “Saya kaget! Ternyata saya duduk di atas kepala Papa. Saya panggil, Papa diam saja tak menyahut. Saya tambah kaget sewaktu saya tolehkan kepala Papa dan siram dengan air, keluar darah dari mulutnya,” ceritanya, pilu.

“Lalu, saya tanya lagi mana Gemma, Kak Diona, ART mengatakan mereka ada di bawah. Saya suruh mereka untuk mengangkat tubuh Gemma dan Kak Diona. Saya lihat, mereka semua sudah meninggal,” ucapnya, lirih.  Meski demikian, Anette masih belum merasakan kesedihan. Ia shock dan duduk termangu memikirkan apakah dirinya juga tinggal menunggu ajal.

Sekitar pukul 10 pagi, keesokan harinya, kamar mandi tempat mereka disekap berhasil didobrak. Sebelas orang korban ditemukan, 6 meninggal  dunia dan 5 selamat, termasuk Anette. “Setelah dievakuasi dan mengetahui papa, adik, dan kakak saya sudah meninggal, saya langsung jatuh pingsan,” kata Anette. Setelah siuman di RS Kartika Pulo Mas, baru Anette bisa menangis meraung-raung mendapati musibah yang menimpa keluarganya itu.

Dua hari setelah kejadian, Anette mendapat mimpi. “Saya berjalan di depan seekor kucing, tiba-tiba kucing tersebut hilang dan saya melihat ada pohon besar di sana. Saya tak tahu di mana itu. Lalu tiba-tiba saya dengar suara Gemma memanggil saya. Ia bilang, ‘Kak Anette, saya datang mau ketemu.’ Di mimpi itu saya tanya Gemma, ‘Mana Papa dan Kakak?’ Gemma menjawab belum datang, tapi semua nanti akan datang,” cerita Anette. Tak lama di mimpinya itu Anette melihat satu per satu keluarganya datang.

"Di mimpi itu Papa pesan agar saya tidak bersedih. Mereka semua baik-baik saja. ‘Anette juga pasti akan baik-baik sama Mama,’ kata Papa. Lalu Papa bilang sayang kepada saya, Gemma, dan Diona, sambil memeluk saya. Setelah itu, mereka semua hilang dan saya pun terbangun oleh sinar matahari yang menyusup dari celah tirai jendela,” kisah Anette.

Bersyukur, meski harus melewati kejadian memilukan, pemulihan Anette dari kejadian traumatis terlihat cukup cepat. “Saya tak lagi sedih, setelah mendapat pesan dari Papa di mimpi. Saya memang paling dekat dengan Papa. Saya sering teringat,   Papa selalu ngajak saya ngobrol dan bikin saya ketawa. Sering masuk kamar untuk menanyakan apakah saya sudah salat. Itu yang membuat saya kangen pada Papa,” ujar Anette, menerawang.

Setelah peristiwa buruk tersebut, gadis yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP ini minta dipertemukan dengan pelaku perampokan. Dalam pertemuan tersebut, Ius meminta maaf dan mengaku tidak bermaksud membunuh, tapi hanya ingin mengambil uang. “Ius juga minta maaf telah menarik rambut Kak Diona saat menyeretnya turun dan tak sengaja membenturkan kepala saya ke tembok kamar mandi,” katanya. Bahkan, Erwin Situmorang mengungkapkan kepada Anette, ia minta ditembak mati di rumah tersebut setelah mengetahui ada korban jiwa. “Saya memaafkan mereka, tapi mereka tetap harus ditembak mati agar peristiwa ini tak terulang lagi,” kata Anette, tegas.


Naomi Jayalaksana, Reynette Fausto



Topic

#kisahsejati, #kejahatan

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.