True Story
Eustokia Airin Tidak Patah Semangat Meski Kehilangan Sebagian Besar Kemampuan Fisik

18 Mar 2017


Foto: 123RF

Kecelakaan mobil telah membuat Eustokia Maria Magdalena (33) kehilangan nyaris seluruh kemampuan fisiknya. Ia pernah begitu putus asa, hingga ingin mengakhiri hidup. Namun, proses panjang telah mengubahnya menjadi manusia baru yang lebih kuat. Manusia yang tak lagi meratapi diri sendiri, tetapi bangkit dan bahkan mengulurkan tangan untuk orang lain.      
 
LIBURAN MAUT
Juli 1999, Airin, begitu ia disapa, hendak menghabiskan liburan kenaikan kelas ke Jakarta bersama keluarga (mantan) kekasihnya dengan mengendarai dua mobil. Saat itu ia berusia 16 tahun dan semester depan akan duduk di kelas dua SMA di Jambi, tempat tinggalnya bersama keluarga. Kekasih Airin, yang lebih tua lima tahun darinya, tengah merampungkan kuliahnya di Jakarta. Jadi, liburan kali itu, ia hendak menengok tempat kekasihnya itu menimba ilmu.
Tidak ada yang menyangka, liburan yang membahagiakan itu berujung pada tragedi yang mengubah seluruh jalan hidup Airin. Dalam perjalanan pulang ke Jambi, ia dan kekasihnya berada di mobil kedua  yang dikendarai sopir. Airin yang sedang mual dan muntah-muntah karena penyakit maag-nya kumat, duduk di jok tengah, sedangkan kekasihnya duduk di depan, di samping sopir.

Hari itu, 20 Juli 1999, sekitar 15 menit sebelum memasuki Kota Jambi, tepatnya di Kampung Tempino, tiba-tiba mobil melaju dengan sangat cepat. Mungkin karena mengantuk, sopir tidak sadar menginjak gas terlalu dalam, hingga mobil melaju dengan kecepatan 140 kilometer per jam dan menabrak sebuah truk di depannya. Tepatnya, mobil yang dinaiki Airin dan kekasihnya itu menghantam ujung kiri belakang truk. Sopir kaget, lalu membuang setir ke kiri dan menabrak tiang listrik. 

“Sebelum dan selama kecelakaan, saya dalam keadaan tertidur. Saya sama sekali tak sadar telah mengalami kecelakaan. Ketika saya digendong orang keluar dari mobil, saya sempat membuka mata, tapi kembali tak sadarkan diri,” kenang Airin. Mereka melarikan para korban ke rumah sakit. Sang sopir meninggal dunia, kekasihnya hanya luka-luka ringan, sementara Airin sempat tak sadarkan diri selama dua hari. Ia demam tinggi dan kerap mengigau. Cederanya masih tak terdeteksi karena fasilitas rumah sakit yang teramat minim.

Berdasarkan rujukan dokter, Airin segera diterbangkan ke ibu kota dan ditangani oleh salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Dari hasil rontgen terungkap bahwa kecelakaan nahas itu telah meremukkan tulang leher belakang Airin di beberapa bagian, yaitu di cervical 4, 5, 6, menyebabkan trauma yang menyerang saraf motorik dan sensoriknya.

“Tidak hanya lumpuh dari dada sampai ujung kaki, saya juga tidak bisa merasakan apa-apa. Saya tidak bisa merasakan dinginnya air, semilir angin atau gesekan rambut saya sendiri di kulit tubuh,” cerita Airin, pilu.

Melihat kondisi Airin, dokter memutuskan untuk melakukan operasi pemasangan pen hari itu juga. Menurut dokter, kemungkinan keberhasilan operasi ini hanya 15 persen, mengingat kondisi Airin yang begitu lemah dan demam tinggi, padahal ini termasuk operasi besar yang memakan waktu 8 jam. Mendengar ini, papa Airin, David, langsung shock dan membentur-benturkan kepalanya ke lantai. Namun, ia tidak punya pilihan lain, sebagai ayah dan kepala keluarga, ia pun menandatangani surat izin operasi itu.
 


Topic

#truestory

 

polling
Uang Elektronik

Belakangan ini segala transaksi dilakukan secara nontunai. Yap, bisa dibilang kini kita bergantung pada uang elektronik (seperti Flazz - BCA, e-money - Mandiri, hingga BRIZZI - BRI) untuk pembayaran transportasi online, makan di restoran, hingga tol.

Berapa jumlah uang elektronik yang Anda miliki?