True Story
Babak Baru Cinta Acha Septriasa & Vicky Kharisma yang Tersambung oleh Media Sosial

24 Feb 2017


Foto: Dok. Pribadi


He just an IT guy who wants to marry an actress. Begitu tulis Acha Septriasa (27) di akun Instagram @septriasaacha, dua hari sebelum hari pernikahannya dengan Vicky Kharisma (28) yang berlangsung di Jakarta, 11 Desember 2016. Caption foto yang terasa sederhana itu sejatinya menggambarkan hubungan mereka yang apa adanya, tapi juga penuh kejutan. Sempat terpisah jarak antara Jakarta - Sydney selama 6 tahun dan memiliki kesibukan di bidang yang berbeda, ketertarikan hati mereka memang tidak bisa berbohong lebih lama lagi. Setelah berpacaran 4 hari, mereka pun bertunangan.
 
Mendadak Suka
Perubahan hati merupakan hal yang magical bagi Acha. Sebab, keduanya sudah kenal cukup lama dan hanya berteman biasa. Perjumpaan dimulai saat adik Acha, Joffi Marcaesar, yang satu kampus dengan Vicky di Multimedia University Malaysia, mengenalkan mereka. 
 
“Dulu saya sebel kalau terlibat percakapan dengan Vicky, soalnya dia suka menatap mata saya terlalu dalam, dan saya enggak suka. Ha… ha… ha…! Jadi, dulu itu saya malah enggak menganggap dia teman yang dekat juga, sih…,” ujar aktris bernama lengkap Jelita Septriasa ini.
 
Namun, apalah arti jarak dan waktu, jika hati sudah berbicara? Acha mengaku, media sosial dan teknologi chat memiliki peran cukup besar pada hubungannya dengan Vicky. Setelah tidak berjumpa dan tidak saling bertukar kabar selama 6 tahun, percakapan akrab pertama mereka justru tercipta lewat beberapa lambang love di Instagram.
 
 “Waktu itu, tiba-tiba saja saya iseng melihat foto-foto Vicky dan kasih love di  tiap fotonya. Enggak tahunya, dia langsung mengontak saya lewat direct message dan kami jadi ngobrol lewat Line,” ujar Acha, yang sudah berperan di beberapa film, di antaranya Heart (2006), Love is Cinta (2007), dan 99 Cahaya di Langit Eropa (2013) ini.
 
Obrolan digital yang tak direncanakan itu, tanpa mereka sangka, mengalir hingga 5 jam. “Ketika mulai ngobrol, banyak hal baru dari Acha. Ia jauh lebih dewasa dari zaman sekolah dulu. Tapi, masih ada hal-hal prinsip yang sama, ia tetap rendah hati, menyenangkan, dan menenangkan,” ungkap Vicky.
 
Lucunya, ketika femina menanyakan hal yang sama kepada Acha, ia justru menjawab tidak mengerti. “Saat ngobrol dan langsung nyambung, Vicky tiba-tiba bilang ‘I love you already.’ Saya enggak mengerti kenapa saya jadi ikut suka pada dia. Mungkin karena saat itu saya merasa dia begitu apa adanya dan full of surprises. Itu momen yang menyadarkan saya,” ujar Acha.
 
Obrolan santai itu rupanya berbuah sangat manis. Saat Acha berkesempatan mengunjungi Kota Sydney, Australia, Vicky yang tinggal dan bekerja di kota itu memberanikan diri menemui Acha dan melamarnya. Setelah mendapatkan jawaban ‘ya’ dari Acha, pria kelahiran 7 Februari 1989 itu pun berangkat ke Kuala Lumpur, Malaysia, untuk meminta restu dan izin dari kedua orang tua Acha.
 
Meski semuanya dimulai dengan lancar, Acha dan Vicky justru merasakan tantangan saat proses persiapan pernikahan mereka. Dengan kesibukan masing-masing, persiapan itu terasa sangat menyita waktu. Apalagi dengan adanya perbedaan waktu 4 jam antara Sydney-Jakarta. “Kami berdebat soal bujet dan pemilihan vendor, akhirnya jadi berantem. Kalau sudah begitu, Vicky diam dan mengalah. Tapi kemudian, dia telepon saya dan kami pun memberi pengertian satu sama lain,” ujar Acha.
 
Ribut-ribut kecil itu, menurut Vicky, hanya kerikil di awal perjalanan. “Justru dari situ kami bisa mengambil pelajaran. Kami harus bisa saling percaya dan menemukan cara berkomunikasi yang efektif,” tutur Vicky. Selama proses itu pula, Acha pun bisa melihat sang calon suami sudah tumbuh menjadi laki-laki yang baik, dewasa, mandiri, pekerja keras, dan tentu saja… tampan.
 
Belajar Mandiri
Newlywed ini memutuskan untuk langsung hidup lepas dari orang tua mulai hari pertama menikah. Bagi mereka, ini bukanlah hal yang mudah, apalagi menjalaninya cuma berdua di negara ‘orang lain’, Sydney. Meski begitu, Acha dan Vicky kompak menjawab: mereka sangat menyukai kehidupan baru ini.
 
“Kami hidup serba sederhana, belajar cerdas dalam mengambil keputusan finansial, dan mendahulukan kepentingan keluarga kecil ini. Belajar komunikasi juga, belajar banyak hal untuk mengurus rumah tangga tanpa ada campur tangan dari pihak keluarga besar kami berdua,” jawab Acha, yang diamini Vicky. Keleluasaan berpikir dan bertindak itu justru yang mendewasakan mereka. “Tapi, masih suka kangen keluarga besar…,” ungkap Vicky.
 
Selain saling memupuk kedewasaan, mereka juga saling beradaptasi dengan perbedaan masing-masing. Vicky suka membaca buku biografi, sementara Acha lebih suka buku-buku fiksi dan psikologi. Vicky jago masak masakan western dan Italia, seperti steak dan chicken parmigiana, sementara Acha juara masak makanan rumahan Indonesia, seperti soto Betawi, ayam goreng, dan balado daging.
 
Perbedaan latar belakang profesi juga mewarnai hari-hari mereka. Vicky, yang bekerja sebagai premiere support engineer di sebuah perusahaan berbasis IT di Attlassian,  Sydney, diakui Acha turut memperkaya wawasan secara personal maupun sebagai aktris profesional.
“Vicky sharing beberapa hal yang dia dengar di lingkungan kerjanya kepada saya. Sama seperti ketika saya mendengar hal menarik di ruang lingkup kerja saya. Hal itu malah kami jadikan perbincangan yang membangun satu sama lain,” ujar Acha.
 
Bagi pasangan ini, perbedaan adalah hal yang biasa. Yang paling penting,  tiap pasangan harus saling mendukung. “Terutama dukungan moral dan memberi masukan yang jujur,” kata Vicky, yang disambut baik oleh Acha. “Vicky adalah the biggest supporter untuk saya,” sahut Acha.
 
Dukungan tersebut tentu saja sangat penting bagi hubungan mereka. Salah satunya karena Acha masih menjalani karier dan passion-nya dalam dunia akting. Pilihan hidup itu akan membuat mereka harus terpisah jarak lagi dalam jangka waktu tertentu.
 
“Saya menerima job film pada tanggal yang sudah ditentukan, yang memungkinkan saya untuk pulang ke Jakarta. Kami sepakat, tidak segan untuk berpisah jarak selama 3 minggu atau lebih selama proses syuting,” ujar Acha, yang tahun ini akan menjalani produksi film baru.
 
Dalam usia pernikahan yang masih sangat muda, keduanya sepakat bahwa pernikahan adalah komitmen jangka panjang yang hanya bisa dijaga dengan kepercayaan, kasih sayang, dan memiliki tujuan bersama.(f)


Baca juga:


Cempaka Fajriningtyas


Topic

#kisahcinta, #truestory, #achaseptriasa