Trending Topic
Women’s March, Perjuangan Wanita Lewat Kata-kata

13 Mar 2017


Foto: Dok. Pussyhatproject.com, Dok. Fusion.net, Dok. theguardian.com, Dok. time.com, Dok. Women’s March Indonesia, Dok. SAR, Dok. Solidaritas Perempuan, Dok. Drawger.com, Dok. VOX.com, Dok. Bbc.com

Kalimat ‘mulutmu harimaumu’ mungkin adalah kalimat yang tepat dilayangkan kepada Presiden Terpilih Amerika Serikat ke-45, Donald Trump. Sehari setelah ia dinobatkan secara resmi sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat, ribuan wanita turun ke jalan pada untuk menyuarakan pendapat mereka dalam Women’s March, karena Trump dinilai kerap melecehkan kaum wanita. Women’s March adalah parade yang mengangkat isu tentang pentingnya memperhatikan hak-hak wanita.

Beberapa nama selebritas terkenal dunia bahkan tak segan ikut turun ke jalan untuk beraksi, di antaranya adalah Ashley Judd, America Ferrera, Scarlett Johansson, dan Drew Barrymore. Aksi mereka  turut membakar semangat wanita di lebih dari 30 negara dari 5 benua lainnya untuk menggelar Women’s March serupa, seperti di Peru, Burma, Filipina, hingga Indonesia. Kalimat-kalimat yang tertera di poster, spanduk, hingga baju yang mereka kenakan ternyata juga memiliki pertimbangan khusus sebelum ditorehkan. Kata-kata ternyata menyimpan kekuatan tersendiri untuk membangun opini publik.
 
Pembakar Semangat
Jika di jalanan berbagai negara bagian di Amerika Serikat dipenuhi kata-kata nyeleneh yang kuat, seperti ‘Does My Period Scare You?’, ‘Bitches Get Stuff Done’, atau ‘My Body, My Choice’, di acara Women’s March yang diadakan di Jakarta tak kalah kreatifnya. Papan-papan spanduk bertuliskan ‘Perempuan Bukan Properti’, ‘Men of Quality Don’t Fear Equality’ atau ‘Jangan Atur Tubuhku’, turut meramaikan jalanan dari Sarinah menuju Taman Aspirasi di depan Istana Merdeka, Jakarta.

Memiliki tujuan yang sama dengan Women’s March yang dilakukan di AS, acara serupa di Jakarta merupakan gerakan yang muncul untuk merespons isu-isu aktual yang lebih relevan dengan kondisi di Indonesia. “Beberapa contoh isu yang belum terselesaikan dan kerap diangkat adalah soal buruh migran dan hak perempuan dalam berpolitik,” jelas Dian Kartikasari, S.H., Sekretaris Jenderal dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI). Selama tahun 2016, Komnas Perempuan mencatat ada 90 kasus kekerasan terhadap buruh migran Indonesia.

Salah satu selebritas Indonesia yang ikut terbakar semangatnya untuk berpartisipasi langsung di Women’s March Indonesia,  4 Maret lalu, adalah Hannah Al Rashid (31), pemeran Sofhie di film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Hannah yang mengaku telah menyimak semua pemberitaan tentang aksi Women's March dari berbagai negara ini datang dengan membawa sebuah poster buatannya. “Lewat poster tersebut ia ingin orang tersadar bahwa feminisme sudah ada sejak zaman Cut Nyak Dhien, R.A. Kartini, dan Martha Christina Tiahahu memperjuangkan pendidikan dan hak wanita.

Menurutnya, poster adalah media penyampaian kegusarannya selama ini. “Poster atau spanduk merupakan bentuk komunikasi saya dengan orang yang melihatnya. Cara ini menurut saya sangat efektif untuk mengubah pola pikir orang,” ucap Hannah, yang mengaku baru pertama mengikuti aksi turun ke jalan, dengan berapi-api. Sebelum berpisah dengan tim femina, sambil mengelap keringat yang menetes di dahinya, ia menambahkan, “Sangat berbeda rasanya antara ikut berpartisipasi langsung dan hanya mengunggah lewat media sosial. Di lapangan lebih membara.”

Hal serupa juga dialami oleh Puji (22), mahasiswi jurusan sastra. Poster bertuliskan ‘Don’t let society label you’ sengaja dibuatnya atas dasar pengalaman yang ia dan temannya rasakan. “Saya merasa perempuan dikotak-kotakkan dari bentuk fisik, yakni gemuk atau kurus,  juga dibatasi dalam berpakaian dengan alasan memicu nafsu,” ucap Puji. Lewat poster-poster aksi Women’s March di Washington, ia termotivasi untuk menyuarakan kegelisahannya selama ini.

Saat mengikuti Women’s March yang berujung di Istana Negara, femina menemukan beberapa cara demonstran yang cukup unik untuk menyuarakan isi hatinya. Salah satunya adalah yang dibuat oleh Kania (25), yang bekerja sebagai staf bidang hak asasi manusia (HAM). Di cuaca yang panas, Kania mengenakan jas hujan  warna jingga yang bertuliskan ‘Rise and Shine’ di bagian belakang.

“Saya memilih kata-kata ini dengan maksud mengingatkan wanita di seluruh dunia bahwa sekarang adalah saatnya kaum wanita keluar dari kemalasan dan kenyamanan untuk mendobrak stigma bahwa wanita tidak cocok menjadi pemimpin dan terbatas geraknya,” tegasnya. Kania mengaku mengenakan kostum yang mencolok untuk mencuri perhatian orang dan membaca pesan yang ia tulis.

Klik halaman berikutnya untuk melanjutkan
 

Novita Permatasari


Topic

#isugender, #internationalwomensday

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.