Trending Topic
Tiga Karakter Pengusaha Perempuan Sukses Berbisnis

13 Jul 2023

 
Ilustrasi perempuan pemimpin. Foto: dok. Shutterstock


Pemimpin yang sukses adalah mereka yang memiliki kualitas leadership mumpuni. Akan tetapi, bagaimana seorang pribadi mampu mengasah karakter tersebut? Tiga wanita pemimpin dengan latar belakang usaha yang berbeda, berbagi karakter kepemimpinan mereka di acara DBS Treasures Indonesia Womenpreneur Conference 2023, yang berlangsung pada Selasa-Rabu (11-12/7/2023) lalu bertempat di Multifunction Hall, Plaza Indonesia, Jakarta Selatan. Simak berikut ini: 

 


Arini Subianto, perempuan di posisi pucuk PT Persada Capital investama, tak pernah menyangka  dirinya akan memimpin beberapa perusahaan besar. Foto: Muhammad Zaki

Arini Subianto: Pemimpin yang ‘Jago Menjahit’

Di dunia bisnis, terkadang, apa yang ditekuni saat ini tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan atau pengalaman sebelumnya. Namun, bukan berarti harus jadi kendala untuk mengantarkan pada kesuksesan. Hal ini dialami oleh Arini Subianto, perempuan di posisi pucuk PT Persada Capital investama, tak pernah menyangka  dirinya akan memimpin beberapa perusahaan besar. Tak tanggung-tanggung, bidang yang ia kelola terentang dari energi, perkebunan, hingga kesehatan. Sebelumnya, ia berkecimpung di dunia ritel, mengembangkan toko buku Aksara, dan mendirikan jaringan F&B di Jakarta.  

Sejak ayahnya sakit, ia didapuk menjadi penerus bisnis keluarga, yang sebelumnya tidak pernah ia pelajari. Bagaimana Arini bisa keep up dengan peran barunya? “Beruntung, partner ayah saya menuntun langkah demi langkah. Saat itu saya bilang, teach me, karena saya tidak tahu apa-apa. Mikirnya satu: Jangan kolaps. Jangan sampai mereka yang sudah bekerja untuk ayah saya kehilangan pekerjaan. Tapi saya juga tidak akan bisa belajar semua dalam waktu semalam. Saya jalani hari demi hari. Duduk di rapat. Setiap hari review, semua perusahaan dengan bidang yang beragam. Saya tidak mengerti tentang batubara, kelapa sawit, kopi, jagung, beras. Saya duduk saja, mendengar, belajar, tanpa berusaha menunjukkan siapa saya,” ungkap Arini, yang mengatakan, kemauan mendengar dan berendah hati menjadi kunci penting. 

Ia menambahkan, “Jika saya tidak tahu tentang satu hal, saya akan langsung bertanya ke tim. Saya bukan siapa-siapa tanpa tim dan partner.” Seorang pemimpin, menurut Arini, adalah orang yang 'jago menjahit'. Tahu kapasitas timnya. Siapa ditaruh di posisi mana. “That’s what the leader is.” 
 


Suci Arumsari sukses mendirikan Alodokter walaupun bukan berlatar pendidikan dokter. Foto: Muhammad Zaki

Suci Arumsari: Pemimpin yang Memegang Kuat Semangat Usaha  

Senada dengan Arini, Suci Arumsari, co-founder dan President Director Alodokter, bukan berlatar pendidikan dokter. Suci sebelumnya bekerja sebagai produser televisi dan radio, dan pendidikan akademiknya dari bidang pajak. Ide mendirikan perusahaan teknologi di bidang medis, Alodokter, muncul dari pengalaman pribadi berjuang dengan penyakit tulang belakang. Ia kesulitan dalam menemukan sumber informasi yang akurat untuk penyakitnya.  

“Saat itu di 2012, saya didiagnosis HNP, skoliosis, dan bantalan tulang sudah habis. Di 2014 awal, saya sempat lumpuh total. Tidak bisa menggerakkan perut ke bawah. Sebulan lebih dalam kondisi bingung saya sakit apa. Cari-cari informasi malah tambah stres. Dibilang kanker, ada lagi yang bilang penyempitan yang sangat berbahaya,” kenang Suci.

Berburu informasi di internet, saat itu seperti hutan belantara. Untuk kesehatan, menurut Suci, risikonya cukup berbahaya, apabila nyasar, mengikuti saran yang salah, bisa berakibat fatal. Itulah yang membuatnya bersemangat untuk membuat Alodokter. Saat ini, Alodokter menjadi aplikasi kesehatan nomor 1 dengan 40 juta monthly user dan jutaan dokter yang tergabung di dalamnya. Alodokter menawarkan 5 fitur unggulan seperti; Chat Dokter, Artikel kesehatan terlengkap, Booking Dokter & Rumah Sakit, Proteksi Alodokter, dan Alodokter Shop.

 


Melia Winata, co-founder dan CMO  Du Anyam,  terinspirasi untuk membangun perekonomian masyarakat lokal. Foto: Muhammad Zaki

Melia Winata: Pemimpin yang Tekun dan Memahami Sasaran

Kisah serupa juga terjadi pada Melia Winata. Perempuan yang menjadi co-founder dan CMO  Du Anyam, ini bergerak di bidang kewirausahaan sosial. Melia telah mengelola lebih dari 100 portofolio penjualan termasuk partisipasi Du Anyam di Asian Games 2018, selain memimpin cabang ekspor Du Anyam dan bekerja dengan mitra global. Namanya  masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2020 sebagai salah satu Social Entrepreneur terkemuka di Asia.

Siapa sangka, Melia yang berlatar pendidikan Biomedicine - University of Melbourne, memulai karier di industri properti di Jakarta, berujung membangun usaha yang membesarkan namanya dari perkenalannya dengan komunitas ibu-ibu di Nusa Tenggara Timur.

Bermula dari kunjungannya ke teman SMA yang cukup lama tinggal di NTT tahun 2013, Melia terinspirasi untuk membangun perekonomian masyarakat lokal.“Teman saya, Hana Keraf, sudah bekerja di NTT. Sambil traveling, sambil survei, saya berpikir, apa sih yang bisa dilakukan untuk para perempuan di NTT. Saya, Hana, dan Azalea Ayuningtyas punya idealisme yang sama,” cerita Melia.

Di awal, mereka mencoba masuk dengan mendekati kepala desa, untuk masuk ke komunitas ibu-ibu. “Di sana, para ibu ini menghadapi masalah kesehatan kronis seperti gizi buruk. Angka kematian ibu dan anak cukup tinggi. Kami tinggal bareng dengan warga. Melihat problem mereka, sebelum memutuskan langkah apa yang harus dilakukan untuk membantu secara ekonomi.” 

Melia dan ketiga temannya melihat, mama-mama di sana punya keterampilan menganyam. Dari puluhan ibu-ibu yang dibina, satu per satu, yang bertahan hanya tinggal 8 orang. “Sebanyak 8 orang inilah yang kami bina, untuk menjadi role model.  Mereka mulai merasakan dampak ekonomi bekerjasama dengan komunitas. Champion ini yang membantu kami untuk pengembangan.”
Kewirausahaan sosial punya keunikan sendiri. Pebisnis tidak semata memikirkan profit, tetapi juga pemberdayaan komunitas. Perempuan berwirausaha jumlahnya banyak sekali. Melia menyayangkan, “Mereka tidak punya suatu jalan untuk membuat bisnis sustainable. Satu orang yang bikin, beli bahan, jual. Semua mau dikerjakan sendiri. Untuk pemasaran, diserahkan ke pengepul. Di NTT, kami juga melihat adanya suatu dinamika antara perajin dengan pengepul. Jangan sampai pengepul saja yang punya harga tinggi tapi menekan harga perajin. Mereka diajari untuk tahu cara menghitung harga.” Melia juga berbagi cerita bagaimana Du Anyam berhasil melewati krisis di masa pandemi. (f)

Ficky Yusrini (Kontributor)


Baca Juga: 
Kebangkitan UKM Perempuan Indonesia: Menguatkan Kinerja Bisnis UKM Dengan Belajar Trend dan Ilmu Baru
Empat Rahasia Sukses Perempuan Tangguh Pemimpin Usaha
Indonesia Womenpreneur Conference Segera Dimulai! 11-12 Juli 2023


 


Topic

iwc 2023, dbs treasures iwc 2023, indonesia womenpreneur conference, perempuan pemimpin, womenpreneur

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?