
Foto: Shutterstock
Salah satu tradisi malam tahun baru di Indonesia yang selalu membuat rasa kangen muncul adalah berkumpul bersama keluarga atau sahabat. Tentunya tidak ketinggalan acara makan-makan dan BBQ-an.
Bahkan untuk menu bakar-bakaran ini, kita rela mengeluarkan uang untuk membeli aneka pangan dari mulai jagung, sosis, daging, ayam, juga ikan. Namun tak jarang di penghujung malam, semua makanan tersebut bersisa banyak.
Ini hanya satu contoh dari bagaimana kita mengelola makanan dalam acara perayaan bahkan juga makanan sehari-hari. Tumpukan makanan sisa kerap menjadi pemandangan yang memenuhi tempat sampah di banyak rumah tangga di Indonesia.
Faktanya makanan sisa atau food waste tak hanya menjadi masalah di Indonesia, tapi juga dunia. Data menyebutkan 1/3 (sepertiga) dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia di dunia dibuang sebagai sampah. Jumlahnya sekitar 1,3 milyar ton per tahun. Total sampah tersebut diperkirakan dapat menghidupi 2 milyar orang.
Bahkan nilai dari sampah makanan yang terbuang diperkiran mencapai USD 680 milyar untuk negara maju dan USD 310 milyar untuk negara berkembang. Bayangkan jika makanan yang terbuang itu bisa membantu 795 juta manusia di dunia yang menderita kelaparan.
Indonesia sendiri adalah negara pembuang sampah makanan nomor 2 terbesar di dunia, setelah Arab Saudi. Menurut FAO (2016) sampah makanan di Indonesia berjumlah 13 juta ton setiap tahun, sama dengan 500 x berat Monas di Jakarta dan diperkirakan mampu menghidupi 28 juta orang.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2020 menyebutkan bahwa sampah makanan merupakan jenis sampah terbanyak yang timbul, yaitu 39,8 persen dari seluruh jenis sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia. Sedangkan data Bappenas menyebut jumlahnya mencapai 23 juta ton-48 juta ton per tahun (2000-2019). Setara 115 kg-184 kg sampah makanan per kapita per tahun. Hal tersebut menyebabkan kerugian sebesar Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun setara 4% -5% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Sampah makanan adalah makanan yang terbuang dan tidak termakan. Penyebabnya banyak dan terjadi dalam setiap mata rantai dari produksi sampai konsumsi. Baik itu yang berasal dari rumah tangga, retail, restoran, hingga industri pengolahan makanan dan di jalur distribusi.
Pada dasarnya sampah makanan dapat dibagi menjadi 2 kategori. Pertama, sisa makanan yang diakibatkan dari penyajian yang berlimpah akibat budaya berlebihan dari masyarakat urban dan disebut dengan left over. Kedua, sisa makanan yang terjadi akibat kesalahan perencanaan dan manajemen baik yang masih layak dikonsumsi ataupun tidak layak. Termasuk makanan kadaluarsa, kesalahan produksi dan produk gagal.
Bukan Sekadar Mubazir
Isu tentang sampah makanan ini bukan hanya sekadar mubazir, faktanya sampah pangan memiliki kontribusi yang besar pada perusakan lingkungan hidup manusia.
Tidak banyak orang yang sadar bahwa sampah pangan seharusnya tidak boleh dicampur dengan sampah non-organik yang tidak bisa membusuk. Percampuran kedua jenis sampah ini di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang miskin oksigen akan menghasilkan limpasan cairan beracun leachate yang sangat berbahaya bagi lingkungan.
Secara signifikan cairan leachate berdampak pada sistem perairan, mengurangi jumlah oksigen, dan mendorong pertumbuhan organisme berbahaya. Karena tingkat toksisitasnya yang tinggi, leachate menjadi ancaman utama bagi kesehatan air tanah. Biro Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Lingkungan Hidup 2018 melaporkan kualitas air sungai di Indonesia umumnya berada pada status tercemar berat. Kondisi ini membuat masyarakat kehilangan sumber air bersih dan mulai bergantung pada sumber lain seperti air tanah.
Selain permasalahan cairan beracun, sampah pangan juga berkontribusi terhadap isu lingkungan lain yang saat ini kian merisaukan, yakni gas rumah kaca atau GRK. Proses pembusukan sampah organik dengan konsentrasi sampah non-organik yang tinggi akan melepaskan gas metana atau CH4 yang disinyalir 25 kali lebih berbahaya dari karbon dioksida (IPCC 2007).
Food Wastages: Foodprint Impacts On Natural Resources (2013) menyebutkan rata-rata jejak karbon sampah pangan diperkirakan mencapai 500 kg, setara karbon dioksida (CO2e) perkapita setiap tahunnya. Pada 2007 sendiri, jumlah emisi yang diproduksi sampah pangan dilaporkan mencapai 3,3 gigaton setara karbon dioksida (CO2e).
Dampak perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca menurut Statistik Lingkungan Hidup 2019 turut berkonstribusi terhadap terjadinya berbagai bencana alam di dalam negeri seperti, kekeringan, banjir, tanah longsor dan risiko penurunan ketersediaan air yang signifikan di sejumlah daerah terutama pulau Jawa dan Bali.
Emisi gas rumah kaca juga berkontribusi mengurangi kandungan nutrisi pada sejumlah tumbuhan. Penelitian ekologi oleh Chunwu Zhu, Lewis H. Ziska, dkk, yang dipublikasi pada laman Science Advances (PDF), seperti dikutip dari tirto.com menunjukkan, beras yang terpapar karbon dioksida pada level tinggi mengandung nutrisi yang lebih rendah dibandingkan yang ditanam sekarang ini. Sebanyak 18 varietas padi yang diujikan mengandung lebih sedikit protein, zinc, zat besi, penurunan vitamin B1, B2, B5, B9 dan peningkatan vitamin E. Kondisi yang sangat mengkhawatirkan, khususnya bagi generasi penerus.
Mengatasi Sampah Makanan di Mulai dari Rumah
Setiap individu memikul tanggungjawab yang sama untuk berlaku bijak dengan tidak mubazir dalam mengelola makanan yang dikonsumsi sehari-hari. FAO dalam Food Wastages: Foodprint Impacts On Natural Resources, mengatakan sampah pangan pada ranah konsumsi justru memproduksi jejak karbon terbesar dari seluruh elemen rantai pasok pangan.
Hal ini karena aspek konsumsi mencakup segala elemen, mulai dari proses agrikultur, distribusi, masak-memasak hingga makanan tersebut disia-siakan konsumen. Karenanya, partisipasi aktif individu merupakan kunci meminialisir sampah pangan. Berikut kebiasaan sehari-hari yang bisa dilakukan untuk berpartisipasi mengurangi sampah pangan:
1/ Lakukan persiapan dan perencanaan pengelolaan makanan yang rinci dan efisien. Salah satu caranya adalah dengan membuat daftar menu mingguan, sehingga ketika berbelanja bahan makanan, Anda bisa mengetahui dan mengukur berapa banyak bahan yang harus dibeli untuk kebutuhan satu minggu. Perencanaan yang efisien akan mengurangi sampah makanan saat pengolahan dan penyimpanan makanan.
2/ Beli pangan lokal. Setiap pangan yang sampai di tangan kita harus melalui proses distribusi. Mulai dari tempat produksi ke tempat penyimpanan, lalu disalurkan ke supermarket, pasar hingga tukang sayur keliling dan proses ini memakan bahan bakar yang tidak sedikit. Semakin jauh suatu pangan didistribusikan tentu semakin besar emisi karbon yang dihasilkannya. Belum lagi risiko pangan rusak diperjalanan hingga pada akhirnya terbuang percuma. Karena itu sangat dianjurkan untuk membeli bahan pangan yang diproduksi secara lokal.
3/ Simpan bahan pangan secara tepat. Penyimpanan menjadi faktor yang sangat berpengaruh pada tingkat keawetan suatu pangan. Bahan pangan harus disimpan dengan benar agar memiliki shelf life yang cukup lama dengan mencegah pembusukan. Tentunya setiap jenis pangan harus disimpan dengan ketentuan yang berbeda-beda sesuai karekteristik masing-masing. Peletakan pangan di dalam kulkas, misalnya perlu diperhatikan jenis bahan pangan mana yang harus diletakkan di freezer, di bagian tengah atau bawah kulkas. Semua ada aturannya.
4/ Bijaklah dalam mengonsumsi makanan. ambil makanan sesuai porsi dan kebutuhan gizi serta hindari menyisakan makanan di piring. Termasuk juga ketika Anda memasak untuk keluarga, perhatikan porsinya agar makanan cukup untuk semua anggota keluarga dan tidak bersisa. Jika memang terlanjur bersisa, Anda bisa menyimpan makanan tersebut di kulkas, untuk kemudian dikonsumsi kembali di lain waktu. Salah satu makanan yang ternyata paling banyak menjadi sampah adalah nasi. Menurut Waste4Change, seperti dikutip dari Kompas.com, dari sisi sektor dan jenis pangan, timbunan terbesar terjadi di tanaman pangan, kategori padi-padian sebanyak 44 persen. Jadi, bijaklah memasak dan mengonsumsi pangan olahan dari padi.
5/ Makanan yang masih layak konsumsi tetapi tidak termakan harus diredistribusikan atau diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Di tingkat rumah tangga, sisa makanan bisa dibagikan ke tetangga dan kerabat. Jika Anda pemilik bisnis kuliner, makanan yang berpotensi menjadi food waste dapat diserahkan ke ‘bank makanan’ untuk kemudian didistribusikan kepada berbagai pihak yang membutuhkan.
6/ Makanan yang sudah tidak layak konsumsi dapat dimanfaatkan untuk membuat pakan ternak atau terakhir dijadikan kompos. Sehingga sampah makanan dari rumah tangga tidak semuanya menumpuk di TPA. (f)
Baca Juga:
5 Tren Bisnis yang Akan Booming di 2022
5 Alasan Green Job Bakal Booming di Dunia, Termasuk Indonesia
Tip Memilih Furnitur Ramah Lingkungan
Faunda Liswijayanti
Topic
#sampah, #sampahmakanan, #lingkungan, #lingkungan hidup


