
Foto: 123RF
Selama ini, lembaga pendidikan Islam non-formal seperti pondok pesantren (pontren), menjadi pilihan kedua untuk mendapatkan pendidikan bagi anak. Baik karena kurikulum pendidikannya dianggap tak mengikuti standar pendidikan umum dari pemerintah ataupun karena lokasinya yang kerap terletak jauh dari perkotaan.
Namun, berdasarkan penelitian dari Kementerian Agama RI, animo masyarakat dan permintaan akan kebutuhan lembaga pendidikan Islam justru kian bertambah tiap tahunnya. Dengan perkembangan kurikulum yang diterapkan dan kian mengikuti zaman, memudarkan stereotip pontren sebagai lembaga pendidikan kelas dua.
Sebagai negara dengan umat muslim terbanyak di dunia, tak heran jika Indonesia memiliki banyak pusat pendidikan Islam. Bahkan, di tengah era globalisasi ini, pendidikan Islam ternyata tak pernah surut apalagi kehilangan peminat. Perkembangannya justru kian tampak dengan makin banyaknya pontren yang terus tumbuh subur di tanah air, termasuk jumlah santri yang meningkat.
Data Umum Pendidikan Islam dari Kementerian Agama menunjukkan perkembangan jumlah pontren dari 27.230 (2011-2012) menjadi 28.194 (2015-2016). Termasuk jumlah santri yang bertambah signifikan. Pada tahun 2011-2012 terdapat 3.759.198 santri, sementara pada tahun 2015-2016 bertambah menjadi 4.290.626 santri.
“Perkembangan tersebut tak hanya dilihat dari angkanya, tapi juga realisasi dalam bentuk kurikulum pengajaran dan fasilitas pondok pesantren yang makin maju dan tak kalah bersaing dengan sekolah umum,” tutur Imam Safei, Plt. Direktur Pendidikan Diniyah & Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag).
Kabar baiknya, kesan ‘kampungan’ yang melekat pada citra pontren –karena metode belajar tradisional dan kebanyakan berlokasi di daerah pedalaman– lama-kelamaan kian luntur. Pasalnya, di kota besar, makin banyak tumbuh pondok pesantren baru modern yang dekat dengan masyarakat perkotaan dan keramaiannya yang khas.
Kendati Kemenag tak punya data tentang pertumbuhan pontren di daerah perkotaan, menurut Imam, kehadirannya di kota-kota besar adalah salah satu jawaban atas permintaan masyarakat ibu kota terhadap lembaga pendidikan Islam yang lokasinya dekat dengan mereka. “Ada supply, karena ada demand. Berarti menunjukkan masih banyak masyarakat –di perkotaan sekalipun– yang merasa perlu memberikan ilmu agama Islam secara lebih mendalam kepada anak mereka,” tambahnya.
Diakui oleh ulama NU dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, K.H. Salahuddin Wahid, kemajuan dunia pontren belasan tahun belakangan terasa luar biasa. Jika dulu kebanyakan pontren memberikan pendidikan agama Islam secara tradisional saja (yang biasa disebut pondok pesantren salaf), kini makin banyak pontren yang mengombinasikan
pembelajaran ilmu agama dengan pendidikan kurikulum nasional secara seimbang.
Menurut Kemenag, kurikulum salaf pembelajarannya masih murni mengaji dan membahas Kitab Kuning (kitab tradisional). Sedangkan pondok pesantren modern pengembangan pembelajarannya mengombinasikan antara mengkaji Kitab Kuning dan ilmu sains serta iptek.
“Dua-duanya sama-sama positif. Metodenya saja yang berbeda. Tapi yang penting, pondok pesantren akan mendidik para santrinya agar tidak hanya beriman, tapi juga berilmu,” tutur pria yang akrab dipanggil Gus Sholah, yang menilai bahwa dunia pontren kian mengikuti zaman.
Melihat makin suburnya pertumbuhan lembaga pendidikan Islam non-formal di masyarakat, diakui Imam mendorong Kementerian Agama untuk mempersiapkan diri menerapkan standardisasi bagi pondok pesantren. Walau masih dalam
tahap pengembangan, diharapkan standardisasi ini akan makin memajukan pontren agar tak kalah dengan lembaga pendidikan umum lainnya.
“Karena nantinya, standardisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan mutu didik dari pondok pesantren itu sendiri agar menjadi lebih baik serta punya daya saing,” tambah Imam. (f)
Ikuti ulasan lengkapnya di topik #Pesantren.
Baca juga:
Kisah dari Posko Banjir Pesantren Ekologi Ath-Thaariq: Nissa Wargadipura, Lawan Bencana Banjir Garut dengan Kearifan Lokal
Topic
#pesantren, #pendidikananak, #keluarga, #pendidikan




