Trending Topic
Peringkat Literasi Indonesia, Nomor Dua Dari Bawah

23 Apr 2016


Foto: Fotosearch

Saat Anda naik kendaraan umum atau menunggu penerbangan di bandara, coba perhatikan orang-orang di sekeliling Anda, apa yang mereka lakukan? Coba amati juga apa yang anak-anak kecil, baik itu anak maupun keponakan Anda, lakukan di tengah acara keluarga, saat mereka sudah bosan berlarian ke sana kemari? Sepertinya, mayoritas dari Anda akan memiliki jawaban yang sama: mereka sibuk dengan gadget-nya.
           
Kondisi tersebut mungkin merupakan cerminan dari ketidakakraban orang Indonesia dengan buku. Tak heran jika data UNESCO tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001. Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Dengan rasio ini, berarti di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 yang punya minat baca. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta pada 2014. Waduh!
 
Dalam hal ini, jangan bandingkan Indonesia dengan negara-negara maju, seperti Amerika, Australia, maupun Inggris. Di antara negara-negara ASEAN saja, Indonesia menempati urutan ketiga terbawah bersama Kamboja dan Laos. Bagaimana tidak, penelitian UNESCO mengenai minat baca pada tahun 2014 lagi-lagi menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun.
           
Pemeringkatan terbaru, menurut data World's Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi kita berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti! Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika. Fakta ini didasarkan pada studi deskriptif dengan menguji sejumlah aspek. Antara lain, mencakup lima kategori, yaitu, perpustakaan, koran, input sistem pendidikan, output sistem pendidikan, dan ketersediaan komputer. 
 
Fakta tersebut didukung juga oleh survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia, yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2012. Dikatakan, hanya 17,66% anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca. Sementara, yang memiliki minat menonton mencapai 91,67%!
           
Ibnu Wahyudi, pengamat sastra dan pengajar penulisan kreatif dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, mengatakan, rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ini dikarenakan minimnya akses terhadap buku. “Tidak semua sekolah memiliki perpustakaan yang layak. Demikian pula perpustakaan daerahnya,” papar pria yang akrab disapa Iben ini.
           
Meski begitu, Iben mengkritisi bahwa penyebab sesungguhnya bukanlah ketidakmampuan ekonomi, namun sebagian besar masyarakat kita tidak menjadikan membeli buku sebagai prioritas belanja keluarga maupun pribadi. “Karena, rendahnya ‘daya’ beli buku ini juga terjadi di kota-kota besar, yang mayoritas masyarakatnya adalah kelas menengah,” ujar sastrawan yang buku puisinya, Masih Bersama Musim, masuk dalam 10 besar penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2005 ini.
 
Faktor penyebab minimnya minat baca berikutnya adalah kita tidak pernah diperkenalkan kepada buku sejak dini, baik itu oleh orang tua kita di rumah maupun di sekolah oleh para guru kita. “Tanggung jawab untuk memperkenalkan buku dan membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan ada pada orang tua dan guru,” tuturnya.

10 Negara dengan Peringkat Literasi Tertinggi
(World's Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016)

1 Finlandia
2 Norwegia
3 Islandia
4 Denmark
5 Swedia
6 Swiss
7 Amerika Serikat
8 Jerman
9 Latvia
10 Belanda



Eka Januwati, Ficky Yusrini