Foto: Shutterstock
Berdasarkan riset yang berjudul Grup WhatsApp dan Literasi Digital Perempuan Indonesia yang dipublikasi awal tahun 2020 ini oleh Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa bagi kebanyakan wanita, WhatsApp adalah perpanjangan dari kehidupan sosial di mana lebih dari separuh grup WhatsApp mereka adalah keluarga dan teman-teman.
Sebanyak 70% dari 1.250 responden wanita mengaku memiliki hingga 10 grup WhatsApp, yang seringkali menjadi tempat di mana mereka terpapar hoaks dan disinformasi.
Namun, 74% dari wanita yang terpapar hoaks memilih untuk tidak menanggapi pesan meragukan yang diterima karena menghindari konflik.
Novi Kurnia, Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi UGM dalam siaran media yang diterima femina beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa wanita justru berkesempatan membawa perubahan dalam komunitasnya asalkan terbekali dengan pelatihan literasi digital yang tepat.
Untuk mendukung hal tersebut, para tokoh komunitas wanita di empat kota menjadi agen perubahan dalam memerangi penyebaran hoaks sepanjang Pilkada 2020, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan WhatsApp meluncurkan program pelatihan bertemakan “Perempuan Melawan Hoaks Politik di WhatsApp Grup dalam Pilkada 2020”.
Pelatihan ini diadakan di empat kota/kabupaten terpilih, yakni Tangerang Selatan, Mamuju, Tomohon, dan Makassar. Keempat lokasi ini diidentifikasi oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai daerah yang rentan konflik akibat disinformasi.
Clair Deevy, Direktur Kebijakan Publik WhatsApp APAC mengatakan bahwa pihaknya percaya bahwa teknologi dan peningkatan literasi digital yang baik dapat menjadi solusi atas isu ini. Cara terbaik untuk melawan hoaks adalah menggabungkan fitur aplikasi dengan kolaborasi bersama para pendidik terbaik.
“Aplikasi kami menginfokan penggunanya jika pesan yang mereka terima pernah diteruskan dan membatasi jumlah penerusan pesan. Dan tentu saja sekarang kami sangat antusias dapat bekerja sama dengan institusi seperti Universitas Gadjah Mada. Tidak sekadar mendukung proyek riset mereka, bahkan hingga menyediakan pelatihan bagi pengguna WhatsApp untuk turut melawan hoaks dan disinformasi,” katanya.
Deevy menambahkan bahwa selain bekerja sama dengan komunitas di Indonesia, pihaknya juga terus bekerja di balik layar. Memperkuat teknologi untuk mendeteksi dan menghentikan akun-akun yang menunjukkan perilaku mencurigakan.
“Jutaan orang di Indonesia menggunakan WhatsApp untuk berbagi kisah dan informasi dengan teman dan keluarganya. Inilah alasan kami berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan produk terbaik dan membekali para pengguna kami dengan pengetahuan yang tepat supaya mereka dapat lebih kritis sebelum membagikan pesan-pesan yang mereka terima.”
Pelatihan ini berlangsung dari tanggal 19 sampai 23 Oktober 2020, diikuti dengan sesi pendampingan hingga akhir tahun. Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan menerima sesi pembinaan melalui grup WhatsApp. Mereka juga akan dibekali dengan materi pembelajaran yang memudahkan mereka meneruskan apa yang sudah mereka pelajari kepada komunitas mereka. (f)
Baca Juga:
Tantangan Public Affairs dalam Era Kenormalan Baru
Hasil Testing Covid-19 pada 2,5 juta orang, 86% Terkonfirmasi Negatif
Anak Perempuan Lebih Rentan Depresi Karena Pandemi COVID-19
Topic
#hoaks




