
Foto: Freepik
Dalam siaran pers pada Senin (21/2/2022), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan bahwa perkembangan kasus Omicron di Indonesia masih terkendali, khususnya di Pulau Jawa dan Bali. Meskipun penambahan kasus sudah melebihi trend Delta, namun kondisi rawat inap dan kematian jauh lebih rendah dibandingkan varian Delta beberapa waktu lalu.
“Secara spesifik, kami melihat Provinsi DKI Jakarta, Banten dan Bali yang sudah memasuki tren penurunan kasus konfirmasi harian COVID-19. Tren angka hospitalisasi juga terlihat menurun di DKI Jakarta dan Bali,” ungkap Luhut.
Luhut menyebutkan bahwa hingga Senin (21/9/2022), jumlah keterisian rawat inap di rumah sakit seluruh provinsi Jawa Bali masih jauh di bawah keterisian varian Delta. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.
Meski begitu, adanya peningkatan jumlah kasus yang datang dari tenaga kesehatan belakangan ini perlu menjadi perhatian. Luhut pun meminta Kementerian Kesehatan untuk melakukan pengawasan penggunaan dan pengetatan Alat pelindung diri serta menyiapkan fasilitas. Data menunjukkan kelompok nakes yang paling banyak terinfeksi ialah perawat, tenaga penunjang hingga manajemen rumah sakit.
Terkait dengan kondisi pasien meninggal akibat Omicron, Luhut menyebutkan bahwa dari 2.484 pasien meninggal, 73 persen diantaranya belum melakukan vaksinasi dosis lengkap, 53 persen Lansia dan 46 persen memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Pasien komorbid tersebut rata-rata meninggal 5 hari sejak masuk ke dalam rumah sakit. Dimana komorbid terbanyak ialah diabetes melitus.
Menanggapi data tersebut, Presiden Joko Widodo dalam Rapat Terbatas (Ratas) meminta agar risiko kematian terhadap Lansia, orang yang belum di vaksin dan memiliki komorbid untuk dapat di tekan semaksimal mungkin dengan penanganan yang baik.
Untuk itu Pemerintah akan segera melakukan langkah-langkah mitigasi untuk menekan angka kematian dengan memberikan respon perawatan yang lebih cepat kepada kelompok yang memiliki komorbid.
“Kami mendorong adanya interkoneksi data antara BPJS Kesehatan yang memiliki data komorbid dan data penambahan kasus di NAR Kemenkes, sehingga jika ada penambahan kasus langsung terdeteksi apakah orang tersebut komorbid atau tidak, dan respon tindakan bisa dilakukan secara cepat,” jelas Luhut.
Pemerintah pun kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak perlu terlalu panik. Yang perlu dilakukan adalah terus menjaga pola hidup sehat, memastikan sudah tervaksin, dan mentaati protokol kesehatan. Karena data-data menunjukkan mereka yang terinfeksi varian ini dan memiliki gejala berat hingga meninggal teridentifikasi sebagai orang-orang yang belum divaksin atau sudah divaksin tapi belum lengkap, memiliki komorbid, dan lansia. (f)
Baca Juga:
Pasien Dengan Hasil Antigen Positif Bisa Gunakan Layanan Telemedisin Isoman
Pemerintah Sebut Jumlah Pasien COVID-19 yang Dirawat Masih Stabil
5 Tempat Paling Berisiko Jadi Pusat Penularan Omicron
Faunda Liswijayanti
Topic
#covid19, #corona, #pandemi, #omicron, #komorbid, #vaksin




