Foto: pixabaySetelah DKI Jakarta, rapid test COVID-19 hari ini mulai dilakukan di Bekasi, dan akan menyusul daerah lain. Pelaksanaannya diatur oleh masing-masing daerah. Di Jakarta dan Bekasi, petugas medis mendatangi masyarakat yang termasuk dalam ODP dan PDP, sementara di Depok, masyarakat akan dihubungi untuk melakukan tes di Puskesmas yang ditunjuk.
Rapid test menjadi salah satu strategi untuk mengendalikan COVID-19 yang jumlahnya masih terus bertambah di Indonesia. Data terbaru yang diumumkan pemerintah, hingga Rabu (25/3/20×0), secara global COVID-19 terkonfirmsi 436.481 di 187 negara / kawasan, menyebabkan 19.643 kematian. Di Indonesia, 790 dinyatakan positif COVID-19, sembuh 31, dan meninggal dunia 58.
Di dunia tak hanya ada satu macam alat test berikut beberapa yang digunakan:
1/ Rapid Test
Metode rapid test untuk mendeteksi virus corona yang menyebabkan Covid-19 tidak digunakan untuk menegakkan diagnosa. Dalam jurnal berjudul 'Antibody responses to SARS-CoV-2 in patients of novel coronavirus disease 2019' disebutkan, sensitivitas rapid test serologi sekitar 36 persen dari 100 kasus Covid-19.
Rapid test merupakan metode diagnostik jenis penyakit melalui antibodi yang dibangun tubuh saat kuman baik itu bakteri atau virus masuk ke dalam tubuh manusia. Hasil rapid test bisa bias karena sistem imun butuh waktu sekitar satu hingga dua minggu untuk memproduksi antibodi.
Rapid tes menggunakan sampel darah. Di dalam sampel darah tersebut, akan dicari IgG dan IgM. IgG adalah singkatan dari Immunoglobulin G dan IgM adalah kependekan dari Immunoglobulin M. Keduanya merupakan bentuk dari antibodi atau bagian dari sistem kekebalan tubuh.
Caranya: sampel darah diambil sedikit dari ujung jari. Lalu, sampel tersebut diteteskan ke alat rapid test. Selanjutnya, cairan pelarut sekaligus reagen akan diteteskan di tempat yang sama.
Tunggu 10-15 menit. Hasil akan tampak di alat berupa garis. Jika hasilnya positif, maka ada kemungkinan bahwa orang tersebut memang sedang mengalami infeksi. Dan perlu dilakukan PCR untuk menegakkan diagnosa.
Kalau hasilnya negatif, harus hati-hati, karena belum tentu negatif. Metode rapid test hanya bisa mendeteksi penderita yang sudah terinfeksi 7-10 hari. Jika masa infeksi di bawah angka tersebut, penderita masih bisa lolos dari pemeriksaan. Karena rapid tes perlu diulang 10 hari kemudian.
Ada beberapa negara yang mengembangkan alat rapid test, Tiongkok, Korea Selatan, dan Singapura.
Foto: dok. sugentech.inc2/ Metode PCR
Metode deteksi kedua adalah polymerase chain reaction (PCR) yang fungsinya untuk mengenali infeksi aktif. PCR, kata dia mengukur langsung materi genetik yang hidup. Tes ini bersama Genome sequencing (GS), selama ini digunakan oleh pemerintah untuk menegakkan diagnosa COVID-19.
Baik tes PCR dan GS yang mengambil sampel dari tenggorokan, kerongkongan, atau hidung.
Metode PCR membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyimpulkan seseorang positif atau negatif dari Covid-19. Berdasarkan standar Kementerian Kesehatan, metode itu butuh waktu 24 jam hingga tiga hari untuk mendapatkan hasil. Meski lama, metode ini dianggap paling alkurat.
3/ Metode GS atau Genome sequencing atau pengurutan genom dari DNA virus.
Baik tes PCR dan GS yang mengambil sampel dari tenggorokan, kerongkongan, atau hidung. GS merupakan metode yang digunakan untuk penelitian. Sehingga, cara ini tidak bisa cepat.
4/ RT-PCR
Baru-baru ini FDA menyetujui penggunakan Real-Time PCR sebagai alat tes darurat yang dapat mengetahui status COVID-19. Menggunakan swab dari saluran pernapasan, alat ini kabarnya dapat memberi hasil dalam 45 menit.
Alat yang disebut GeneXpert ini dikembangkan perusahaan teknologi Cepheid yang sebelumnya juga mengembangkan alat uji TBC dan HIV. Di India ada juga perusahaan yang mengembangkan alat RT-PCR tapi memerlukan waktu lebih lama, sekitar 2,5 untuk mendapatkan hasil. (f)
Baca Juga:
Bersama Lawan Corona, Pemerintah Buka Satu Pintu Saluran Bantuan Pribadi dan Perusahaan
Mengintip Hotel Atlet Kemayoran yang Berubah Wajah Menjadi Rumah Sakit Khusus COVID19
Topic
#corona, #coronavirus, #covid19




