Trending Topic
Mencari Kebahagiaan Dengan Berbagi

3 Feb 2019


Yuni Jie dan karya fashion One Fine Sky di atas catwalk/ Foto: dok. pribadi

“Lebih baik memberi daripada menerima”, ”Makin banyak memberi, kita akan makin berkelimpahan”. Kendati demikian, toh, tidak tiap orang mudah tersentuh hatinya untuk berbagi dan ‘melayani’ sesama. Wanita-wanita ini bisa memberi inspirasi bahwa memberi dan berbagi tidak perlu sulit-sulit, juga sangat menyenangkan.
 
Berbagi Lewat Talenta

Tidak dapat disangkal bahwa kehidupan saat ini sangat demanding. Segala sesuatunya berjalan serba cepat dan terus berubah. Sepertinya waktu 24 jam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan semua urusan. Ibaratnya, buat diri sendiri saja kewalahan, boro-boro punya waktu untuk memikirkan orang lain. Mungkin tidak sedikit diantara kita yang mengeluhkan, “Mengapa saya harus mengerahkan segala upaya untuk memberi kepada orang lain?”.
 
Tapi pemikiran itu berbeda dengan yang dilakukan desainer interior Yuni Jie. Di sela kegiatannya yang padat sebagai seorang desainer interior, bersama sahabatnya, Claudia Halim, Yuni mendirikan One Fine Sky. Sebuah platform bisnis sosial yang terbuka bagi siapa pun yang ingin terlibat, dengan cara membeli produk fashion

keluaran One Fine Sky dimulai dengan white shirt sederhana berlogo One Fine Sky. Kini selain kemeja putih, One Fine Sky juga memproduksi polo shirt dan topi. “Untuk tiap produk yang terjual akan dikonversi menjadi satu set seragam sekolah SD untuk didonasikan kepada anak-anak yang membutuhkan,” jelas Yuni.

Ide membangun One Fine Sky ini muncul menjelang Yuni berulang tahun ke-40. “Saya merasa berkecukupan, baik dalam hal karier maupun keluarga. Namun, saya masih merasa ada sesuatu yang kurang,” akunya. Ia merasa perlu untuk melakukan sesuatu yang memberikan value bagi hidup orang lain, melalui talenta yang ia miliki.
 
Dari situlah ia kemudian menginisiasi proyek sosial yang menjadikan desain sebagai elemen utamanya. “Saya merasa desain merupakan hal terbaik yang dapat saya lakukan dan bagikan karena background saya adalah interior dan desainer produk,” katanya.
 
Pilihannya jatuh pada kemeja putih. Di mata Yuni, kemeja putih bersifat serbaguna dan universal. Semua orang membutuhkannya, dan secara fashion, bisa dipadupadankan, baik untuk acara kasual maupun formal.

One Fine Sky didirikan tepat pada hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017. Didukung oleh fotografer kenamaan Indra Leonardi, Yuni menggelar pameran foto yang memamerkan 16 tokoh mengenakan kemeja putih One Fine Sky hingga akhirnya merek ini dikenal khalayak luas dan kemeja putih berlogo awan itu menjadi fashion item yang dicari para fashionista.
 
November lalu mereka bahkan menggelar fashion show, bekerja sama dengan IPMI, melibatkan 36 perancang busana yang merancang berbagai busana warna putih. Usai peragaan dilanjutkan dengan silent auction dan seluruh potong baju terjual habis.
 
“Saya merasa belum banyak kegiatan sosial yang menjadikan desain sebagai core utamanya. Selain itu, saya juga merasa bahwa pendidikan itu, sama halnya seperti desain, demokratis dan harus dapat dijangkau oleh semua orang,” jelas Yuni.
 
Cerita lain datang dari Denica Flesch. Diawali dari niat untuk berbagi dan keinginan untuk berkontribusi mengangkat kemiskinan, Denica mulai melakukan sebuah aksi. Ia merasa, pekerjaannya sebagai ekonom tak memberikan dampak secara langsung pada masyarakat. Ketika melakukan riset dari desa ke desa, Denica menemukan tren yang menarik.
 
Orang lebih mudah mendapatkan penghasilan dari pekerjaan sederhana, seperti di minimarket, menjadi pramusaji atau tukang, ketimbang menjadi perajin kain. Jarang anak muda yang tertarik meneruskan bekerja sebagai perajin. Padahal, industri kerajinan adalah industri terbesar kedua yang membuka lapangan kerja.
 
Dari situlah Denica terpikir untuk memanfaatkan kerajinan sebagai alat untuk membantu pengentasan kemiskinan, sekaligus mempertahankan keberadaan industri kerajinan, dengan mendirikan SukkhaCitta sebagai sebuah social enterprise, untuk mengubah standar industri kerajinan tekstil. SukkhaCitta berfokus memperjuangkan perajin rumahan di pedesaan, terutama para wanitanya.
 
Denica juga menekankan bahwa sehelai kain yang diproduksi harus mampu memberikan upah yang layak, berkelanjutan secara lingkungan, dan pada saat yang sama mempertahankan tradisi.

Selanjutnya: Hidup yang Bermakna
 

Ficky Yusrini


Topic

#trendingtopic, #theartofgiving, #gayahidup