Trending Topic
Masyarakat Pulau Jawa Hasilkan 189.000 Ton Sampah Plastik Per Bulan, Hanya 11,83% yang Didaur Ulang

24 Aug 2020


Foto: Unsplash
 
Sampah plastik masih menjadi masalah bagi kelestarian lingkungan di Indonesia. Selain jumlah sampah plastik yang ditimbulkan, yang didaur ulang pun masih sangat sedikit.

Studi yang dilakukan Unilever Indonesia bersama Sustainable Waste Indonesia (SWI) dan Indonesian Plastic Recyclers (IPR), tentang rantai nilai sampah plastik di pulau Jawa, menunjukkan hasil yang memprihatinkan.

Penelitian yang dilakukan sepanjang Oktober 2019 hingga 20 Februari 2020 tersebut menyimpulkan, masyarakat perkotaan Pulau Jawa menghasilkan sekitar 189.000 ton per bulan atau 6.300 ton per hari sampah plastik.

Dari jumlah tersebut hanya sekitar 11,83% atau kurang lebih 22.000 ton per bulan yang dikumpulkan kemudian didaur ulang. Sekitar 88,17% masih diangkut ke TPA atau berserakan di lingkungan.

Penyerapan sampah plastik pasca-konsumsi di pulau Jawa pun masih sangat rendah. Yakni 0,09 juta ton plastik per tahun. Masih jauh di bawah kapasitas daur ulang plastik nasional yang berada di kisaran 1,65 juta ton plastik per tahun.

“Dibutuhkan intervensi dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk menjembatani kesenjangan ini, termasuk dari sisi teknologi dan inovasi,” ujar Dini Trisyanti, Direktur SWI dalam webinar bertajuk ‘Semangat Kolaborasi Menuju Kehidupan Lestari’.

Temuan lain pada studi ini menunjukkan, dari sekitar 22.000 ton sampah plastik yang dikumpulkan, 83% berasal dari pemulung, 15,2% dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) ataupun Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS3R), dan hanya 1,5% berasal dari Bank Sampah.

Hal ini menunjukkan peran Bank Sampah sebagai salah satu pihak yang memiliki fungsi strategis dalam mengatasi dampak sampah pasca-konsumsi masih perlu ditingkatkan.

Menurut Maya Tamimi, Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia Foundation, salah satu kendala yang masih menghambat peranan Bank Sampah adalah aksesibilitas. Penyebaran informasi mengenai lokasi Bank Sampah masih belum luas merata. 

“Di era teknologi seperti sekarang, digitalisasi bank sampah dapat membantu memudahkan masyarakat mengakses dan memanfaatkan Bank Sampah terdekat,” jelasnya.

Sejalan dengan upaya pemerintah untuk menggalakkan digitalisasi Bank Sampah, Unilever Indonesia berkolaborasi dengan Google mendampingi pebisnis Bank Sampah mendaftarkan diri di platform Google My Business.

Dengan bergabung dalam platform tersebut, informasi mengenai Bank Sampah mereka akan muncul saat pengguna mencari nama bisnis atau nama bidang usaha di search engine dan Google Maps.

“Kerjasama ini akan sangat membantu masyarakat untuk menemukan Bank Sampah lewat internet secara mudah, sehingga pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan minat dan partisipasi masyarakat terhadap program Bank Sampah,” ungkap Saharuddin Ridwan, Ketua Asosiasi Bank Sampah Indonesia.

Tercatat lebih dari 300 Bank Sampah binaan Unilever Indonesia telah terdaftar di Google My Business. Perusahaan akan terus memantau dan mengajak lebih banyak lagi Bank Sampah untuk bergabung, sehingga mereka dapat ikut memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan usaha.

“Kami melihat bahwa perubahan pola pikir, kebiasaan, hingga ke tatanan sistem saat ini dibutuhkan untuk memastikan bahwa plastik tidak melulu menjadi sumber masalah, bahkan justru memberikan keuntungan bagi kita. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pihak produsen, dan juga seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Nurdiana Darus, Head of Corporate Affairs and Sustainability PT Unilever Indonesia, Tbk.(f)
 
BACA JUGA:

WHO : Pandemi COVID-19 Diperkirakan Akan Berakhir dalam Waktu 2 Tahun
Kasus COVID-19 Meningkat, Syuting dan Tayangan Drama Korea Tertunda
Benarkah Risiko Anak-Anak Jadi Penyebar Virus COVID-19 Lebih Tinggi Dari Orang Dewasa?

 


Topic

#sampah, #banksampah, #TPST, #plastik, #sampahplastik, #Unilever

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?