Trending Topic
Kondisi COVID-19 di Indonesia, Dipenghujung Tahun 2021

9 Dec 2021

update covid-19 jelang akhir tahun
Foto: Pixabay                                                  
 

Sudah dua tahun lebih dunia berada di bawah bayang-bayang acaman masalah kesehatan akibat COVID-19. Kini secara bertahap beberapa negara, termasuk Indonesia, tengah mencoba pulih dengan membuka kembali beberapa aktifitas. Mulai dari di buka kembali sekolah tatap muka, bekerja dari kantor, hingga beberapa fasilitas ruang publik lainnya.

Optimistis tersebut di dukung dari vaksinasi COVID-19 dosis lengkap yang sudah diterima oleh hampir seluruh masyarakat Indoensia. Bedasarkan data terbaru dari Satgas COVID-19, cakupan vaksinasi dosis pertama telah mencapai 68,42 persen dan dosis kedua sebesar 47,55 persen dari target yang ditetapkan yaitu 208 juta penduduk Indonesia.
 
Terkait antisipasi varian Omicron, saat ini organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah meminta adanya genome sequencing, membatasi kegiatan masyarakat, dan menyegerakan pelaksanaan vaksin untuk masyarakat rentan. Pemerintah Indonesia juga akan terus mengevaluasi dan memonitor perkembangan virus COVID-19 varian Omicron yang telah terdeteksi di 45 negara itu.
 
Berdasarkan data terbaru orang sakit, di rawat atau isolasi karena COVID-19 di Indonesia jelang akhir tahun ini berada diangka 0,1 persen. Angka itu lebih kecil dari data kasus COVID-19 terbaru di dunia yang mencetak 7,9 persen. Kemudian angka kesembuhan di Indonesia saat ini adalah 96,5 persen, sedangkan angka kesembuhan dunia 90 persen. Namun ada 3,4 persen angka meninggal dunia karena COVID-19 di Indonesia, yang menjadi PR bersama karena berada di atas angka rata-rata pasien meninggal di dunia yang hanya berkisar 1,98 persen.  
 
Terkait angka positif yang dicapai Indonesia diakhir tahun 2021, Prof. Wiku Adisasmito, Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. “Justru di masa-masa seperti ini adalah yang paling berbahaya. Tahu-tahu bisa saja berubah drastis. Dan akhirnya terjadi juga, di saat kasus rendah muncul varian Omnicorn,” kata Wiku secara virtual pada Live Instagram @feminamagazine, Selasa (7/8/2021).

Prof. Wiku juga menyebutkan jika pelayanan rumah sakit di Indonesia dalam kurun satu bulan terakhir tidak terlalu sibuk. Secara nasional, ketersediaan tempat tidur yang diisi oleh pasien COVID-19 hanya 1-2 persen saja. Angka itu jauh lebih redah dari gelombang di bulan Juli lalu yang mencetak 60-70 persen, dimana hampir seluruh tempat ketersediaan tempat tidur di rumah sakit penuh.
 
Adanya peningkatan kasus COVID-19 di Eropa dan varian baru Omicron, menjadi peringatan jika kita tidak boleh abai atau lengah. Cakupan vaksinasi COVID-19 yang baik di suatu negara cenderung menjadi euforia, yang membuat masyarakat abai pada protokol kesehatan. Menurut Prof. Wiku, tidak penting apa nama mutasi dari virus tersebut atau seberapa cepat virus tersebut menyabar, karena v
irus itu akan  selalu berubah karena suatu kondisi untuk bertahan hidup. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana melindungi diri dari virus tersebut.  
 
“Euforia vaksin ini bisa melemahkan atau mengurangi kepatuhan orang pada prokes. Masyarakat yang telah mendapatkan vaksin percaya tidak akan tertular dan tidak menjalankan prokes. Hal inilah yang membuat peningkatan kasus COVID-19 di Eropa terjadi,” tambah Prof. Wiku. Ia pun mengingatkan masyarakat untuk selalu taat protokol kesehatan dan tidak buka masker. 

Terkait vaksin booster yang disebut-sebut akan segera diberikan kepada masyarakat, menurut Prof. Wiku pemerintah akan memberikan pada masyarakat yang memang mempunyai kondisi membutuhkan perlindungan lebih. Kondisi tersebut ialah masyarakat yang berada di wilayah kasus tinggi dan proteksi yang redah, kemudian individu yang aktivitasnya sangat rentan penularan.
 
Untuk biaya yang dikeluarkan untuk vaksin booster, pemerintah akan milhat dari sisi siapa yang berhak mendapatkan gratis siapa yang akan berbayar. Pemerintah juga akan memastikan menanggung biaya vaksin booster untuk orang yang tidak mampu atau bagian dari penerima iuran.

Menurut Prof. Wiku reaksi setiap orang saat menerima vaksin itu berbeda-beda tidak dapat disamakan. Bisa saja ada orang yang baru satu kali suntik, imun tubuhnya sudah membentuk perlindungan yang prima. Tapi ada juga orang yang butuh dua atau bahkan lebih suntikan vaksin untuk membentuk imun tubuh yang baik terhadap suatu virus. "Jadi, t
idak semua orang juga membutuhkan vaksin booster," ungkapnya.

Tahun depan, pemerintah juga disebut akan mulai menjalankan program vaksinasi COVID-19 untuk anak usia 6-11 tahun. Terkait hal ini, menurut Prof. Wiku 
persiapannya masih melihat dari jumlah vaksin yang ada. “Kalau anak sudah ada vaksinya jumlahnya banyak maka akan diberikan semua. Namun dasarnnya akan prioritas jika ada kecukupan jumlah vaksin maka akan diberikan,” kata Prof. Wiku.

Sambil menunggu program vaksinasi untuk anak usia 6-11 tahun benar-benar berjalan, tidak ada salahnya orang tua mulai mempersiapkan anak-anaknya untuk mendapatkan vaksinasi. Salah satu caranya adalah dengan tidak menakut-nakutin anak tentang suntikan vaksin, dan orang tua juga perlu memberikan contoh dengan menjalankan vaksinasi. (f) 


Baca Juga: 

Waspada Varian Omicorn, Gejalanya Ringan, Tapi Cepat Menular
BPOM Keluarkan Izin Vaksin COVID-19 ke-11 untuk Covovax
BPOM Terbitkan Izin Vaksin Anak Usia 6 - 11 Tahun



 

 
 
 



 


Topic

#covid19, #pandemi, #corona, #2022, #vaksin, #booster

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?