Trending Topic
Kasus Positif Harian Masih Tinggi, Pentingnya 3M & 3T untuk Putus Penularan COVID-19

29 Nov 2020


Foto: freepik


Dari perkembangan data terkini, jumlah kasus aktif di Indonesia per 26 November 2020 berada di angka 66.752 kasus atau 12,9%. Angka ini masih lebih rendah dari rata-rata dunia sebesar 28,43%. Jumlah kasus sembuh kumulatif sebanyak 433.649 atau 83,9% dibandingkan rata-rata dunia 69,22%. Untuk jumlah pasien meninggal kumulatif 16.352 kasus atau 3,2% dibandingkan rata-rata dunia 2,35%. Sedangkan penambahan kasus positif hari ini sebanyak 4.917 kasus. 

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito menegaskan bahwa penambahan kasus positif harian sudah lebih dari 5.000 kasus selama 3 hari berturut-turut. Bahkan dalam seminggu terakhir, penambahan kasus positif harian tidak pernah di bawah 4.000 kasus. 

"Ini harus menjadi alarm (peringatan) bagi kita semua. Kasus positif dapat terus bertambah apabila tidak ada langkah serius dari masyarakat dan pemerintah daerah dalam mencegah penularan," tegas Prof Wiku Kamis (26/11/2020), saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan COVID-19 di Kantor Presiden, yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Kegiatan masyarakat yang mengundang kerumunan terbukti berpotensi besar terjadinya bahaya penularan COVID-19. Bahkan kegiatan kerumunan tersebut melahirkan klaster-klaster baru di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahaya penularan COVID-19 masih terjadi.

"Berdasarkan data nasional, terdapat berbagai kegiatan kerumunan yang berdampak pada timbulnya klaster penularan COVID-19 di berbagai daerah di Indonesia," ungkap Prof. Wiku.

Beberapa kasus klaster kerumunan yang ada saat ini, seperti Sidang GPIB Sinode yang menghasilkan 24 kasus pada 5 provinsi. Klaster ini berawal dari kegiatan agama yang dilakukan di Bogor, Jawa Barat, yang diikuti 685 peserta. Yang berkembang dan menyebar ke provinsi lainnya yakni Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Barat.

Lalu, klaster kegiatan Bisnis Tanpa Riba menghasilkan 24 kasus di 7 provinsi dan menimbulkan korban jiwa sebanyak 3 orang atau case fatality rate kasus ini mencapai 12,5%. Klaster ini berawal dari kegiatan yang ada di Bogor yang diikuti 200 peserta. Kasusnya berkembang dan menyebar ke berbagai provinsi seperti Lampung, Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Papua.

Di Lembang, Jawa Barat terdapat klaster Gereja Bethel. Kegiatannya melibatkan sekitar 200 peserta menghasilkan 226 kasus dengan infection rate mencapai 35%. Lalu, klaster Ijtima Ulama di Gowa, Sulawesi Selatan, dengan total peserta sekitar 8.761 orang menghasilkan 1.248 kasus pada 20 provinsi. Dan klaster Pondok Pesantren Temboro di Jawa Timur menimbulkan 193 kasus di 6 provinsi di lebih dari 14 kabupaten/kota dan 1 negara lain.

"Jadi tidak heran bahwa klaster tersebut terjadi karena adanya kerumunan di masyarakat. Dan masyarakat akan sulit menjaga jarak," imbuh Wiku.

Fenomena klaster kerumunan juga pernah terjadi saat kapal pesiar besar Diamond Princess, mengangkut 2.000 - 4.000 penumpang dan harus dikarantina di Jepang pada Februari 2020. Dan kondisi didalamnya penuh sesak dan sulit menjaga jarak. Akibatnya, sebesar 17% dari 3.700 penumpang dan awak kapal terinfeksi COVID-19.

Penelitian Ibrahim dan Memish tahun 2020 menyatakan bahwa kemungkinan adanya hubungan dua arah antara kerumunan dan penyebaran penyakit menular. Sehingga kondisi kerumunan sangat disarankan untuk dihindari.

Menyikapi meningkatnya klaster kerumunan, Prof Wiku mengajak semua pihak, terutama pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di zona merah untuk lebih giat melakukan 3T yaitu testing (pemeriksaan), tracing (pelacakan) dan treatment (perawatan) secara menyeluruh dan segera. Karena periode inkubasi antara terpapar virus dan gejala rata-rata hanya 5 hari. Dan gejala dapat muncul 2 hari kemudian. 

Baca Selanjutnya: 


Faunda Liswijayanti


Topic

#3M, #ingatpesanibu, #corona, #covid19

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?