Trending Topic
Inilah Wajah Jakarta Dalam Suvenir dari Jakarta Design Award 2016

14 Jan 2017


Foto: Dok. Pribadi
 
Saat bertandang ke sebuah kota, rasanya kurang afdal jika pulang tanpa membawa buah tangan atau suvenir. Tak hanya jadi tanda pengingat kenangan akan tempat yang pernah kita kunjungi, suvenir juga mampu menjadi medium yang bercerita tentang keunikan tempat tersebut.

Jika dulu ragam suvenir masih terbatas pada ikon-ikon daerah terkenal, kini wujudnya lebih bervariasi menggunakan aneka teknik. Mulai dari teknik tradisional, seperti membatik dengan canting, hingga doodle menggunakan software canggih. Berbagai kompetisi, salah satunya Jakarta Souvenir Design Award (JSDA) 2016, pun diadakan untuk makin mendorong kreativitas masyarakat. 
 
Bernilai Historis
Magnet tempel, gantungan kunci, kaus, topi, alat makan, dan masih banyak lagi. Meski terlihat seperti benda-benda biasa, torehan ikon-ikon kota atau negara, seperti menara Eiffel di Paris, kincir angin di Belanda, atau Candi Borobudur di Jawa Tengah, membuatnya terlihat lebih bernilai.
 
Menurut penelitian Megan Strickfaden, asisten profesor bidang Material Culture and Design Studies dari University of Alberta di Kanada, suvenir memberi makna lebih untuk perjalanan seseorang. “Bagi travelers, suvenir akan menjadi pengingat perjalanan. Namun, pada umumnya  benda itu merupakan sarana edukasi budaya suatu tempat. Bisa gambar atau bentuk ikon yang direpresentasikan maupun cara produksinya yang handcrafted atau massal,” papar Megan.

Melihat kekuatan fungsinya, tak heran jika banyak pihak yang kini makin serius memproduksi suvenir. Salah satunya, Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah Provinsi DKI Jakarta yang diketuai Veronica Basuki Tjahaja Purnama. Organisasi nirlaba yang menjadi wadah bagi para perajin untuk mengembangkan kreativitas, daya saing, kualitas dan pemasaran ini serius mengembangkan suvenir khusus untuk Kota Jakarta.

Selama ini, pilihan suvenir yang bisa mewakili Kota Jakarta masih terbatas bentuknya, misalnya yang identik dengan ikon Monumen Nasional (Monas) atau ondel-ondel. “Padahal, suvenir juga harus bisa menjaring anak muda agar mereka mengenal budaya. Kami berharap, kompetisi JDSA ini bisa menjaring potensi anak muda untuk aktif berkarya menciptakan produk-produk kerajinan yang bisa mengangkat ikon-ikon baru Kota Jakarta,” ujar Wakil Ketua Bidang Kreatif Dekranasda Provinsi DKI Jakarta, Pinky Sudarman, saat malam final penyerahan hadiah di The Hall Senayan City, Jakarta, Oktober 2016 lalu.

Dalam JDSA, Dekranasda mencoba mengangkat tema berbeda, yaitu flora dan fauna khas Kota Jakarta yang tak kalah menarik untuk diperkenalkan. Seperti yang ditampilkan Alia Felicia, Pemenang Kategori Anggota Dekranasda Provinsi DKI Jakarta yang menampilkan tas lipat kanvas Kami Kaya. Alia menggoreskan unsur bunga tapak dara, bunga kerak nasi, bunga nona makan sirih, bunga melati gambir, dan daun sirih kuning ke dalam guratan sketsa minimalis di atas katun kanvas.

 “Saya sengaja memilih objek yang jarang dikenali orang. Saya ingin membuat sesuatu yang berbeda dan ada cerita historis di baliknya,” ujar pengusaha pembuat tas kanvas ini.
 
Bunga-bunga memiliki cerita unik masing-masing. Bunga nona makan sirih misalnya, menjadi tanaman favorit noni-noni Belanda. Sedangkan bunga kerak nasi jadi tanaman hias yang dulu biasa ditanam oleh warga keturunan Tionghoa di wilayah Kota. Begitu juga dengan bunga tapak dara, yang kini keberadaannya sulit ditemukan karena kebanyakan pekarangan rumah sudah diaspal, dulu merupakan tanaman liar di pinggir got.
 
Sementara Rafidah Aprilia Mahmudah, Pemenang Kategori Mahasiswa dalam tema Explore Indonesia, fokus mengeksplorasi kekayaan alam Kepulauan Seribu. “Saya melakukan riset ke beberapa pulau. Akhirnya, saya menemukan objek bunga flamboyan, burung pucuk ular, dan elang bondol yang banyak terdapat di Pulau Bidadari, Pulau Pramuka, Pulau Untung, dan Pulau Tidung,” ungkap mahasiswi Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta, ini. Burung elang bondol diketahui sebagai maskot Kepulauan Seribu yang termasuk wilayah administratif Kota DKI Jakarta. Burung ini juga dijadikan lambang bus Transjakarta.
 
Memasukkan unsur lokal menjadikan produk suvenir yang diciptakan unik dan autentik. Menurut Yoga Adhitrisna, praktisi industri kreatif, autentisitas merupakan nilai jual yang dapat meningkatkan daya saing. “Unsur budaya lokal juga membuat produk menjadi tidak mudah ditiru,” papar Yoga.
 
Sepiring Indonesia, pemenang JSDA tahun 2012, adalah salah satu contoh suvenir yang kaya dengan unsur lokal. Produk karya Eridanie Zulviana berupa satu set piring hias ini menggambarkan kebudayaan Betawi, mulai dari kue kembang goyang, ikon Abang dan None, hingga roti buaya yang biasa dipakai untuk antaran seserahan dalam pernikahan adat Betawi. Semuanya tergambar dengan meriah. Kini, desain pada piring tersebut diaplikasikan juga pada tas kanvas, hiasan rumah, dan stationery. Budaya yang diangkat Eridanie dalam karyanya juga makin beragam, dari Jawa, Bali, Padang, Dayak, hingga Bugis.
 
Potensi Bisnis
Dalam membuat suvenir, selain mementingkan estetika, fungsi benda juga harus menjadi pertimbangan. Pemikiran ini pula yang membuat Alia dan Rafidah mengaplikasikan desainnya pada material kanvas katun dalam beragam bentuk yang bisa dipakai untuk sehari-hari, seperti tote bag, ransel, sarung HP, dan sebagainya.

Selain itu, suvenir berbentuk benda ‘bergerak’ seperti tote bag, ransel, sarung handphone, dan sebagainya, akan jauh lebih efektif sebagai sarana informasi. Tidak demikian dengan suvenir ‘tak bergerak’, seperti pajangan di rumah, yang hanya bisa dilihat orang dalam jumlah terbatas.  
 
“Jika ingin suvenir buatan Anda menonjol di pasar yang ramai, perhatikan juga soal fungsi dan kualitas,” jelas Yoga, yang juga bergelut di industri periklanan. Apalagi, konsumen saat ini jauh lebih berwawasan karena mereka memiliki banyak referensi dari internet. “Jadi, biasanya barang-barang dengan value added akan lebih disukai,” tambahnya.

Produk suvenir Alia yang bernaung di bawah merk AIU Craft misalnya, memilih menggunakan material organik kanvas full cotton bukan tanpa alasan. Untuk meningkatkan kualitas dan nilai produknya, Alia memilih bahan baku yang ramah lingkungan. Terbukti, dengan bahan dan kualitas terbaik, produknya tidak hanya menarik minat beli konsumen lokal, tetapi juga dari Jepang dan Korea. Selain itu, Alia juga mengaplikasikan desainnya dalam bentuk tote bag sebagai ajakan ‘go green untuk masyarakat yang masih hobi menggunakan kantong plastik.

 “Pembeli di luar negeri memang lebih condong mengapresiasi produk-produk dengan desain minimalis yang ramah lingkungan, meski harganya sedikit lebih tinggi,” tutur Alia, yang bisa memproduksi hingga 300 buah sarung handphone, tote bag, dan ransel dalam sebulan dengan total omzet mencapai Rp20 juta. Penjualannya dilakukan lewat media sosial, bazar kerajinan tangan, dan dibantu oleh Deskranasda melalui berbagai pameran.

Sementara itu, Syamsul Wahidin, Pemenang Kategori Umum sekaligus Desain Terbaik dalam ‘Jakarta Dalam Doodle Art Modern’, berupaya mencuri hati anak muda dengan memilih bentuk seni modern doodle yang diaplikasikan ke mug, casing handphone, kaus, hingga urban toys.

 “Saya memilih doodle karena ingin melambangkan Jakarta secara modern. Doodle terlihat simpel dan menarik secara visual,” jelas pria yang berprofesi sebagai desainer grafis ini. Sketsa Syamsul, selain menampilkan fauna elang bondol, juga banyak menyisipkan objek-objek ikonis yang sudah lebih banyak dikenal masyarakat, seperti Monas, ondel-ondel, atau kerak telor. Meski begitu, Syamsul belum menjual suvenirnya.

“Harapannya, lomba ini tak sekadar menentukan karya terbaik, tapi juga membuka jalan untuk didukung oleh pengusaha atau produsen dalam hal produksinya. Sehingga, tujuan awal lomba untuk menghasilkan suvenir bagi Kota Jakarta bisa terwujud,” ujar Pinky.

Bagi para pelaku bisnis suvenir, Yoga mengingatkan untuk mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas ide kreativitas yang telah dihasilkan. “Sebab, praktik jiplak-menjiplak ide atau karya itu masih banyak dilakukan oknum nakal dan menjadi ganjalan bagi perkembangan industri suvenir. Inilah tantangan utama para pengusaha kerajinan tangan lokal, bagaimana agar kita bisa menghargai karya bangsa sendiri,” pungkas Yoga. (f)
 

Reynette Fausto


Topic

#Jakarta