Trending Topic
Ini Alasan Susah Banget Meminta Orang Pakai Masker dan Jaga Jarak

14 Aug 2020

Foto: Pexels

Setelah berbulan-bulan anjuran memakai masker saat ke luar rumah dan menjaga jarak dengan orang lain disuarakan, nyatanya masih banyak orang yang tak mengindahkannya.  Padahal banyak bukti menemukan pengaruh kedua hal itu dalam mencegah penyebaran COVID-19. 

Banyak wilayah dilaporkan mengalami kenaikan angka positif COVID-19 setelah melakukan pelonggaran pembatasan gerak dengan kembali membuka sekolah dan tempat umum. Peneliti di University of California, San Francisco, menemukan mereka yang tidak mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah berpeluang lebih besar terinfeksi dan jatuh sakit karena jumlah virus yang menginfeksi di tubuhnya lebih banyak, ketimbang yang mengenakan masker. 

Tapi mengapa susah banget meminta orang mematuhi anjuran ini, bahkan sampai mesti ditakut-takuti denda? Kepada Reuters, peneliti dan dosen psikologi di New York University Jay Van Bavel, mengungkapkan ini berkaitan dengan banyak hal sebagai berikut:

1/ Individual vs kolektif
Masyarakat yang lebih individualis cenderung memberikan penolakan lebih kuat terhadap aturan pakai masker, ketimbang masyarakat yang memiliki budaya kolektivitas. Masyarakat yang individualis biasanya menjunjung tinggi ekspresi personal sebagai identitas diri. Ia mencontohkan masyarakat di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. 

Sementara masyarakat yang memiliki semangat kolektivitas, cenderung mau berbuat apapun untuk kebaikan bersama. 

2/ Polarisasi politik
Faktor politik ikut berpengaruh pada partisipasi seseorang. Mereka cenderung tidak percaya dan mematuhi pemimpin politik dari kubu yang tidak mereka dukung. Kecenderungan ini terjadi di negara yang terpolarisasi, ditandai dengan sering terjadinya pertentangan antar dua kubu politik yang saling berseberangan. 

3/ Hubungan sosial 
Manusia adalah mahluk sosial. Secara naluri manusia ingin memiliki hubungan sosial dengan orang lain. Dan pandemi ini cenderung mengekang naluri manusia untuk bersosialisasi. Itu sebabnya terjadinya klaster COVID-19 yang besar berhubungan dengan acara seremoni seperti kegiatan keagamaan dan pesta pernikahan, dimana banyak orang berkumpul karena keinginan dorongan untuk bersosialisasi. 

4/ Bias optimisme 
Optimis bahwa badai pandemi akan berlalu adalah baik, tapi belakangan ada semacam optimisme yang bisa membahayakan keselamatan dan kesehatan. Misalnya, keyakinan kalau banyaknya orang yang sembuh dari COVID-19 membuktikan penyakit ini tidak berbahaya, atau percaya diri karena berusia muda dan bugar, sehingga orang berani mengambil risiko beraktivitas dengan mengabaikan protokol kesehatan. 

5/ Perubahan yang terlalu cepat
Budaya dan kebiasaan yang telah tertanam selama bertahun-tahun perlu waktu untuk berubah. Pandemi ini memaksa orang untuk berubah dalam hitungan hari, karenanya tak heran kalau banyak orang merasa sulit untuk mengubah kebiasaan. (f)

Baca Juga:

Michelle Obama Mengaku Depresi Karena Isu Rasisme
14 Langkah Cegah Penularan COVID-19 di Kantor
Enggak Ada Ruginya, Ini Manfaat Lain Pakai Masker


Topic

#trendingtopic, #masker, #covid19, #pandemi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?