
Foto: instagram @simahherman
Simah Herman, remaja asal New York, Amerika Serikat memulai kampanye anti vape atau rokok elektrik. “Vape seringkali dipromosikan sebagai ‘alternatif merokok yang lebih sehat’, namun semua itu salah,” tulisnya dalam akun instagram @simahherman.
Gadis berusia 18 tahun ini terdorong melakukan kampanye setelah jatuh sakit dan alami masa kritis akibat vape. Simah telah menggunakan vape sejak usia 15 tahun. Ia bahkan menghirup rokok elektrik ini tiap 10 hingga 15 menit sekali.
Pertengahan Agustus lalu, Simah mengalami gangguan pernafasan hingga dilarikan ke rumah sakit. Berdasarkan hasil X-ray, dokter di UCLA Medical Center melihat adanya semacam kabut putih pada paru-paru Simah, seperti dikutip dari abcnews.go.com. Dokter memperkirakan bahwa itu adalah tanda pneumonia.
Kondisi Simah semakin memburuk, kurang dari 48 jam kemudian, paru-parunya meradang dan penuh cairan. “Reaksi peradangan paru-paru tersebut merupakan reaksi dari produk vape atau komponen yang terkandung dalam vape,” ujar Dr. Kathryn Melamed, seorang pulmonologist.
Setelah dua hari gagal nafas, Simah dipasangi ventilator, sebuah alat bantu pernafasan. Hampir seminggu Simah bernafas dengan bantuan ventilator. “Saya dibuat koma dan sebuah alat disambungkan ke tenggorokan karena saya tak mampu lagi bernafas,” tulis Simah dalam akun instagram-nya, dramatis.
Simah sadar dari koma setelah lima hari terbaring di rumah sakit. Ventilator masih memompa oksigen ke paru-parunya. Hal pertama yang ada di benak Simah saat membuka mata adalah ia ingin melakukan kampanye anti vape. Simah meminta secarik kertas dan alat tulis karena ia belum bisa berkomunikasi dengan normal. Ia langsung menulis, “I want to start a no vaping campaign”.
Foto Simah yang masih terbaring di rumah sakit, memakai ventilator, dan memegang kertas bertuliskan kalimat tersebut, diunggah ke akun instagram miliknya. Unggahan ini mendapat banyak dukungan dari pengikutnya.
Centers for Disease Control and Prevention, sebuah institut kesehatan publik di Amerika Serikat mencatat enam kematian dan lebih dari 450 kasus gangguan paru-paru di 33 negara bagian. Seperti dikutip dari abcnews.go.com, peristiwa kematian dan penyakit ini disebabkan oleh produk rokok elektrik.
Sementara itu, sebuah survei tembakau yang dilakukan pada anak-anak muda Amerika Serikat oleh Food and Drug Administration (FDA) juga mengungkapkan kondisi memprihatinkan. Ada sebanyak 78% peningkatan konsumsi rokok elektrik di kalangan siswa SMA antara tahun 2017 hingga 2018.
Simah terus mendorong orang-orang jauhi vape. “Bahaya vaping itu nyata dan bisa menimpa dirimu. Tak mudah untuk berhenti karena nikotin itu candu. Namun makin lama kamu menghirup vape, makin besar kemungkinan kamu mengalami hal serupa dengan saya. Lakukan sesuatu, jangan biarkan itu terjadi,” tegas Simah dalam akun instagramnya. (f)
BACA JUGA:
Ini Pasal-pasal RUU KUHP yang Jadi Masalah
Sah, Batas Minimal Usia Perkawinan Pria dan Wanita 19 Tahun
Teguran KPI Pada The SpongeBob Squarepants Movie Undang Reaksi warganet
Topic
#vape, #rokokelektrik, #kampanyeantivape, #novapingcampaign




