
Foto: Shutterstock
Mantan Menteri Kesehatan dr Terawan Agus Putranto memprakarsai pembuatan vaksin COVID-19 buatan anak negeri yang dinamai Vaksin Nusantara. Dalam penelitian berbasis sel dendritik ini, Terawan menggandeng tim peneliti dari Laboratorium RSUP Kariadi Semarang dan Universitas Diponegoro serta Aivita Biomedical Corporation dari Amerika Serikat.
Sampai saat ini vaksin Nusantara sudah menyelesaikan uji klinis fase I yang melibatkan 27 relawan. Dalam tahap ini, peneliti menyebutkan tidak ada efek samping serius yang muncul atau dilaporkan. Kepala Subdirektorat Penilaian Uji Klinik dan Pemasukan Khusus BPOM, Siti Asfijah Abdoellah mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang mengevaluasi data hasil uji klinis tahap I tersebut. Jika memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku, vaksin ini bisa melanjutkan untuk melakukan uji klinis fase II yang rencananya akan melibatkan 180 relawan.
Berbeda dengan vaksin lain yang kini sudah digunakan di berbagai negara, vaksin Nusantara ini tidak memasukkan virus atau komponen virus ke dalam tubuh. Secara garis besar, vaksin ini dibuat dengan mengambil darah si penerima vaksin, lalu sel dendritik diambil dari sampel darah tersebut. Sel dendritik kemudian akan dikenalkan pada antigen virus COVID-19, sehingga sel ini memiliki memori terhadap virus ini. Selanjutnya, sel dendritik akan disuntikkan kembali ke dalam tubuh untuk memunculkan antibodi. Proses inilah yang menyebabkan vaksin ini disebut memiliki sifat personal.
Pendekatan sel dendritik ini sebenarnya telah dipakai dalam imunoterapi kanker. Terawan pun mengatakan bahwa metode ini ia pilih setelah mendapatkan amanah untuk mencari vaksin yang bisa digunakan pada kelompok komorbid (penderita autoimun dan kanker) yang tidak bisa divaksinasi menggunakan vaksin COVID-19 yang sudah ada. Ia mengungkapkan, vaksin Nusantara bisa menjadi alternatif bagi pasien yang tidak masuk kriteria vaksinasi selama ini.
Soal efektivitas, Terawan menyebutkan bahwa antibodi yang terbentuk selama uji klinis fase I berada dalam level yang baik. “Karena ini sifatnya menjadi imunitas yang seluler, maka (antibodi) akan bertahan lama,” terangnya saat diwawancarai Kompas TV beberapa waktu lalu.
Walau bersifat personalized, Terawan mengatakan bahwa vaksin ini bisa diproduksi massal. Bahkan, dalam waktu sebulan diperkirakan produksinya bisa mencapai 10 juta vaksin. "Targetnya produksi massal sekitar jutaan dosis, sebanyak-banyaknya. Tapi yang penting lolos uji dulu. Untuk itu, mohon support dan doanya," tambahnya.
Inovasi anak negeri dalam pembuatan vaksin ini memunculkan berbagai macam respon di masyarakat. Di satu sisi dukungan mengalir agar vaksin ini dapat menjadi salah satu solusi dari pandemi COVID-19. Di sisi lainnya, tidak sedikit juga yang me;ontarkan kritik. (f)

Baca juga:
Satgas Penanganan COVID-19 Sebut PPKM & PPKM Mikro Mampu Tekan Angka Kasus COVID-19 Sepekan Terakhir
Penting! Jujur Saat Screening Kondisi Kesehatan Sebelum Menerima Vaksin COVID-19
Facebook Sebut 74,59% Orang Indonesia Bersedia Menerima Vaksin COVID
Satgas Penanganan COVID-19 Sebut PPKM & PPKM Mikro Mampu Tekan Angka Kasus COVID-19 Sepekan Terakhir
Penting! Jujur Saat Screening Kondisi Kesehatan Sebelum Menerima Vaksin COVID-19
Facebook Sebut 74,59% Orang Indonesia Bersedia Menerima Vaksin COVID
Topic
#3M, #ingatpesanibu, #covid-19




