Trending Topic
Cerita Tiga Blogger

14 Mar 2016


Saat ini, blog menjadi alternatif ruang informasi dan ekspresi yang unik dan autentik. Berawal dari curhatan sehari-hari, para blogger berhasil merangkul hingga ribuan netizen yang tidak hanya kangen membaca celotehan mereka, tapi juga menunggu rekomendasi-rekomendasi jitu dari pengalaman pribadi mereka. Dari personal, kini mereka adalah seorang profesional yang diburu brand-brand ternama. Tetapi, menjadi blogger profesional, hobi bercerita saja tidak cukup!
 

AINUN CHOMSUN – Blog Beri Kaki Pada Mimpi

Tidak Ada yang Instan
Dihujani berbagai produk gratis dan dibayari jalan-jalan, menjadi gula-gula yang membuat banyak orang  tertarik mencicipi dunia blogging. Disebut mencicipi, karena rupanya tidak banyak yang punya ketahanan atau konsistensi berkarya di halaman digital yang satu ini. Sebulan pertama begitu menggebu, tapi berikutnya mulai lesu.
           
Ainun, blogger sekaligus founder Akademi Berbagi, mengatakan bahwa menjadi blogger profesional itu soal waktu dan konsistensi. “Tidak ada cara instan menjadi blogger profesional. Jangan berharap, buka blog hari ini langsung dapat klien dan di-endorse ini itu oleh sebuah brand,” tegas Ainun, yang dikenal akrab di dunia media sosial dengan nama @Pasarsapi.
           
Ia mengakui bahwa sekarang ini banyak strategi untuk meningkatkan traffic atau kunjungan ke blog kita. Misalnya, dengan menjalankan SEO (Search Engine Optimizing), tapi tetap saja butuh waktu. Ainun membangun brand dan kredibilitasnya sebagai seorang blogger sejak lama. “Orang suka enggak ngeh kalau saya sudah bermain lama, sekitar tahun 2008/2009,” kata pemilik laman blog Beri Kaki Pada Mimpi ini.
Menurutnya, meski menyenangkan, bukan cara bijak mengelola blog hanya sekadar mengejar uang. “Ada sponsor atau tidak ada sponsor, harus tetap menulis,” lanjut wanita yang nyaris setiap hari menulis di blog-nya tersebut.

Seorang blogger profesional juga harus berani berinvestasi. “Jangan maunya gratisan melulu. Investasi itu penting!” pesan Ainun. Ia melihat, banyak travel blogger yang tidak menunggu undangan gratisan untuk menulis pengalamannya. Mereka justru memiliki jadwal bepergian dengan biaya sendiri dalam setahun.

Investasi ini juga berupa ilmu. Rajin datang ke acara seminar, misalnya tentang keuangan, bagi para blogger finansial, juga sangat penting. “Tidak cuma ilmu, dari acara seperti ini, mereka bisa mendapat stok ide konten untuk waktu yang lama,” lanjut Ainun. Satu lagi, jangan lupa mengikuti perkembangan berita dan isu-isu terkini. Menurutnya, pemberitaan yang ada bisa menjadi semacam “cantelan” untuk menulis konten blog.

Ketika ada isu bullying, Ainun akan mengaitkannya dengan tulisan blog-nya yang berbau parenting. “Ada staf prim yang mengunggah SK-nya, saya akan memakainya sebagai opening untuk tulisan saya tentang memanfaatkan media sosial sebagai alat komunikasi. Tapi, kalau memang tidak terkait dengan isu, jangan dipaksakan juga,” jelas Ainun, mencontohkan.

Harus ada visi yang lebih besar, yang menggerakkan seseorang untuk tetap menulis. Visi yang menjadi “bahan bakar” Ainun ini ditulis di blog-nya tertanggal 17 Januari 2016 – Menulis, mendokumentasikan pikiran yang (selalu) berubah. Terinspirasi oleh salah satu tokoh penulis kreatif lain, Glenn Marsalim, baginya menulis itu mendokumentasikan pikiran, jejak dan langkah yang kita ambil pada masa tertentu.

Syukur-syukur bisa berguna untuk orang lain. Tetapi yang terpenting adalah berguna untuk diri sendiri. Kita bisa belajar bagaimana isi kepala kita bertumbuh, bagaimana kebijaksanaan itu diasah oleh perubahan kehidupan. Demikian Ainun menemukan visi besarnya dalam menulis.
           
Bukan hal mudah mendisiplin diri seperti ini. Ia mengawalinya dengan menantang diri sendiri lewat komitmen ngeblog 21 hari. “Menurut studi ilmiah, untuk menciptakan habit baru, orang butuh 21 hari,” ujarnya. Meski susah payah, ia berhasil memenuhi komitmennya. Menurutnya, writing block itu hanya mitos. “Masalah utamanya adalah karena tidak fokus. Akan sangat memudahkan jika ada satu atau dua topik utama yang menjadi fokus dari blog,” ungkap Ainun, yang memilih topik parenting dan media sosial sebagai arus utama di blog-nya.

Meski mengaku masih suka ‘bolong’ dalam menulis, bisa dilihat bahwa di tahun 2016 ini saja, nyaris  tiap hari ia mem-post tulisan di www.ainun.net. Keseriusannya di dunia blogging ini bahkan telah membuahkan empat buku. Tiga buku ditulis beramai-ramai, dan yang terakhir, berjudul KELAS, ditulis seorang diri.
 

ZATA LIGOUW – Blog Diary of a (not) Superhero Mama

Profesional, tapi Personal
Proses waktu juga dijalani oleh Zata yang memulai aktivitasnya sebagai blogger di tahun 2009. Waktu itu, masih bernama Diary of Working Woman. Setelah menikah dan dikaruniai tiga buah hati, di 2011 Zata mulai membangun dan merapikan blog-nya.
           
“Awalnya blog saya masih random topics, belum ada niche-nya. Lalu saya mulai mengerucut ke topik parenting dan lifestyle keluarga. Dari yang awalnya dua bulan kosong melompong, saya menargetkan diri untuk minimal menaikkan lima tulisan dalam sebulan,” ungkap Zata, yang kini setidaknya mengunggah 10 tulisan ke blog-nya itu.
           
Strategi yang dibangun dalam waktu tiga tahun itu mulai membuahkan hasil. Berbagai tawaran mulai berdatangan. Kebanyakan memang dari berbagai brand yang mengeluarkan barang-barang kebutuhan keluarga, seperti popok, sabun keluarga, peralatan rumah tangga, sampai menjajal fasilitas hotel untuk liburan keluarga.
           
“Mereka biasanya akan menyerahkan penulisan pada blogger itu sendiri. Jarang ada yang menyetir,” kata Zata. Bentuk penulisannya   lebih ke format review, jadi bukan hard sell yang iklan sekali. Artinya, ia memang menulis produk yang telah diuji coba secara pribadi. Kalau dari pengalaman pribadi tersebut produk itu ternyata tidak baik, maka dengan halus Zata terpaksa menolak untuk memberikan review. Tentunya, dengan alasan logis yang santun. Sebab, tidak sedikit juga blogger yang kemudian kehilangan objektivitasnya hanya karena mengejar proyek dari klien.

Zata mengawali blog-nya dengan sebuah keterbukaan yang bisa dibaca di menu ‘About & Disclosure’ pada lamannya. Di menu tersebut ia menceritakan profil dirinya, yang juga menjadi Offline Activation Manager dan salah satu moderator forum di theurbanmama.com, yang didirikan oleh Ninit Yunita.

Ia juga menceritakan isi konten dalam blog-nya yang fokus pada topik parenting dan lifestyle keluarga. Termasuk, informasi bahwa beberapa dari tulisannya adalah proyek berbayar dari para sponsor. “Tetapi, saya bisa memberi janji bahwa saya tidak akan merekomendasikan produk atau servis yang tidak akan dipakai oleh saya dan keluarga saya sendiri,” ujarnya, menekankan bagian akhir dari disclosure itu.
           
Pernah juga ia me-review sebuah sabun kecantikan yang bisa dipakai seluruh keluarga. Dari mereka berlima, sabun itu ternyata tidak cocok di kulit si bungsu. Sebelum menerbitkan di blog, ia pun mendiskusikan temuan ini dengan klien. Jalan keluarnya, ia memberi catatan, bahwa meskipun bagus, produk ini belum tentu cocok untuk semua orang, sehingga perlu dicoba dulu. “Saya tetap berusaha netral dan tidak menjatuhkan klien. Jadi, saya juga enggak bohong,” lanjut Zata.

Profesional, tapi personal, demikian kata kunci yang menurutnya harus tetap dijaga oleh para blogger. Demi menjaga yang satu ini, Zata sengaja memberi jeda waktu untuk membagi ruang antara tulisan berbayar dengan tulisan-tulisan yang merupakan pengalaman pribadinya sebagai seorang istri dan ibu.

“Saya berusaha memasukkan tulisan pribadi, apakah itu urusan sekolah anak, proyek handicraft, atau kegalauan saya soal diet setelah melahirkan,” ujar Zata, memberi contoh. Menurutnya, orang senang membaca karena ada sentuhan personalnya, ada kedekatan cerita yang juga menjadi bagian pengalaman dari pembaca. “Untuk saat ini saya sengaja membatasi konten berbayar ini 30% hingga 40% dari isi blog saya,” lanjut Zata.

Jejaring memang menjadi salah satu kunci pembuka peluang bisnis bagi para blogger profesional. Selain bergabung dengan manajemen atau agensi seperti AVENU, cara lain yang tak kalah gampang dan gratis adalah bergabung dengan komunitas. Tidak hanya mendapat teman seperjuangan, lewat komunitas ini juga banyak mendapat referensi pekerjaan. Seperti juga yang diakui oleh Ainun, Zata, dan Andra.

“Minimal kita bisa menjadi silent learner. Karena ada banyak ajang berbagi ilmu cara blogging yang baik, dan informasi terkini di dunia blogging, seperti tren harga dan lain sebagainya,” ungkap Zata, yang bergabung bersama Fun Blogging (funblogging.web.id) yang didirikan trio blogger wanita: Shintaries, Haya Aliya Zaki, dan Ani Berta. Ada juga komunitas lainnya, seperti Warung Blogger (www.warungblogger.org), Emak-Emak Blogger (emak2bloger.com), dan Blogger Perempuan (bloggerperempuan.com).

Sebagai blogger profesional, ia juga harus mengoptimalkan kanal media sosialnya, seperti Twitter, Facebook, dan Instagram. “Biasanya aktivitas di kanal medsos ini yang menjadi pertimbangan klien untuk mendekati blogger,” ujar Zata.
 

ANDRA ALODITA – Blog Andra Alodita

Ada Bantuan Profesional
‘Racun lipstik’ memang belum ada matinya. Bagaikan virus yang paling mematikan di dunia, sekalinya kena virus ini nggak bakal bisa lepas deh. Setuju ibu ibu? Hahaha.. Lebay dikit soalnya emang nggak cukup punya lipstik cuma 3-5 buah!

Demikianlah salah satu obrolan meriah Andra di blog yang fokus pada ulasan lifestyle, beauty, travel, dan makanan. “Blog menjadi tempat saya berbagi momen keseharian,” ujar Andra, yang mulai ngeblog di tahun 2008. Sebelumnya, laman digitalnya ini hanya menjadi ‘gudang’ penyimpan dan ruang pamer bagi foto-foto hasil jepretan dan portofolionya. Tetapi, di tahun 2014 ia mulai serius rajin membagikan isi pikirannya.
           
“Pada waktu itu saya sangat sedih karena harus break dari aktivitas di dunia fotografi untuk fokus menjalani terapi IVF di Penang, Malaysia. Berbagi cerita dan pengalaman melalui blog menjaga saya tetap produktif,” lanjut Andra, yang kini telah menimang buah hati, Aura Suri (6 bulan).
           
Dengan total view 4.397.331 per hari tulisan ini dibuat, blog Andra memiliki traffic yang cukup padat! Untuk fakta yang satu ini, ia merasa tidak punya formula khusus. “Saya sudah tujuh tahun lebih menulis blog, dan selalu berusaha untuk konsisten menulis agar blog saya bertumbuh secara ‘organik’,” ujarnya, seperti yang juga ditulis dalam lembar FAQ di laman blog yang memakai namanya sendiri, Andra Alodita.
           
Ketika tidak sedikit blogger profesional yang menggaji asisten atau memiliki studio sendiri untuk mengambil video dan foto, maka Andra justru kebalikannya. “Waktu masih menjadi fotografer, saya justru didampingi asisten yang membantu pemotretan. Tetapi, sejak serius menjadi blogger, saya malah jalan sendiri,” ujar Andra.
           
Sebagai gantinya, Andra memilih  bergabung dengan AVENU (@avenu.id), sebuah manajemen dan network untuk para content creator. Manajemen ini tidak hanya dikhususkan untuk para blogger, tapi juga menjadi ‘rumah’ bagi para influencer seperti dirinya. Di Indonesia, mereka yang fokus mengelola para blogger atau content creator memang belum banyak, tapi beberapa lainnya adalah IDBlogNetwork (www.idblognetwork.com), Bina Blog Indonesia (www.bblog.id), dan pemain asing seperti Blogmint (www.blogmint.com).  

“Bergabung bersama AVENU, saya sangat terbantu dalam hal manajemen waktu, networking dengan klien, pembuatan video untuk Youtube, dan sebagainya,” jelas Andra, yang selama sibuk mengurus sang buah hati, mendapat bantuan dari suami dan teman-teman blogger untuk pengambilan foto. Cara ini tentu lebih hemat dan praktis daripada harus membayar orang atau membangun studio sendiri.(f)



Naomi Jayalaksana


 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.