Trending Topic
Apakah Pemeriksaan Suhu Tubuh Efektif Menghentikan Penyebaran Virus Corona?

29 Apr 2020



Dok. Rawpixel



Saat pandemi COVID-19 menyeruak, banyak pihak yang menerapkan aturan untuk memeriksa suhu tubuh sebelum seseorang masuk ke dalam sebuah ruangan, gedung atau tempat umum lainnya. Mereka yang memiliki suhu tubuh di atas 38 derajat celsius, umumnya tidak diperbolehkan masuk ke tempat yang dituju atau menggunakan transportasi umum. Pasalnya memang, salah satu gejala pasien corona adalah suhu tubuh yang tinggi karena demam.

Namun, apakah memeriksakan suhu tubuh benar-benar cara terbaik untuk memantau dan mengendalikan penyebaran virus corona? Mengingat di luar sana juga ada sejumlah pasien positif COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala berarti.

Ternyata, menurut beberapa ahli penyakit menular, metode ini memiliki sejumlah kekurangan dan tidak boleh menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi pandemi. 

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention, CDC) di Amerika Serikat, gejala COVID-19 dapat berkembang di mana saja antara dua hingga 14 hari setelah paparan. Hal ini menandakan bahwa seseorang bisa saja memiliki virus tersebut dalam tubuhnya tapi ia tidak mengetahuinya. 

"Selama ini, virusnya berlipat ganda. Setelah mencapai tingkat kritis, virus ini menyebabkan respon dengan gejala kuat. Durasi terjadinya hal ini bervariasi, dan salah satu gejala paling umum yang dialami pasien adalah demam," papar Jai Marathe, dokter penyakit menular di Boston Medical Center.

Di sisi lain, kendati demam adalah gejala umum pasien COVID-19, bukan berarti pula mereka yang sedang demam memiliki virus corona. Hal ini sesuai dengan studi dalam Journal Americal Medical Association yang menganalisis 5.799 orang sakit parah dengan COVID-19 di New York City, yang menemukan bahwa dua pertiga pasien tidak menderita demam.

Tidak dapat diketahui pasti berapa banyak orang yang terinfeksi virus corona namun tidak merasakan gejala apapun, namun banyak ilmuwan memperkirakan jumlahnya cukup besar. 

"Bagaimana respon kekebalan tubuh terhadap sebuah virus, memainkan peran besar seberapa parah infeksinya. Respon kekebalan tubuh juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti usia dan kondisi medis masing-masing orang," ujar Jai Marathe.

Dengan kondisi seperti ini, sejumlah ilmuwan menganggap bahwa pemeriksahaan suhu tubuh mungkin tidak selalu efektif. Karena orang-orang yang tanpa gejala atau hanya merasakan gejala ringan bisa saja terlewatkan dari pantauan. 

Natasha Chida, asisten direktur program beasiswa penyakit menular dan asisten profesor di Johns Hopkins mengakui pula kekurangan dari skema pemeriksaan suhu tubuh. Namun menurutnya, lebih baik dilakukan daripada tidak sama sekali. 

"Namun ingat, bahwa cara ini akan jadi sangat percuma jika tidak melakukan pendekatan preventif lainnya seperti mencuci tangan, menjaga jarak 1.5 meter, menggunakan masker atau menutup mulu ketika seseorang batuk maupun bersin," tambahnya. (f)



BACA JUGA :
Lebih Banyak Pria Positif COVID – 19 Dibandingkan Wanita
Masih Banyak Pertanyaan, Apa Yang Terjadi Setelah Dinyatakan Sembuh COVID-19
Ini Kelebihan Wanita Pemimpin Saat Menghadapi Krisis




 


Topic

#corona

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?