
Merayakan International Women’s Day, Wanita Wirausaha femina bekerjasama dengan Meta melalui program #SheMeansBusiness menggelar acara Indonesia Womenpreneurs Conference (IWC) 2022 secara daring pada 22 Maret 2022 lalu. Mengusung tema Tangguh. Adaptif. Inovatif., IWC 2022 sukses menggaet sekitar 1000 peserta. Selain banyak ilmu dan insight baru dari para pakar, kehadiran 3 wanita wirausaha jebolan program #SheMeansBusiness memberikan inspirasi-insiprasi bagi peserta.
Dalam panel kedua bertema Aksi Nyata Dukung Wirausaha #BuyFromHer, ketiganya berbagi kisah dalam membangun bisnis dan bertahan di tengah gempuran pandemi, dengan melakukan inovasi serta memaksimalkan penggunaan teknologi pemasaran melalui sosial media. Berikut ini kisah mereka.

Syanaz Nadya Winanto Putri, Founder Rorokenes (Semarang)
Rorokenes adalah jenama artisan tas kulit anyaman asal Semarang. Tahun 2020, Rorokenes mendapat penghargaan second-place winner for the fashion sector of Anugerah Bangga Buatan Indonesia 2020 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Di tengah pandemi, Rorokenes terus bergerak, tidak hanya terus mencari tahu kebutuhan pasar yang dituju, namun juga mempertahankan nilai-nilai yang dianut yang menjadi dasar bisnis dan kekhasan industrinya. “Values tidak hanya berhenti pada produk, tapi diwujudkan dalam mata rantai industri yang ingin kami bentuk dari hulu sampai hilir, baik itu secara internal maupun eksternal. Harapan kami dapat membentuk satu masyarakat yang baik dengan produk Rorokenes sebagai sarananya,” kata Syanaz.
Nilai-nilai apa saja yang menjadi landasan Rorokenes?
1. Preserving the culture. Merawat budaya Indonesia, yakni budaya menganyam, yang diaplikasikan pada tas-tas kulit.
2. Empowering women. Dengan berusaha meningkatkan literasi dan memperkuat lini perempuan apalagi di batas-batas marginal, memperkenalkan kesetaraan gender secara luas, baik di industri maupun pelanggan.
3. Maintaining the earth. Berusaha mengelola limbah secara baik dan benar.
Rorokenes menggunakan keseluruhan nilai itu untuk bisa masuk ke pasar domestik maupun luar negeri. “Bagi kami, produk bagus itu biasa. Tapi produk bagus yang berdampak itu luar biasa. Ikut wanwir femina makin mengasah keyakinan kami akan nilai-nilai yang kami yakini,” papar Syanaz.
Saat ini, Rorokenes tidak hanya berkibar di pasar domestik, bahkan masuk ke mal Sarinah, namun sudah menembus pasar luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Jepang dan negara-negara Eropa, dengan memaksimalkan omnichannel. “Kami menciptakan omnichannel, ekosistem, dan networking secara digital. Kemudian kami membuat mapping secara benar dan jelas, mengekstraksi data apa saja kebutuhan target market, bagaimana tren ke depan, link-link yg bisa memperkuat sales, dan juga penguatan bagi pengembangan SDM di dalam. Lalu kami membuat strategi yang tepat, disesuaikan dengan nilai dan skala bisnis yang kami punya saat ini. Ada milestone yang harus kami capai,” papar Syanaz.
Dalam menghadapi pandemi, ia tetap mempertahankan optimisme, percaya jika satu pintu tertutup maka ada pintu lain terbuka. Strategi yang digunakan agar Rorokenes bertahan dan bisa ditiru para perempuan yang sedang merintis usaha adalah:
1. Memiliki database yang baik dan tercatat. “Ketika kita mendapatkan pembeli, tolong dijaga, karena mereka penyelamat ketika kita mengalami krisis. Ketika itu, dari database yang ada, kami mengolah dan maintain agar mereka mau melakukan pembelian ulang.”
2. Menggunakan sarana digital, karena tidak boleh melakukan pameran offline. Dunia digital membuka pintu ke mana pun. “Manfaatkan Instagram dan Facebook. Kalau uangnya cukup, bisa bikin website. Dari situ kita bisa membaca data mana penjualan, target market atau reach paling bagus, kemudian kita kaitkan dengan SEO dan SEM. Minta tolonglah pada anak-anak zaman now, mereka paling paham cara mengolah agar itu menjadi hits, tren, bahkan viral,” kata Syanaz.

Eni Anjayani, Founder Wastraloka (Yogyakarta)
Produk upscaling yang memanfaatkan limbah kaleng dari pabrik untuk menjadi produk homewares dan home decor yang artistik dengan lukisan motif wastra Nusantara dikembangkan Eni melalui jenama Wastraloka. “DNA kami melestarikan motif wastra Nusantara bukan di kain tapi mengembangkannya ke media-media dekoratif,” kata Eni.
Lukisan dibuat secara handmade, detail, tanpa meninggalkan pakem-pakem motif. Karena melibatkan seniman-seniman muda, Eni mengedukasi mereka soal motif dan filosofinya. Ini sekaligus menjadi sarana melestarikan dan mengenalkan kekayaan wastra kepada generasi muda. “Di sekitar kami banyak perajin alat rumah tangga yang menggunakan bahan upcycle. Kami mendampingi mereka, bersama-sama mendesain produk. Bukan sekadar alat rumah tangga, tapi kami naikkan lagi, dengan membuat produk-produk dekoratif yang tentunya akan menambah nilai jual dan memberikan keuntungan bagi perajin di sekitar kami,” kata Eni.
Diakui Eni, ada tantangan-tantangan tersendiri dalam membuat barang bekas menjadi bernilai jual tinggi. Yang pertama adalah ketersediaan bahan, terutama ketika permintaan melimpah. Melalui evaluasi per tiga bulan hal ini terus diperbaiki. Tantangan kedua adalah kualitas bahan. Barang-barang yang mereka dapatkan dari pabrik, misalnya, keadaannya bisa beragam, dan mereka harus mampu memaksimalkan barang tersebut menjadi karya bernilai jual tinggi.
Selain itu, kualitas artisan dan gambar menjadi tantangan berikutnya. Tiap pelukis mempunyai talenta dan goresan khas sendiri, sementara hasil suatu karya perlu konsistensi.
Eni sudah memanfaatkan kanal digital sejak memulai Wastraloka di tahun 2014 melalui facebook. Seiring berjalannya waktu, ia mulai lebih memaksimalkan facebook untuk melihat data-data, seperti di mana konsumennya, usia mereka, dan produk best seller. Lalu ia mulai memanfaatkan iklan berbayar dan landing page berdasarkan data yang diperoleh di FB. “Selain medsos, kami juga mengembangkan channel di Website sendiri. Mulai menarget marketplace di luar negeri, seperti Etsi, yang melatih kami mempelajari selera pasar ekspor,” kata Eni yang mengikuti program-program kewirausahaan dari beberapa kementerian itu.
Pandemi membuat Eni mengambil strategi untuk bertahan. Tidak ada pameran offline dan outlet di Jakarta dan Bali terdampak PPKM. Karena itu, kanal digital pun makin digenjot. “Yang tidak kalah penting dan saya rasa ini langkah tepat kami adalah inovasi produk, sesuai dengan tren. Orang lebih banyak di rumah, saling memberi dan berkirim hadiah. Karena itu, kami mengembangkan produk-produk gift yang lebih kecil dan simpel, yang terlihat manis sebagai hadiah. Kami mulai menyasar pasar yang selama ini kami abaikan, terutama pasar corporate. Ketika pandemi kami sadar, yang uangnya tidak terganggu adalah corporate. Kami membuat surat penawaran pengadaan gift di banyak corporate,” kata Eni.
Sampai saat ini, hal itu menjadi salah satu solusi yang menyelamatkan Wastraloka dari pandemi. Bahkan, terjadi peningkatan omzet dibandingkan dengan sebelum masa pendemi.

Yuria Ekalitani, Founder Bosteak (Cilacap)
Gara-gara omset restoran steak miliknya turun sampai 90% namun tidak mau mengambil opsi untuk PHK karyawan yang semuanya perempuan, Yuria berinovasi menjual daging steak beku bermarinasi. Menggunakan daging lokal, ia yakin jika diolah dengan teknologi baik, maka teksturnya tidak kalah dari daging steak asal luar negeri. Terlebih, ia menggunakan beragam rempah khas Indonesia, sehingga menghasilkan cita rasa yang khas dan enak.
“Kami nggak ingin inovasi nanggung. Kami ingin ‘membosteak-kan’ Nusantara. Jadi kami urus sertifikasi lengkap, menjamin keamanan dan kehalalan produk, sehingga produk kami bisa masuk ke retail modern,” kata Yuria.
Menyasar segmen pasar menengah ke atas, masuk ke retail modern memang menjadi target Yuria. Hal ini bisa dilakukannya berkat kolaborasi dengan beberapa distributor, yang perkenalan awalnya terjadi setelah ia memanfaatkan kanal digital dengan baik, seperti media sosial facebook dan Instagram. Distributor memasukkan produk Bosteak ke retail modern, sehingga Yuria merasa ia tidak jalan sendiri.
Karena itu, ia merasa kanal digital adalah sarana yang bisa membuka peluang seluas-luasnya, sehingga perlu dimaksimalkan. “Dulu kami pakai akun pribadi saya, namun sekarang sudah dengan akun bisnis, yang memiliki lebih banyak lagi sarana untuk mendukung usaha agar dikenal lebih luas,” jelas Yuria, yang memanfaatkan iklan berbayar sesuai kebutuhan dan grup-grup komunitas untuk memperkenalkan produk.
Selain media sosial, ia juga memanfaatkan kanal e-commerce. “Semua kanal harus diaktifkan. Dan, justru di masa pandemi ini, omzet kami naik 5 kali lipat, karena kerja keras tim yang tidak pernah menyerah dan memgaktifkan semua channel. Jadi, misalnya, e-commerce jangan sampai mati suri. Meski tidak ada orang beli di situ, paling tidak produk kami muncul di situ. Hari ini nggak mau beli, tapi suatu ketika dia akan beli,” tutur Yuria.
Seiring berjalannya waktu, ia terus melakukan evaluasi dan perbaikan-perbaikan, seperti kualitas produk lebih ditingkatkan dan kemasan diperbaiki. Ia mengaku, lewat Scale Up Wanwir femina, ia belajar bahwa kemasan haruslah baik dan menarik, agar konsumen tertarik membeli.
“Saat ini, produk kami sedang didampingi Kemendag supaya bisa diekspor. Tidak hanya bikin daging steak bermarinasi, kami membuat bumbu marinasi untuk diekspor,” kata Yuria.
Untuk dapat menembus pasar luar, Yuria mengatakan salah satu kuncinya adalah harus bisa membangun ekosistem bisnis yang bagus. “Kami tidak bisa berjuang sendiri. Butuh kolaborasi, jejaring dengan pengusaha lain, pemerintah, asosiasi-asosiasi UMKM, universitas, hingga ikut ajang kompetisi, yang menjadi salah satu jalan untuk mengenalkan produk,” kata Yuria. (f)
Saksikan tayangan lengkap Indonesia Womenpreneurs Converence 2022, klik tautan berikut https://fb.watch/bYrEf8JcpB/
Penulis: Gracia Danarti
Baca Juga:
Ekonomi Inklusif, Strategi Untuk Bangkitkan Wirausaha
Gunakan Tagar BuyFromHer, Meta Dukung Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Indonesia
Mendag M. Lutfi: Kolaborasi Ciptakan Langkah Konkret bagi Pertumbuhan Wirausaha Perempuan Indonesia
Topic
#iwc2022, #umkm, #wanitawirausaha, #wanwirfemina, #BuyFromHer, #SheMeansBusiness, #bisnis


