Tips
Sejarah Panjang Kebaya Sebagai Busana Penanda Identitas

26 Apr 2017



Foto: Dok. Femina
 
Masuknya bangsa asing ke Nusantara melalui hubungan dagang diyakini memberi kontribusi besar terhadap lahirnya kebaya. Karena, sulit untuk memastikan satu atau dua daerah di Indonesia yang memperkenalkan busana tersebut untuk pertama kali. Namun, jika melihat posisi strategis Indonesia di jalur perdagangan Asia hingga Timur Tengah, besar kemungkinan bandar dagang terkemuka masa lalu menjadi pintu masuk gagasan kebaya atau baju kurung, lalu melebur dan beradaptasi dengan budaya setempat dalam kurun waktu yang lama.
 
Ada banyak teori yang menjelaskan juga memperdebatkan sejarah kebaya. Ada yang menyebutkan kebaya berasal dari budaya Tiongkok, kemudian menyebar ke Semenanjung Malaka, Jawa, Bali, hingga Sulawesi. Ada pula yang mengatakan bahwa kebaya diperkenalkan ketika Indonesia menjalin hubungan dagang dengan Timur Tengah pada abad ke-12. Teori tersebut dipertegas dengan sumber yang menyatakan bahwa kebaya berasal dari bahasa Arab, yaitu habaya atau abaya yang berarti pakaian labuh berbelahan depan. Yang paling menarik, ada pula yang berpendapat bahwa kebaya dibawa oleh bangsa Portugis ke Malaka, 80 tahun sebelum kedatangan Belanda di Nusantara. Kebaya tersebut bermaterial renda serta brocade (brokat) yang kental dengan pengaruh Barat.

Sebenarnya, ada berbagai jenis kebaya yang terus-menerus mengalami perkembangan dalam kurun waktu ratusan tahun. Perkembangan kebaya ditandai dengan proses asimilasi budaya setempat. Di daerah yang menjadi sentra penyiaran agama Islam, kebaya hadir dengan siluet longgar dan panjang. Sementara di daerah lain, kebaya tampil dengan potongan pas badan mengikuti lekuk tubuh. Begitu juga panjang dan pendeknya. Meski demikian, semua blus yang disebut kebaya tersebut memiliki ciri khas sama, yaitu bukaan di depan dengan panjang bervariasi (mulai dari sebatas pinggul hingga paha) dan bersiluet sederhana.

Baca juga:
Kebaya Tampak Muda dan Gaya
11 Model Kebaya Kutubaru yang Membuat Anda terlihat Feminin dan Anggun

Pada era pemerintahan Presiden Soekarno, kebaya ditetapkan sebagai busana nasional untuk wanita. Kebaya pun menjadi busana yang lazim digunakan dalam acara-acara resmi kenegaraan dan menjadi busana resmi wanita dalam masyarakat umum. Ibu negara Fatmawati Soekarno, maupun istri-istri Soekarno yang lain, seperti Hartini dan Dewi Soekarno, juga berkebaya. Demikian pula tokoh-tokoh wanita pada masa itu, baik tokoh pemerintahan maupun profesional.

Tradisi ini berlanjut di era pemerintahan Presiden Suharto. Penampilan ibu negara Tien Suharto begitu terkenal dengan kebaya kutubaru dan sampiran selendang kecil di pundak yang dipadankan dengan batik tulis berkualitas prima. Tampak anggun dan elegan. Ibu negara Iriana Jokowi tampak fleksibel dalam berbusana. Namun, kita sering melihat beliau berkebaya kutubaru, kebaya kartini (kebaya klasik tanpa bef), atau berbaju kurung yang dipadankan dengan batik maupun wastra Indonesia lainnya. (f)
 


Topic

#Kebaya, #KebayaKutubaru

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.